SUARA PEMBARUAN DAILY, 7 September 2007  
---------------------------------
    Geostrategi dari Globalisasi     Daoed Joesoef   stilah "strategi" ditempa 
dari kata-kata Yunani, yaitu stratêgos dan stratos (tentara) serta agein 
(menjalankan). Walaupun strategi lahir di kancah peperangan, ia kini tidak bisa 
direduksi menjadi sekadar kiat berperang. Ia telanjur menjadi populer karena 
dikaitkan dengan setiap kegiatan yang berkisar pada suatu tujuan dan cara/jalan 
pencapaiannya atau, lebih sederhana lagi, setiap usaha yang membidik sebuah 
sasaran. Maka kata "strategi" menjadi sinonim dengan planning, programming, 
management, rational decisions, method, cara penggunaan, dan lain-lain.   Namun 
pengertian-pengertian yang aneka ragam itu tidak mengkhianati hakikat awal 
istilah strategi. Peperangan bukanlah suatu kerja kolektif biasa. Ia melibatkan 
banyak unsur masyarakat dan berisiko besar, termasuk nyawa manusia. Maka ia 
harus dipikirkan dan disiapkan masak-masak lebih dahulu.   Karena itu ia 
berwujud berupa keseluruhan keputusan kondisional yang
 menetapkan tindakan-tindakan yang harus dijalankan guna menghadapi setiap 
keadaan yang mungkin terjadi di masa depan. Artinya, ia berupa rencana "alpha" 
guna menghadapi kejadian "A", rencana "beta" untuk menanggulangi peristiwa "B", 
dan lain-lain. Sejalan dengan ini ada aneka strategi: strategi ekonomi, 
strategi pertanian, dan lain-lain.   Jadi "strategi" keseluruhan operasi 
intelektual dan fisik yang diniscayakan untuk menanggapi, menyiapkan, dan 
mengendalikan setiap kegiatan kolektif di tengah-tengah konflik. Mengingat 
konflik yang diprakirakan terjadi itu melibatkan aneka macam kekuatan, strategi 
cepat terkait dengan politik, yang secara esensial berurusan dengan kekuatan 
dalam kiatnya mengendalikan pemerintahan masyarakat manusia, merespons aspirasi 
fundamental dari suatu kolektivitas, yaitu sekuriti dan kemakmuran. Berhubung 
konflik yang diprakirakan terjadi di muka bumi, lalu strategi dibuat "membumi", 
menjadi "geostrategi". Amat wajar bila terjalin hubungan idiil
 dan kerja antara geostrategi dan geopolitik.   Napoleon menegaskan, "politik 
dari negara-negara melekat dengan geografi mereka." Menurut Bismarck, "yang 
tidak pernah berubah dalam politik negara-negara adalah geografi." Sedangkan 
Spykman menyimpulkan, "para diktator berlalu, namun gunung-gunung selalu berada 
di tempatnya yang sama."   Maka hubungan antara geostrategi dan geopolitik 
bagai lepat dengan daun. Sama-sama punya makna substansial sendiri, namun bila 
digabungkan menghasilkan nilai total yang jauh lebih besar daripada jumlah 
nilai individual masing-masing. Di samping itu peralihan dari politik ke 
strategi merupakan peralihan dari "kata" ke "perbuatan". Politik menyatakan 
tujuan-tujuan, menggambarkan lawan. Berdasarkan data itu strategi 
memformulasikan sasaran, menetapkan agen- agen demi pencapaiannya dalam ruang 
dan waktu.   Ketahanan Nasional   Pemerintah dahulu pernah memiliki 
"angan-angan strategis". Ia disebut "ketahanan nasional" atau national 
resilience,
 bersendikan ide-ide utopis yang mengambang. Walaupun sekarang jarang sekali 
dikumandangkan, ia bisa difungsikan kembali dengan syarat dibuat "membumi".   
Bila demikian ia dapat dipaparkan berupa rumus algebrais yang berlaku bagi 
negara mana pun, yang variabelnya dapat dikuantifikasi guna diketahui derajat 
ketahanan negara yang dicerminkannya dan dengan begitu bisa dibandingkan satu 
sama lain. Rumus tersebut, K=(U+N+E+M)x(t+c+s).   K, adalah ketahanan nasional. 
U, unsur masif, hasil gabungan (bobot) wilayah dan penduduk. N, sistem 
nasional, tata kerja dan tata cara negara demi mencapai suatu tujuan, yang 
mencerminkan derajat kemampuannya, kematangannya dalam berorganisasi. E, 
kemampuan ekonomi. M, kemampuan militer.   Selanjutnya t adalah tekad nasional, 
dalam dirinya merupakan aspek mental dari pembentukan negara-bangsa. Koefisien 
c mewakili kecerdasan penduduk, mencerminkan tingkat penguasaan iptek. 
Sedangkan s, strategi nasional, unsur esensial dari pemikiran human,
 lahir dari kesadaran untuk menghadapi bencana mental-biologis, baik yang 
datang dari alam maupun yang berasal dari manusia. Jadi, demi memenangkan 
konflik kepentingan dan hasrat perdamaian serta keseimbangan, di berbagai 
bidang kehidupan, termasuk ide keterkaitan antara deployed military means dan 
doktrin penggunaannya.   Bobot faktor-faktor substantif (U,N,E,M), dapat 
dinyatakan dengan angka indeks antara 0 dan 100. Angka 0 berarti sama sekali 
tidak berkemampuan, angka 100 berkemampuan relatif sempurna. Untuk ketiga 
