http://www.indomedia.com/poskup/2007/09/08/edisi08/opini.htm

Berkat versus Berhala

bagi agama-agama Abrahamis

Oleh Dr. Paul Budi Kleden, SVD *



"ABRAHAM, Berkat Bagi Segala Bangsa." Itulah tema bulan Nasional Kitab Suci 
Gereja Katolik Indonesia tahun 2007. Dengan ini orang-orang Katolik diajak 
untuk merefleksikan hakikat panggilannya di tengah dunia dewasa ini. Seperti 
Abraham, orang-orang Katolik, baik secara pribadi maupun bersama-sama sebagai 
satu persekutuan, diingatkan akan tujuan kehadirannya untuk menjadi berkat bagi 
masyarakat dan dunia. Orang Katolik tidak boleh menghayati imannya sebagai 
kendaraan untuk selamatnya diri sendiri. Sebaliknya, dia mesti sadar akan 
tugasnya di tengah dunia, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Namun, apabila 
disadari bahwa Abraham merupakan tokoh kunci ketiga agama monoteis besar 
dunia(Yahudi, Kristen dan Islam), maka tema ini dapat pula merupakan ajakan 
bagi para pemeluk ketiga agama untuk merefleksikan, bagaimana mereka perlu 
memahami dan menghayati keimanannya agar sungguh menjadi berkat bagi 
bangsa-bangsa.

Kalau kita membaca Kitab Suci Perjanjian Lama (Yahudi-Kristen), maka kita 
menjumpai sosok Abraham sebagai seorang peziarah. Dia dipanggil dari kemapanan 
lingkungannya, dihantar keluar dari pandangan tentang Allah yang hidup di 
tengah kaum sebangsanya. Dia menjumpai bangsa-bangsa yang mempunyai tradisi 
keagamaan lain, bertemu dengan kelompok-kelompok orang yang memiliki budaya 
berbeda. Mereka ini bukanlah orang-orang yang tidak beriman dan warga yang 
tidak berbudaya. 

Namun, yang menjadi soal adalah bahwa kecenderungan penyembahan berhala di 
dalam agama-agama yang dijumpai Abraham. Penyembahan berhala, idolatri adalah 
ancaman bagi kehidupan keagamaan dan perdamaian bangsa-bangsa, dan Abraham 
dipanggil untuk menyatakan penolakannya yang tegas. Oleh kecenderungan ini, 
yang sementara dipaksa menjadi yang kekal, dan yang manusiawi didaulat untuk 
mengenakan mantel keilahian. Kerinduan manusia akan yang abadi hendak dipuaskan 
dengan yang fana, dan kebutuhan manusia akan yang tak berubah mau diredamkan 
dengan yang sementara. Tak ada lagi semangat pencarian, jiwa petualang 
dipandang identik dengan antiagama. 

Dengan penyembahan berhala terjadilah absolutisasi pandangan tentang Allah yang 
dianut dalam lingkungan sendiri. Allah yang benar adalah Allah yang dipahami 
dan dirayakan di dalam tradisi sendiri. Semua orang harus menerima pandangan 
yangtunggal ini. Kalau tidak bersedia ditobatkan, orang akan dihancurkan. Maka, 
orang menyatakan perang dan menghancurkan semua pandangan yang berbeda. Karena 
agama merupakan satu pilar identifikasi diri seseorang dan sekelompok 
masyarakat, maka perang dan penghancuran pandangan dan ritus keagamaannya 
adalah sama dengan perang dan penghancuran dirinya sendiri. Tak sedikit orang 
telah dikorbankan dan tak sedikit kebudayaan sudah dipunahkan karena 
absolutisasi ini.

Akibat lanjut dari penyembahan berhala adalah kemandekan dalam status quo. 
Ketika makhluk atau benda tertentu disembah sebagai ilah, maka apa yang 
dititahkannya tak boleh dibantah, dan apa yang diberikan benda itu merupakan 
segalanya. Sikap yang diharapkan adalah penerimaan mutlak. Fatalisme adalah 
sisi lain dari penyembahan berhala. Tak ada kritik, ada alternatif. Tak ada 
ruang untuk berubah dan mengubah diri.

Dalam sejarah, pandangan seperti ini mudah dimanipulasi secara politis dan 
ekonomis. Kepatuhan terhadap figur tertentu dimanfaatkan untuk melegitimasi 
kekuasaan, dan pemberhalaan benda tertentu dapat menjadi sumber keuntungan 
ekonomis yang besar. Kepasrahan absolut pada penguasa tertentu dan 
ketergantungan mutlak pada kepuasaan yang diberikan benda tertentu merupakan 
konsekuensi dari penyembahan berhala.

Bagaimanapun, penyembahan berhala dan fatalisme selalu membelenggu. Orang 
dikurung dalam pandangannya yang sempit, dan mengurung orang lain dalam 
anggapan sebagai musuh yang harus ditalukkan. Ini bukan situasi keimanan yang 
ideal, dan bukan kondisi hidup bersama yang dikehendaki.

