Bagi yang tak sempat nonton Konser Trio Jazz Indra Lesmana,Pra Budidarma,Gilang 
Ramadhan Jumat 7 September 2007 di Gedung Kesenian Jakarta,berikut tulisan saya 
seperti yang dimuat koran Tempo Selasa 11 September 2007 di halaman C3
  (Jika tak berkenan,harap delete saja ....!)
   
  JAZZ (BERDIALEK ) INDONESIA 
  Oleh Denny Sakrie
   
  Jari jemari Indra Lesmana secara perlahan menggerayangi tuts grand piano 
Yamaha.Lamat-lamat gaung piano merembes,berbaur dengan geraman bass slendro 
Prasaja Budidarma yang dikawal sebuah ritme yang mengingatkan kita pada 
gandrung Banyuwangi yang tercerabut dari musik tradisional Jawa Timur .Ritme 
pun semakin kuat membahana,namun secara tak sadar trio ini malah merengsek ke 
pola ritme western.Terciumlah anasir modal jazz  yang merupakan ruh dari genre 
hard bop maupun post bop.Itulah komposisi yang ditulis Indra Lesmana bertajuk 
“Kayon” sekaligus merupakan judul album bernuansa etno jazz yang dirilis 
Demajors Records. 
  Entah untuk yang keberapa kalinya,musik jazz bersanding dengan pesona musik 
etnik.Penampilan trio Indra Lesmana (piano,melodica),Prasaja Budidarma (bass 
slendro) dan Gilang Ramadhan (perkusi) pada jumat malam 7 September 2007 di 
Gedung Kesenian Jakarta tampaknya melakukan hal yang sama seperti yang 
dilakukan Tony Scott & Indonesian All Stars pada tahun 1967 lewat album 
“Djanger Bali” (MPS,1967) dan konser jazz di Berlin Jerman. 
  Kebetulan,trio ini tampil pula dalam acara “Asia Pacific 2007” pada tanggal 
13 September 2007 di Berlin atas undangan dari “House of World Culture”. 
  Menurut Indra Lesmana,tema yang ditentukan penyelenggara adalah pengaruh Be 
Bop atau Hard Bop dalam aura musik di sekitar Asia Pasifik. 
  Persenyawaan antara bop dan musik etnik Indonesia akhirnya menjadi pilihan 
trio yang sebetulnya telah terbentuk di sekitar tahun 1986. 
  Dalam konser yang menyuguhkan 8 komposisi dari album “Kayon” itu,stigma 
keterpaksaan menyatunya konsep east meets west menjadi lumer disini.
  Mungkin karena ketrampilan ketiga instrumentalis mandraguna ini justeru 
mencuatkan polarisasi aura musik kutub timur dan kutub barat. 
  Jika mencermati perhelatan musik Indra Pra Gilang ini,maka kita akan 
menyingkap siasat mereka dalam memadu musiknya.Walau memendam muatan musik 
etnik,trio ini terlihat tetap hirau pada instrumen Barat seperti piano,bass dan 
drum.Meskipun untuk bass telah dilakukan modifikasi secara slendro.Sementara 
drum kit Gilang Ramadhan dilengkapi ragam perkusi seperti kenong,kecrek dan 
ceng ceng. 
  Instrumentasi Barat memang dihadirkan dengan feel etnik yang kuat.Misalnya 
pada lagu “Mumang”, mereka menyerap pengaruh musik dari ranah Aceh.Gilang 
Ramadhan mengeksplorasi bunyi-bunyian perkusi Aceh yang repetitif.Indra 
terkadang mengimbuh dengan ketukan piano secara single not .
  Jika membandingkan pencapaian yang dilakukan Indonesian All Stars di tahun 
1967 yang terdiri atas Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano),Benny Mustafa 
(drums),Jopi Chen (bas) dan Maryono (saxophone),maka terlihat kemiripan.Saat 
itu Jack Lesmana,ayah Indra,hanya memetik senar gitar dalam nada rendah untuk 
menghasilkan bunyi gong maupun kenong. 
  Indra sendiri menyentuh bagian string piano untuk meniru bunyi kenong ketika 
Gilang Ramadhan tengah memainkan solo drumming. 
  Beruntung ketiga pemusik ini sebelumnya sudah seringkali melakukan 
persenyawaan dengan musik etnik.Gilang Ramadhan bersama kelompoknya Nera banyak 
menjelujur ragam musik Timor hingga Papua.Pra Budi Dharma bersama kelompok 
Krakatau banyak menyerap anasir musik Karawitan Sunda dan Nanggroe Aceh 
Darussalam.Indra Lesmana pernah menyusupkan musik Jegog dari Bali dalam konser 
“Megalitikum Kuantum”  dua tahun silam. 
  Mereka paham betul bagaimana menyelinapkan tema dalam pola ritme yang baur 
itu. 
  Dalam lagu “Pangheurepan” Indra Lesmana meniup melodica dengan struktur 
melodi Sunda menggantikan bunyi seruling. 
  Rentak tifa yang repetitif dihasilkan Gilang Ramadhan melalui perangkat 
drumnya pada lagu “Mademato Kamaki Sawosi”.Sementara dari permainan bass Pra 
terasa unsur funk yang groovy.
  Pada komposisi “Little Jakarta”,Indra Lesmana memainkan ritme piano dengan 
nuansa Gambang Kromong. 
  Nuansa Qasidah dan musik Melayu terendus pada lagu “First Dawn”.Di lagu ini 
Gilang menghadirkan pola ritme rebana yang diikuti gemerincing piano Indra 
Lesmana. 
  Karakteristik musik etnik seperti dari Jawa,Bali,Sumatera dan Papua yang 
bersanding dengan karakter modern jazz memang tak saling 
mengintimidasi.Tepatnya lebih bertumpu pada kredo saling isi.Unsur unsur jazz 
seperti swingin maupun bop tetap menancap kuat.Siasat seperti pergeseran chord 
banyak membantu menampilkan kemasan etno-jazz yang mengalir.Dan rasanya inilah 
yang membedakannya dengan world music.
  Jazz berdialek Indonesia,mungkin inilah jawaban yang tepat jika ada yang 
berupaya menelisik musik seperti apakah yang kali ini diusung Indra Lesmana Pra 
Budidarma Gilang Ramadhan.  
   
  Denny Sakrie,pengamat musik

       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke