Turut berduka cita untuk Oom Ahmad Fahmy, pemilik Tanamur (Tanah Abang Timur). 
Saya mengenalnya sudah cukup lama, kerap ketemu sore hingga malam hari di Clark 
Hatch Hilton Jakarta (kini bernama Life Spa).

Orangnya cukup ramah. Saya dan teman-teman juga pernah menyambanginya di 
Tanamur - tentu saja setelah larut malam. Awalnya saya tak tahu kalau Ibu Ratna 
Sarumpaet adalah istrinya.


  

  ----- Original Message ----- 
  From: Yap Hong Gie 
  To: Post X-PPI-Eropa77-87 ; Post PPIIndia ; Post Nasional ; Post Mediacare 
  Sent: Wednesday, September 12, 2007 2:08 AM
  Subject: [mediacare] Selamat Jalan Fahmy ...


  Jum'at malam saya mendapat SMS bahwa, Ahmad Fahmy dalam keadaan koma di RS 
  Pertamina, setelah mengalami massive stroke di Lombok.

  Malam Minggu Fahmy telah tiada, meninggalkan banyak sahabat, dengan berbagai 
  kenangan di masa lalu.

  Teringat beberapa hari setelah pernikahan (1988), ketika saya dengan istri 
  membuka tumpukan hadiah, ada sebuah membuka amplop besar yang menyimpan 
  lukisan crayon.
  Gambar pemandangan sebuah villa ditepi pantai dengan pohon kelapa, dilukis 
  dan ditulis oleh seorang anak, dengan pesan yang berbunyi: Papa Fahmi 
  mengundang kita menginap di Villa mereka, di Anyer.

  Hadiah yang begitu simpel, sangat originil, dan begitu indah dan 
  mengesankan.

  Itulah reflexi dari Ahmad Fahmy, seorang sahabat yang low-profile, sangat 
  ramah, dengan tingkat pergaulan yang luas tanpa memandang latar belakang, 
  jabatan, kaya atau miskin; semua adalah teman Fahmy.

  Selamat jalan sahabat, saya yakin Anda mendapat tempat terbaik disisi Tuhan 
  YME.

  Wassalam, yhg.
  ----------------

  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/29/utama/xcin01.htm

  Minggu, 29 September 2002
  Cintaku di Tanamur...
  kompas/agus susanto

  Didirikan tahun 1970, November nanti dia akan genap berusia 32 tahun. 
  Sementara rezim yang tumbuh bersamanya tumbang, Tanamur seperti 
  anggur-menjadi "vintage" seiring perjalanan usia. Inilah salah satu potret 
  perjalanan dunia hiburan di Indonesia.

  "Yang datang banyak, lho. Saya sendiri tidak menduga, waktu itu ada belasan 
  pasangan yang datang, yang menyatakan menemukan jodohnya di sini," ucap 
  Ahmad Fahmy (60), pemilik Tanamur, mengenai acara bertajuk "I found my love 
  in Tanamur" tadi.

  Pasti cukup banyak orang, kenangan hidupnya tersangkut di Tanamur. "Itu dulu 
  sekolahku...," seloroh Tutie Kirana, yang meramaikan dunia layar perak 
  Indonesia utamanya di tahun 1970/ 1980-an. Waktu itu Tutie masih tinggal di 
  bilangan Roxy, tak seberapa jauh dari Tanamur. "Saya tiap hari lewat situ, 
  kadang mampir sehabis shooting," katanya.

  Sedangkan Roy Marten, bintang yang masih bertahan sampai sekarang, mengenai 
  Tanamur berujar, "Dahsyat. Di situ kumpul semua kelas, dari kelas pariah 
  sampai yang lain-lainnya. Aku ke Jakarta tahun 1973, dulu yang ada hanya 
  Tanamur dan Mini Disco. Sekarang semua berkembang, tapi Tanamur tak 
  tergoyahkan oleh semua isu. Ramai terus." Dengan ber-seloroh Roy bilang, 
  "Aku malah curiga Fahmy kerja sama dengan dokter paru-paru. Setelah dari 
  situ, orang pengap oleh asap rokok, harus ke dokter paru-paru, he-he-he...."

