"globalisasi preman" akhirnya sampai ke balaraja via aksi liar marinir amerika?
----------------------------------------------------
Serangan Marinir Amerika di Balaraja
http://www.gatra.com/artikel.php?id=107572
Dengan kawalan sedikitnya 75 "anak buah", mungkin Sersan Marinir Josh Straub
merasa dirinya sedang memimpin tiga peleton prajurit alias satu kompi. Dus, dia
seperti berpangkat kapten. Boleh jadi, ia juga membayangkan dirinya tengah
berada di Baghdad, Kabul, atau Mogadishu (Somalia) dalam rangka operasi
perebutan sebuah pos strategis.
Karena yakin unggul dalam hal kekuatan personel, bintara dari korps Marinir
Amerika Serikat itu tidak perlu merancang operasi yang senyap. Yang penting ada
unsur pendadakan, untuk membuat lawan tidak sempat melakukan perlawanan atau
memanggil bala bantuan. Maka, ketika sasaran sudah di depan mata, yakni pabrik
garmen PT Natural Selaras II di Kawasan Olex Industrial Plant, Balaraja,
Tangerang, serangan terbuka dilakukan Senin dini hari pekan lalu.
Sambil berteriak-teriak, massa sebanyak tiga peleton itu --semuanya orang
kita-- segera menyerbu ke dalam pabrik pembuat baju renang itu, setelah gembok
pintu gerbang putus digunting. Sersan Josh Straub dan ketiga teman kulit
putihnya, Scott Saura, Michael J. Keenely, dan Bouzan Timothy, memberi komando,
meski tak jelas dipahami atau tidak oleh para "milisi" itu.
Yang pasti, "kompi" Josh Straub itu dengan cepat menguasai lingkungan pabrik.
Sembilan buruh yang menjaga pabrik awalnya mencoba menghadang. Namun, karena
sadar kekuatan tak seimbang, mereka lari tunggang langgang. Nahas, seorang di
antara mereka, Emen, tak cepat bergerak. Ia babak belur menjadi bulan-bulanan
pasukan Josh Straub. Mereka kemudian memasuki ruangan pabrik setelah menjebol
pintu-pintu dengan linggis.
Rupanya operasi itu bertujuan membongkar dan mengangkut paksa aset pabrik,
berupa puluhan mesin jahit serta baju-baju renang yang sudah dipak dan siap
diekspor. Aksi mereka terhenti ketika polisi datang. Ternyata buruh yang kabur
melaporkan penyerangan itu. Para penyerang, termasuk Josh Straub, tidak
berkutik. Pada saat itu pula, "kompi" Straub digelandang ramai-ramai ke Polres
Tangerang.
Keempat orang kulit putih itu, semuanya warga negara Amerika, ditahan di
Lembaga Pemasyarakatan Pemuda, Tangerang. "Dalam pekan ini, berkasnya kami
limpahkan ke kejaksaan," kata Ajun Komisaris Polisi (AKP) Ade Ary Syam Indradi,
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tangerang. Straub dan ketiga rekannya
telah pula dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan, perusakan,
dan perbuatan tidak menyenangkan. "Ancamannya sampai lima tahun penjara," kata
Ade Ary pula.
Di antara empat orang kulit putih itu, Scott Saura telah dikenal oleh para
pekerja PT Natural Selaras. "Kami kenalnya Scott karena dia sering berada di
perusahaan ini," kata Eko Budiarto, Ketua Serikat Buruh PT Natural. Menurut
Eko, Scott adalah kepanjangan tangan Manhattan Beachwear, perusahaan pakaian
renang di Los Angeles, Amerika. Manhattan adalah mitra Natural Selaras. "Scott
diserahi tugas mengambil paksa aset pabrik," kata Eko pula. Kekacauan itu
adalah babak lanjutan tutupnya pabrik garmen itu sejak Mei, setelah sebelumnya
usahanya dibelit sejumlah masalah.
Salah satu kasus yang menimpa Natural adalah ketika petugas Bea dan Cukai
Bandara Soekarno-Hatta menggagalkan penyelundupan 11 kontainer berisi bahan
baku tekstil, Mei silam. Setelah diusut, ternyata tekstil senilai Rp 7 milyar
itu akan diselundupkan ke pabrik produsen bahan pelapis pakaian. Bahan baku itu
dikeluarkan atas ama PT Natural.
Akibat kasus itu, sejak Mei, Natural berhenti berproduksi. Tentu ini membuat
Manhattan, mitranya, kelabakan. Manhattan berusaha mengambil kembali mesin
jahitnya dan beberapa pakaian renang yang sudah jadi. "Untuk menyelamatkan aset
agar tidak disita, mereka menyuruh beberapa warga Amerika mengambilnya langsung
ke pabrik," kata sumber Gatra di Mapolres Tangerang.