Dari tengah situasi seperti ini Abraham dipanggil Abraham menjadi berkat bagi 
bangsa-bangsa dengan menjadi peziarah.Eksodus, keluar dari kemapanan dan 
mencari Allah dalam berbagai perjumpaan dan siatuasi baru, merupakan pengalaman 
Abraham. Bangsa Israel pun mengalami eksodus, keluar belenggu penjajahan Mesir. 
Di Mesir ada pemberhalaan kekuasaan politis Farao. Israel dibebaskan dan 
dihantar keluar dari situasi ini menuju satu kondisi hidup, di mana umat 
menjadi rakyat yang berdaulat dan mengontrol perilaku para rajanya. Yesus pun 
menghalamni eksodus, Dia melewati pertentangan dan konflik hingga penderitaan 
dan kematian sebagai konsekuensi dari sikap tegasnya menolak segala bentuk 
pemberhalaan.

Sebagaimana dikatakan di depan, penyembahan berhala merupakan ancaman yang 
serius bagi agama-agama, dan bahaya yang besar bagi perdamaian antarbangsa. 
Agama-agama mengingkari Allah, apabila menempatkan sesuatu yang lain sebagai 
Allah. Hal yang paling sering terjadi adalah bahwa agama-agama menempatkan 
dirinya sendiri pada posisi Allah. Allah yang tak terbatas hendak dibatasi 
dalam doktrin-doktrin agama yang terbatas, kasihNya yang merangkul semua hendak 
diatur menurut aturan-aturan agama yang memilah-milah. Ajaran agama yang 
bermaksud menghantar orang ke kedalaman rahasia Allah diabsolutkan, dan ritus 
bersama yang bertujuan menyingkapkan kekayaan Allah, dipandang sebagai 
satu-satunya yang benar. Dualitas dalam agama, yakni perpaduan yang dialektis 
antara yang ilahi dan manusiawi, diingkari dengan menutup terhadap yang 
manusiawi. Agama mengilahikan dirinya sendiri. Bukan mustahil, ketika agama 
menjadikan dirinya setara dengan Allah, dia justru menjadi tidak manusiawi. 
Sebaliknya, dia berwajah angker dan anti kemanusiaan. Dalam kecenderungan 
seperti ini, agama-agamamenjadi arogan. Dalam entusiasme untuk membela 
kedaulatan Allah, tidak jarang terjadi bahwa nilai-nilai luhur dari tradisi 
religius dan pandangan-pandangan yang membebaskan dari pola pikir sekular 
dihancurkan.

Visi dunia yang holistis dan pandangan tentang manusia yang sangat luhur bisa 
punah sebagai akibat absolutisasi diri agama tertentu. Kalau agama-agama hendak 
melibatkan diri dalam pembangunan yang berparadigma budaya, maka penghargaan 
terhadap pluralitas kebudayaan menjadi satu syarat mutlak. Atas dasar 
penghargaan ini, akan lahir kesediaan untuk mencari, menilai dan mengkritisi 
bersama paham dan sikap yang adil, benar dan bertanggung jawab. Tanpa 
keterbukaan dan penghargaan, setiap bentuk penilaian dan kritik hanya akan 
ditanggapi sebagai perendahaan dan mendatangkan resistensi.

Agama-agama Abrahamis memang harus sangat mewaspadai kecenderungan pemberhalaan 
diri sendiri ini. Bukan mustahil, agama-agama Abrahamis tidak menjadi berkat 
bagi bangsa-bangsa, tetapi merupakan sumber konflik yang bermuara pada 
kekerasan, karena sikapnya yang absolutistis. Pandangan sebagai satu-satunya 
agama yang benar dan pemangku tunggal mandat ilahi, membuat agama-agama 
Abrahamis tertutup terhadap pandangan-pandangan alternatif. Spirituliaas 
peziarah perlu ditanamkan agar ada keterbukaan terhadap bentuk-bentuk kehadiran 
Allah dalam tradisi-tradisi lain.

Penyembahan berhala dapat sangat membahayakan perdamaian dunia. Yang sering 
diberhalakan adalah bangsa atau ras sendiri. Untuk mengagung-agungkan ras 
sendiri Hitler telah membangun sebuah rezim politik yang antikemanusiaan. 
Pandangan tentang kebangsaan yang sempit dan rasisme ini menyata pula dalam 
sikap membela bangsa sehabis-habisnya,tanpa sikap kritis. Bangsa dan suku 
menjadi Allah yang tak boleh disentuh dan digugat. Orang tak boleh mencela 
kekurangannya dan membicarakan kepincangan yang terjadi di dalamnya. Right or 
wrong my country adalah ungkapan dari pandangan seperti ini. Bukan mustahil, 
dengan sikap seperti ini orang membiarkan ketidakadilan tetap terjadi, dan 
membenarkan penindasan atas suku lain. Orang memaksakan pikiran dan nilai 
bangsa dan sukunya sendiri menjadi norma yang berlaku untuk semua. Sikap 
seperti ini sangat berbahaya, karena di dalam satu masyarakat yang majemuk dan 
dunia yang plural, hidup bersama hanya dapat ditata apabila ada aturan yang 
diterima bersama. Aturan yang diterima bersama haruslah bersifat rasional, 
artinya dianggap menguntungkan semua kelompok. Tanpa pertimbangan rasional atas 
dasar keuntungan dan kebaikan bersama, hanya akan ada pemaksaan, dan pemaksaan 
biasanya mendatangkan reaksi penolakan.

