kompas Senin, 10 September 200 Bandara Frans Kaisiepo dari Masa ke Masa
Aryo Wisanggeni Genthong Terik matahari terasa menyengat, tetapi lima muda-mudi tetap berusaha memasang senyum terbaik saat lensa kamera yang bersiap mengabadikan pose mereka di bibir lereng terjal Bukit Pintu Angin. Mereka tengah melepaskan diri dari penatnya kompetisi Pesta Paduan Suara Gerejawi tingkat Provinsi Papua dan Papua Barat 2007 yang kali ini digelar di Biak. Pintu Angin menjadi tempat terbaik untuk melepas ketegangan. Selain bisa duduk menikmati semilir angin di bawah kerindangan pohon sebuah taman kecil di puncak bukit itu, mereka juga memiliki tempat terbaik untuk mengabadikan keberadaan mereka di Biak. Di selatan bukit itu terhampar pemandangan Bandar Udara (Bandara) Frans Kaisiepo, bandara terbesar di Papua yang terletak di Pulau Biak, yang berpadu dengan siluet Pulau Yapen dan birunya langit Biak yang elok. Di kota yang hanya memiliki puluhan ruas jalan itu, keberadaan sebuah landasan pacu sepanjang 3.570 meter dan lebar 40 meter memang begitu menonjol. Sejarah perkembangan kota Biak menyatu dengan sejarah pendirian Bandara Frans Kaisiepo. Bandara yang akan menjadi tonggak baru penguasaan teknologi peluncuran satelit oleh Indonesia itu didirikan Jepang pada tahun 1943. Posisi Pulau Biak yang dekat dengan Samudra Pasifik membuat pulau karang tersebut penting bagi Jepang dalam memenuhi ambisinya saat itu untuk mengobarkan perang di Pasifik. "Saat itu, Jepang membangun lapangan terbang dan sejumlah fasilitas militer lainnya. Lapangan terbang dibangun di tepi Pantai Ambroben, di wilayah adat Swapodibo. Tentara Jepang membangun bandara tanpa meminta izin kepada enam marga pemilik tanah ulayat Swapodibo, yaitu Rumaropen, Wakum, Ronsumre, Rumbiak, Simopieref, dan Yarangga," kata Mananuir Yan Pieter Yarangga, tokoh wilayah adat Swapodibo. Penyerbuan pasukan Sekutu di bawah pimpinan Letnan Jenderal L Eichelburger pada 15-27 Juni 1944 akhirnya berhasil mengusir Jepang dari Biak. Sekutu menjadikan lapangan terbang Ambroben sebagai salah satu pangkalan terbang terpenting untuk memenangkan perang di Pasifik. Selama masa perang itu, lapangan terbang tersebut menjadi pangkalan Royal Australian Air Force. Sekutu membangun lapangan terbang baru di wilayah adat Sorido dan Burokum. Tiga kampung di Sorido, yaitu Kampung Kinmom, Bariasba, dan Sasuf, digusur tentara Sekutu. Ketika perang berakhir, Belanda mengambil alih semua fasilitas militer di Ambroben. "Untuk kepentingan penerbangan, awalnya, Belanda hanya menggunakan lapangan terbang Burokup, yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari lapangan terbang di Desa Ambroben. Baru sekitar tahun 1947 Belanda menggunakan kembali lapangan terbang di Ambroben. Sejak itu, lapangan terbang Ambroben dikenal sebagai Mokmer," kata Asisten Manajer Personalia dan Umum Bandara Frans Kaisiepo Andy Bakker. Menurut Andy, pada tahun 1952 Bureau Luchtvaart Irian Barat mulai menyiapkan fasilitas lapangan terbang Mokmer untuk keperluan penerbangan komersial. Dokumen foto yang dikumpulkan Andy menunjukkan pada tahun 1958 sebuah hotel megah telah berdiri di depan lapangan terbang Mokmer, yaitu Hotel KLM, yang sekarang berganti nama menjadi Hotel Irian. Belanda menyelesaikan pembangunan lapangan terbang Mokmer pada tahun 1959. Sejak saat itu, Mokmer memiliki landasan pacu sepanjang 3.570 meter dengan lebar 45 meter. "Landasan pacu