Scott mendapat tugas itu. Untuk memuluskan pengambilalihan aset, ia mengajak
tiga rekannya. Merasa kurang kuat, mereka juga mengupah sejumlah pemuda,
sebagian di antaranya dikenal sebagai preman kampung, untuk melancarkan aksi
jarah itu. "Scott pernah mengerahkan penyerbuan di pabrik lain milik PT Natural
Selaras," Eko menjelaskan. Para penyerbu itu dibayar Rp 25.000 per orang per
operasi.
Rupanya, bagi Scott, pengambilan paksa aset pabrik adalah target yang harus
dicapai. Maka, terjadilah serangan di pagi buta itu. Massa upahan merangsek
masuk dengan memotong gembok pagar, memecahkan jendela, merusak peralatan
pabrik, dan menjarah isinya. "Seperti kerusuhan saja. Kami kewalahan. Mereka
mengancam membakar pabrik," kata Emen, korban penganiayaan.
Setelah puas merusak peralatan pabrik, mereka juga menjarah 66 mesin jahit
dan beberapa pakaian renang yang tersimpan di dalam dus. "Katanya, itu milik
perusahaan warga Amerika itu. Jadi, kami disuruh ambil bawa ke luar pabrik,"
kata seorang warga yang ikut menyerbu ketika diperiksa polisi.
Aksi massa dapat dikuasai polisi setelah Suraji, seorang penjaga yang kabur,
melapor ke Polres. Massa ditangkapi satu per satu, digiring ke Mapolres. Polres
Tangerang juga menetapkan warga penyerang sebagai tersangka. Satu per satu
mereka ditanyai secara maraton ihwal keterlibatannya.
Ketika giliran Josh Straub diperiksa, pengakuannya menyentak pihak
kepolisian. Straub mengaku bahwa dirinya anggota kesatuan Marinir Amerika
berpangkat sersan. Kepada polisi, Straub mengaku diajak Scott ikut menyerang
pabrik. "Pengakuan Josh Straub dari kesatuan Angkatan Laut Amerika Serikat,"
kata AKP Ade Ary.
Mendapat tangkapan mengejutkan, polisi menghubungi Kedutaan Besar (Kedubes)
Amerika. Juru bicara Kedubes Amerika, Susan Stahl, mengakui bahwa keempat orang
itu warga Amerika. Josh Straub adalah pekerja temporer di kedutaan. Dia datang
ke Jakarta sejak Juni lalu. Anggota Marinir itu bekerja sebagai petugas
keamanan Kedubes Amerika di Jakarta.
Tidak hanya mengamankan kedutaan, rupanya Straub juga menerima order lain.
Dia mendapat pesanan dari Scott untuk membantu menyita barang yang dikuasai
Natural. Belum diketahui motif lain dalam penyerbuan itu.
Guna memperjelas kasus penjarahan itu, polisi akan memanggil Elizabeth
Nurwahyuni, pemilik perusahaan, untuk diperiksa. "Kami masih mencari pemilik
perusahaan agar mau menjelaskan masalahnya," kata Ade Ary. Namun, terlepas dari
kasus sengketa bisnis, polisi tetap mengusut perkara penyerangan itu. Apalagi,
satu warga negara Indonesia jadi korban penganiayaan. Dan penyerangan ini bukan
yang pertama.
Sebelumnya, pada Juli lalu, 600 orang menyatroni pabrik Natural. Tapi
penyerangan ini dapat digagalkan kepolisian setempat. Beberapa hari kemudian,
tepatnya 31 Juli silam, PT Natural Selaras I yang lokasi pabriknya di Kawasan
Industri Cikupa, Tangerang, dibakar tujuh orang tak dikenal, sekitar pukul
03.00.
Tidak jelas siapa penyulut si jago merah itu. Mereka memakai penutup kepala
ala ninja. "Mereka masuk dengan melompat pintu," kata Kholid, koordinator
keamanan Natural. Sebelum membakar, mereka menyandera sembilan karyawan dengan
todongan senjata api. "Kami hanya pasrah ketika itu," tutur Kholid, yang juga
jadi korban penodongan itu.
Kebakaran itu menghanguskan pabrik. Kerugiannya mencapai Rp 25 milyar. Selain
membakar pabrik, kawanan "ninja" begundal itu juga menggondol dompet dan
telepon genggam milik karyawan. Kasus ini sempat ditangani Polres Tangerang.
"Kami masih menyelidiki lebih dalam apakah kasus pembakaran sebelumnya terkait
dengan kejadian penyerangan," kata Ade Ary. Jangan-jangan, Josh Straub sempat
jadi ninja pula.
Rohmat Haryadi dan Anthony
[Nasional, Gatra Nomor 43 Beredar Kamis 6 September 2007]
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games.