---------- Forwarded message ----------
From: irwank
Date: Sep 11, 2007 4:55 PM
Subject: Re: Freeport 40 th lalu

Ironis.. (Rakyat) Indonesia yang kaya raya dari sumber alamnya harus
mengalami
kelangkaan dan mahalnya berbagai barang.. beras, 'minah', 'mireng', dan
bahan
sembako lainnya..

Menjelang Romadlon kali ini, akankah banyak orang yang mengantri 'minah'..
sekedar untuk menyiapkan hidangan sahur dan buka puasa?
Kalau iya, cukup satu kata: KETERLALUAN..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: Amir <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 11, 2007 3:35 PM
Subject: [PAN] Freeport 40 th lalu

Kisah sedih atas kerakusan terhadap bangsa ini..

salam,

-----------------------------
Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969.
"Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya" (oleh Adjat Sudradjat)

Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian
dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian
kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah
berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska sebab mereka mesti melawan
suhu sedingin 0-4 Celsius, kabut, dan hujan. Mereka mendirikan kemah di
pelataran Cartensz Weide. Mereka diterbangkan ke situ dari Timika
menggunakan helikopter selama 40 menit.

Sementara itu, tiga orang kepala suku berhiaskan bulu burung, kalung
merjan, dan tusuk hidung merayap menuju Ertsberg tiga hari tiga malam
bersama bala tentaranya tanpa selembar benangpun melekat di badannya,
tak peduli hawa sedingin es pun. Akhirnya, mereka sampai di perkemahan
para pembor tersebut. Suasana tidak menyenangkan terjadi sebab tidak
ada saling pengertian di antara tim Freeport dan suku setempat, maklum
tidak ada yang saling mengerti bahasa masing2. Orang2 Indonesia di tim
Freeport pun tak mengerti bahasa mereka sebab sebagian besar datang
dari luar Papua.

Keesokan harinya, saat para pekerja bangun tidur, mereka menemukan
perkemahan sudah dipagari tonggak seperti salib digantungi berbagai
bunga dan daun. Di tengah kecemasan itu, untung terpikir untuk memberi
suku-suku Papua itu makanan. Makanan diterima dan suku2 itu pulang.
Keesokan harinya datang lagi, tetapi kali ini untuk membantu tim
mengangkati batu-batu dari Ertsberg. Lalu mereka pulang.

Kedatangan yang berikutnya, suku2 ini membawa seorang anak bernama
Karel didikan misionaris. Anak ini bisa berbahasa Indonesia walaupun
patah-patah. Akhirnya, terungkaplah bahwa keinginan suku2 ini yaitu
mereka minta ganti rugi atas gunung mereka yang telah digali. Tentu saja
suku2 ini tidak tahu bahwa di Jakarta kontrak pertambangan antara
Pemerintah Indonesia dan Freeport telah ditandatangani setahun
sebelumnya, 1966.

Minta ganti rugi ? Dengan serentak, sang superintendent Freeport tanpa
segan-segan memberikan berbilah-bilah parang sebagai ganti Ertsberg.
Ternyata, belasan parang itu diterima dengan sangat sukacita oleh para
anggota suku. Seorang kepala suku lalu menyerahkan sebilah pisau batu
kepada si "pembeli gunung" sebagai hadiah tanda sukacita. Lalu, si
kepala suku menari-nari di depan tim Freeport sambil mengeluarkan
bunyi seperti ribuan burung. Tangannya mencabut bulu cenderawasih di
kepalanya dan mengacungkannya ke depan. Upacara ini diikuti dengan
khidmat oleh seluruh anggota suku. Ketika ditanyakan kepada Karel apa
arti upacara itu, dijawabnya bahwa itu adalah upacara agar Sang Hyang
merelakan gunungnya digali dan sekaligus memberikan berkat kepada
para pembeli gunung itu. Tak lama kemudian para suku pulang.

Dan, kita tahu Ertsberg yang menjulang pun digali habis tidak sampai
20 tahun (Adjat Sudradjat, 1996).

Kirim email ke