Megawati Tak Bisa Hanya Andalkan Kharisma
Jakarta Megawati Soekarnoputri dinilai memiliki kharisma (charisma power)
ayahnya, mendiang Presiden pertama RI Soekarno.
Namun, kharisma tersebut tidak dapat diandalkan untuk mendulang suara pada
pemilu 2009, jika tanpa ada konsesi konkret bagi penyelesaian berbagai masalah
di tingkat bawah. Alasannya, masyarakat Indonesia saat ini cenderung memilih
pemimpin yang memiliki kekuatan pemikiran (rasional power) dalam menyelesaikan
masalah kekinian.
Penilaian tersebut disampaikan sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Paulus
Wirutomo ketika dihubungi SH, Selasa (11/9), menanggapi soal kesediaan Megawati
maju sebagai calon presiden (capres) pada pemilu 2009.
Megawati itu satu fenomena yang terkait dengan keturunan Soekarno. Orang tidak
bisa mengingkari bahwa pancaran Soekarno adalah satu faktor memilih dia. Ini
memang bisa dijadikan satu modal. Cuma dalam teorinya charismatic power itu
tidak bisa diturunkan, kata Paulus.
Kekuatan kharisma saat ini mulai disingkirkan oleh masyarakat Indonesia.
Sebagian besar dari mereka lebih memilih kekuatan rasional dengan dasar
pertimbangan kemampuan memimpin secara rasional.
Ini terbukti pada pemilu 2004 lalu. Saat itu, pilihan rakyat jatuh kepada
pilihan alternatif, yakni Susilo Bambang Yudhoyono ketimbang melanjutkan
mandatnya ke Megawati.
Untuk itu, Paulus menyarankan Megawati dan Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) agar mulai menyodorkan program-program riil untuk memikat
pemilih di luar partainya.
Kritikan yang ditunjukkan pada Yudhoyono dan Jusuf Kalla tanpa dibarengi dengan
program konkret untuk rakyat kelas bawah yang merupakan sebagian besar pemilih
justru akan merugikan Mega sendiri.
Selain itu, pemilihan presiden (pilpres) saat ini dilakukan secara langsung.
Koalisi antarpartai besar belum tentu efektif untuk meraih dukungan, karena
pemilih lebih melihat calon yang diajukan.
Rakyat kita pemaaf. Kalau mau merayu sekarang harus bersifat konkret. Megawati
perlu hati-hati dalam mengkritik, apalagi kalau oleh pemerintah kritikannya
tidak ditanggapi. Itu bisa bahaya buat dirinya. Kalau mau kritik jangan
serangan ke individu.
Rakyat sangat sensitif dan berpikir SBY dikuyo-kuyo. Jadi lebih baik progam
yang sifatnya ekonomi, katanya.
Masih Pagi
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Mubarok mengatakan pencalonan
Mega sebagai presiden pada pemilu 2009 dinilai masih terlalu pagi. Keputusan
tersebut justru akan memunculkan peluang bagi para pihak untuk menunjukkan
faktor-faktor negatif Mega saat menjadi Presiden pada periode 20012004 lalu.
Meski demikian, Partai Demokrat hingga kini belum membahas masalah pencalonan
presiden untuk 2009. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini lebih
memfokuskan diri pada penyelesaian berbagai permasalahan bangsa. SBY tidak
pernah mau bicara 2009. Beliau hanya mengatakan bahwa kita hanya menjalankan
tugas hingga 2009. Kalau tidak layak dipilih, jangan dicalonkan lagi, katanya.
Ditanya soal kritikan atas kebijakan YudhoyonoKalla, dia mengatakan PDIP dan
Megawati sebaiknya bercermin. Kesulitan yang terjadi saat ini merupakan
peninggalan dari kekuasaan masa lalu. Menjual Indosat itu apakah bukan sangat
menghilangkan martabat bangsa? ujarnya.
Persetujuan Mega untuk dicalonkan dalam pilpres tahun 2009 tersebut
diungkapkannya dalam penutupan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang
berakhir pukul 20.05 WIB, Senin (10/9). Dengan mengucapkan
Bismilahiramanirahim, saya menerima pencalonan diri saya sebagai presiden dari
PDIP untuk maju dalam pemilihan presiden mendatang, kata Megawati. Pernyataan
tersebut langsung disambut dengan tepuk tangan dan sorakan sekitar 16.400
peserta Rakornas.
Setelah menyatakan kesediaannya, Megawati meminta kepada seluruh kader PDI
Perjuangan se-Tanah Air untuk bekerja keras memenangkan pilpres 2009.
Menurutnya, kemenangan PDIP pada tahun 2009 adalah kemenangan rakyat Indonesia
dan menjadi tanggung jawab kader PDIP di seluruh Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Sekjen PDIP Pramono Anung mengatakan pasangan Megawati
apada Pilpres 2009 akan dikaji secepatnya dan rencananya akan dibahas dalam
Rakernas PDIP III pada Maret 2008. PDIP tidak akan lagi melakukan kesalahan
seperti di masa lalu. Kita akan siap berkoalisi dengan siapa pun apakah itu
parpol atau di luar partai politik, katanya. (tutut Hertlina)
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.