Bentuk idolatri lain yang mengancam kehidupan bersama adalah pendewaan 
kekuasaan. Orang melihat kekuasaan bukan sebagai sarana untuk menyelenggarakan 
kesejahteraan dalam hidup bersama, melainkan sebagai tujuan dalam dirinya 
sendiri. Merebut kekuasaan adalah segalanya. Maka, untuk merebut kekuasaan 
segalanya dibenarkan, dan setelah merebut kekuasaan orang merasa bisa berbuat 
segalanya. Pertimbangan rasional dan moral tidak lagi diindahkan. Untuk merebut 
kekuasaan, orang menggunakan atribut-atribut religius dan memanfaatkan 
perayaan-perayaan keagamaan. Itu berarti, bagi orang seperti ini Tuhan hanyalah 
sarana yang patut dimanfaatkan untuk mendapat kekuasaan. Tuhan bukanlah tujuan, 
Dia hanyalah sekadar alat untuk melegitimasi kekuasaan. Dengan pandangan 
seperti ini kita akan memilikipemimpin-pemimpin politik yang feodal dan 
absolutistis, yang tidak merasa perlu mempertanggungjawabkan kekuasaannya, 
tidak juga kepada Tuhan, karena Dia hanya salah satu variabel kemenangan. 

Perdamaian antarwarga masyarakat dan antarbangsa pun terancam apabila orang 
terlampau mendewakan uang dan kekayaan. Memiliki uang dan kekayaan dianggap 
membuka peluang bagi orang untuk menjadi apa saja dan melakukan apa saja. Untuk 
memperoleh uang dan kekayaan itu, orang memeras orang lain, merampas hak para 
warga dan meminggirkan bangsa lain ke jurang kehancuran. Tidak jarang pula 
terjadi, penumpukan kekayaan yang diperoleh secara tidak adil dan halal pun 
disyukuri sebagai anugerah Tuhan.

Di tengah kondisi seperti ini, para penganut agama-agama Abrahamis dipanggil 
untuk menjadi berkat. Itu berarti, mereka perlu menyikapi secara tegas 
kencederungan pemberhalaan di dalam diri mereka sendiri, di dalam sikap politis 
dan sistem ekonomi yang sedang dibangun. Menjadi berkat bagi bangsa-bangsa 
dalam dunia seperti ini berarti mengingatkan manusia akan saling menghancurkan 
apabila mereka memaksa dunia menjadi Surga dan manusia menjadi Allah. 

Menarik bahwa ketika orang-orang Katolik menjalani bulan Kitab Suci Nasional 
dengan tema seperti di atas, umat Kristen Protestan di Kupang merayakan 
peluncuran terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Kupang. Ini merupakan sebuah 
peristiwa penting penuh makna. Dengan ini umat Protestan di Kupang mengalami 
sentuhan Sabda Allah dalam bahasa yang sangat mereka kenal dan akrabi. Namun, 
dengan kedatanganNya ke dalam bahasa yang kita kenal dan akrabi, Tuhan tidak 
tenggelam dalam dunia dan membiarkan kita juga hanyut dalamsituasi kita. 
KedatanganNya melalui cara yang sangat manusiawi dan bahasa yang sangat akrab, 
pada akhirnya bertujuan membawa kita keluar, membuat kita sanggup menghambil 
jarak dari diri dan situasi kita agar mampu melihat peluang untuk mengubah diri 
dan membuat transformasi masyarakat. 

Pada bulan yang sama ini juga, saudara-saudari kita yang beragama Islam akan 
membuat ibadah puasa. Ibadah puasa mengingatkan manusia ketergantungan yang 
mutlak dari pihak manusia pada Allah. Manusia mengalami kelaparan batiniah dan 
kehausan spiritual, yang hanya dapat dipuaskan oleh dan di dalam Allah. Maka 
ibadah puasa adalah penolakan yang radikal terhadap segala macam berhala yang 
hendak mengalihkan perhatian manusia dari Allah. 

Ketiga peristiwa penting ini, bulan Kitab Suci Nasional bagi umat Katolik, 
peluncuran terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Kupang bagi umat Kristen 
Protestan dan pembukaan Bulan Puasa bagi umat Islam adalah saat dan undangan 
yang tepat untuk kembali merefleksikan peran umat beragama bagi dunia. Untuk 
itu, Abraham dapat menjadi tokoh yang memberikan inspirasi. Abraham dipanggil 
tidak hanya untuk menjadi berkat bagi dirinya dan keluarganya sendiri, 
melainkan bagi bangsa-bangsa. Umat beragama tidak menerima berkat untuk dirinya 
sendiri. Mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, dengan menghayati secara 
sungguh penolakan terhadap kecenderungan pemberhalaan yang mengancam perdamaian 
hidup bersama.*

Kirim email ke