itu terdiri dari dua runway yang tersambung jadi satu, yaitu runway 11 di sebelah barat dan runway 29 di sebelah timur. Sejak saat itu, Mokmer sudah bisa didarati pesawat DC-8. Tahun 1960 sudah ada pesawat Boing milik PanAm yang mendarat di Mokmer. Saat itu, sudah terdapat rute penerbangan Biak-Tokyo-Belanda," kata Andy. Pada November 1962, Belanda mengalihkan lapangan terbang Mokmer kepada United Nation Temporary Executive Administration, badan yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mempersiapkan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Papua. Pasca-Pepera 1969, Indonesia mengambil alih lapangan terbang Mokmer. Pada 9 Mei 1984, nama pelabuhan udara Mokmer diganti menjadi pelabuhan udara Frans Kaisiepo," kata Andy. Kaisiepo adalah salah satu tokoh integrasi Papua ke Indonesia. Kaisiepo-lah yang mengusulkan nama "Irian" untuk menyebut Papua. Karena orang Papua memiliki pengalaman batin yang pahit selama rezim Soeharto berkuasa, mereka melawan segala dekonstruksi Indonesia atas Papua, termasuk dengan kembali menyebut diri sebagai "orang Papua". Pada tahun 1990-an, Bandara Frans Kaisiepo terus memainkan fungsi penting sebagai bandara internasional. Pada masa itu, terdapat rute penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles dan rute penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Seattle. Rute itu terpaksa ditutup pada 1998, saat krisis moneter menghancurkan perekonomian Indonesia. Sejak saat itu, berakhirlah peranan Bandara Frans Kaisiepo sebagai bandara internasional. Jika tidak ada aral melintang, mulai 2010 Bandara Frans Kaisiepo akan memiliki fasilitas air launch system (ALS), fasilitas peluncuran satelit dengan roket peluncur yang diterbangkan pesawat Antonov An-124 100AL. Pembangunan fasilitas itu akan dimulai tahun ini juga. General Manager Bandara Frans Kaisiepo PT Angkasa Pura I Purwanto mengakui banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. "Saat ini, pagar landasan berlubang di sana-sini, sampai ada 144 lubang, sehingga masyarakat sering melintasi landasan pacu. Namun kami jamin, hal itu tidak akan terjadi lagi saat pembangunan ALS dimulai," kata Purwanto. Namun, pekerjaan rumah Purwanto bukan hanya "menambal" 144 lubang pagar bandara. "Untuk bisa didarati Antonov An-124 100AL, berarti fasilitas Fire and Rescue harus dinaikkan dari kategori VII ke kategori IX. Itu berarti jumlah mobil pemadam kebakaran harus ditambah. Jumlah personel juga harus ditambah dari 20 orang menjadi 82 orang," kata Purwanto. Tidak hanya itu, ketinggian menara kontrol bandara pun harus ditambah. "Saat ini, posisi petugas menara kontrol berada pada ketinggian 18 meter, sementara pesawat Antonov tingginya mencapai 20,6 meter. Itu berarti jika pesawat ini mendarat, pandangan petugas menara terhalang badan pesawat. Ini juga harus dipikirkan," ujar Purwanto. Purwanto menjelaskan, jika fasilitas Bandara Frans Kaisiepo sudah memenuhi syarat melayani pesawat sekelas Antonov An-124 100AL, itu berarti Frans Kaisiepo berpeluang untuk menjadi bandara kargo internasional. "Pesawat itu merupakan salah satu pesawat terbesar di dunia. Jadi, jika fasilitas bandara kami memenuhi syarat untuk didarati Antonov An-124 100AL, berarti kami bisa menarik minat banyak perusahaan kargo tingkat internasional. Kami bisa menjadi bagian lintas kargo internasional dari Singapura menuju Los Angeles, Amerika Serikat," kata Purwanto.