koefisien perlipatgandaan, (t,c,s), angka indeks bergerak antara 0 dan 1. Angka 
0 mencerminkan bangsa yang terpecah-belah, tidak mengetahui apa pun dan tanpa 
strategi. Sedangkan angka 1 menggambarkan bangsa yang teguh bersatu-padu, luar 
biasa cerdas dan berstrategi holistis yang up-to-date.   Berarti bila setiap 
faktor substantif adalah prima, masing-masing bernilai 100, derajat 
ketahanannya masih bisa ditingkatkan tiga kali lipat bila aspek mental dari
 pembentukan bangsa t dan kualitas manusia c serta s turut diperhitungkan, dan 
diumpamakan sempurna, maka K=400x3=1200. Sebaliknya bila negara-bangsa 
terus-menerus ribut dilanda konflik intern, sangat terbelakang, dan diliputi 
kebingungan strategis, nilai dari (t+c+s) dapat menjadi 0. Bila demikian betapa 
pun maksimumnya nilai (U+N+E+M), nilai tersebut menjadi nihil sama sekali 
karena 400x0=0.     Singapura   Gambaran momentum dari derajat ketahanan 
Singapura adalah kira-kira K=(20+90+90+40)x (0,4+0,9+0,7). Nilai dari U relatif 
rendah karena kodrat alaminya. Namun hal itu sangat terangkat oleh nilai c yang 
cukup tinggi berkat pendidikan yang terarah dan konsisten. Nilai c yang tinggi 
ini mendongkrak pula nilai N dan E. Nilai N yang tinggi dimungkinkan pula oleh 
jumlah penduduknya yang relatif sedikit hingga memudahkan penanganan 
masalahnya. Sebaliknya justru nilai M dari ketahanan nasionalnya cukup rendah. 
Ia tidak punya hinterland sebagai basis pengunduran diri bila
 terjadi peperangan. Peralatan militernya memang relatif memadai dan modern, 
tetapi manusianya tidak punya pengalaman tempur sejati, lagi pula kurang 
kesempatan berlatih. Maka kalau kita menyetujui perjanjian pertahanan persis 
menurut kehendaknya, kitalah yang bakal "berjasa" membesarkan kemampuan riil 
negara pulau itu.   Kelemahan Singapura yang lain terkait pada nilai t karena 
mentalitas penduduknya yang serba pragmatis-individualistis; kenasionalannya 
rapuh karena akar humannya yang tradisional secara artifisial diganti dengan 
pragmatis-materialisme. Nilai s cukup tinggi karena ia dihantui aneka ancaman 
imajiner. Ia merasa dirinya bagai negara Israel di Asia Tenggara.   Derajat 
ketahanan Indonesia jauh dari meyakinkan, mengingat 
K=(40+60+50+70)x(0,8+0,6+0,7). Nilai riil U sangat jauh di bawah nilai 
potensialnya. Jelas betapa suatu negeri bisa saja bernilai intrinsik tinggi, 
yaitu cukup kaya, tanpa mampu menjadi kuat.   Hal pahit itu tercermin pula pada 
nilai rendah dari
 faktor E. Kekayaan riil sesuatu negeri adalah fungsi dari produktivitasnya dan 
nilai komersial produksinya berkat pelibatan iptek. Untuk Indonesia masih ada 
sebab lain lagi, yaitu keengganan pemimpinnya mengakui keunggulan 
entrepreneurship sekelompok warganya yang dianggap "tidak asli".   Nilai U dan 
E yang rendah semakin diperkuat nilai c yang juga rendah karena pelaksanaan 
pendidikan yang amburadul. Kenaikan kuantitas manusianya tidak diimbangi 
kenaikan kualitas. Maka yang mendorong kita waswas berkepanjangan adalah 
kenyataan bahwa pemanfaatan alam kita yang tidak terkendali.   Nilai N jauh di 
bawah Singapura. Alih-alih menyehatkan birokrasi pemerintahan, reformasi 
politik malah meratakan penyebaran korupsi dan penurunan disiplin nasional.     
Kekeliruan Visi   Yang juga cukup mendebarkan adalah nilai M yang kurang 
mencukupi. Ini, harus diakui, akibat keliru pikir strategis dari petinggi 
militer sendiri. Mereka selama ini mengabaikan kekuatan alami yang kita miliki,
 yaitu lautan. Kekuatan politik suatu negara dan ketahanan nasionalnya 
bergantung pada pemanfaatan sumber-sumber sendiri yang ia dapat dan bisa 
gunakan serta pada produk yang ia peroleh dari situ, jadi pada nilai intrinsik 
dan kekayaan yang dimilikinya.   Kekeliruan visi strategis itu terlihat pada 
nilai s yang tidak menjanjikan. Yang agak menghibur adalah nilai t yang cukup 
lumayan, namun harus dijaga jangan sampai menurun. Ini adalah tugas parpol 
terhadap kader-kadernya, jangan sampai engagement tidak dengan sendirinya 
bermuara pada commitment.   Filosof politik Prancis, Alexis de Tocqueville, 
setelah melihat sendiri kedinamikan demokrasi Amerika, berujar "A democratic 
power is never likely to perish for lack of strength or of its resources, but 
it may very well fall because of the misdirection of its strength and the abuse 
of its resources." Dan telaah geostrategis dan geopolitis sangat membantu 
memahami kebenaran ujaran tersebut. Peningkatan derajat K kita bergantung
 seluruhnya pada kita sendiri. Bukan pada Singapura.     Penulis adalah 
pengamat geostrategi
   
  www.asiabersama.com/kerabat45 

       
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.

Kirim email ke