  URUSAN individu, urusan sehari-hari, dalam studi mengenai gaya hidup toh ada 
  yang menganggap punya signifikansi, taruhlah seperti diteorikan Anthony 
  Giddens, bagaimana gaya hidup (lifestyles) menata sesuatu menjadi suatu 
  kesatuan, menjadi sebuah pola yang kurang-lebih punya keteraturan. Gaya 
  hidup itu sendiri adalah praktek hidup sehari-hari (dari individu-individu) 
  yang dirutinkan, dan rutin tadi disatukan (biasanya oleh bisnis) menjadi 
  kebiasaan berpakaian, makan, cara melewatkan waktu luang, dan lain-lain. 
  Studi-studi paska-modernisme banyak sekali mengamati proses reproduksi 
  sosial seperti itu.

  Malam Minggu awal September lalu Tanamur ramai. Baik bagian luar maupun 
  dalam belum selesai proses renovasinya. "Ini masih 30 persen," ucap Ahmad 
  Fahmy, atau biasa dipanggil Fahmy begitu saja. Orang tampaknya tak terlalu 
  peduli. Cewek-cewek berpakaian ketat, sendiri-sendiri ataupun berombongan, 
  hilir mudik. Dari orang-orang pribumi sampai asing, tampil dengan gaya 
  masing-masing, termasuk beberapa pria yang tampak "kemayu". "Saya tetap 
  ingin mempertahankan ciri awal Tanamur. Di sini serba minimalis, fokusnya 
  adalah manusia itu sendiri," ucap Fahmy, di sela-sela dentuman house music 
  dan orang yang bergoyang di sana-sini, tidak hanya di lantai dansa.

  Tanamur sebetulnya juga bisa dilihat dalam proses konsumsi berikut 
  evolusinya, termasuk sampai terbentuknya "masyarakat konsumsi" (consumer 
  society) di Indonesia pada tingkat seperti sekarang. Semua ini pasti juga 
  tak bisa mengabaikan fase akhir 1960-an dan tahun 1970-an-saat lahirnya 
  Tanamur-yang menjadi fase penting dalam perubahan sosial di Indonesia.

  "Saya dirikan Tanamur 12 November 1970. Waktu itu diskotek masih hal baru. 
  Yang ada kebanyakan waktu itu night club," kata Fahmy. Night club atau klub 
  malam yang populer waktu itu taruhlah Tropicana dan LCC.

  Begitu belum populernya sebutan disco, discotheque, sampai ketika Fahmy 
  datang ke kantor DKI untuk meminta izin, pejabat yang menangani perizinan, 
  orang yang kebetulan sudah dikenalnya, menanyakan apa itu disko.

  "Disko itu apa?" tanya si pejabat. "Ooh, jadi dikasih pelat begitu?" ucapnya 
  ketika diterangkan secara teknis bahwa di situ akan diputar musik dengan 
  pelat atau piringan hitam. "Orang akan datang?" tanyanya lagi, masih bingung 
  apakah orang akan mendatangi tempat hiburan semacam itu. Si pejabat rupanya 
  menaruh iba kepada Fahmy. "Kalau mau band, nanti saya kasih..." cerita Fahmy 
  mengenangkan sambil tertawa.

  Diceritakan oleh Fahmy, usahanya berkembang perlahan demi perlahan, meski 
  diakuinya sejak semula tidak pernah merugi. Pada mulanya, sering sekali 
  hanya segelintir orang yang datang. Fahmy mengingat langganan-langganan 
  setianya, terutama orang asing dari kedutaan seperti Kedutaan Besar Amerika. 
  Katanya, "Pernah suatu malam sepi sekali, tidak ada orang, hanya saya 
  sendiri dan tamu itu. Dia tidak pergi, menemani saya, mungkin kasihan pada 
  saya."

  Begitulah proses terbentuknya suatu pola-dalam hal ini pola hiburan waktu 
  senggang-yang terkonstruksi dari rutinitas tadi. Nama-nama tenar mulai 
  menyambangi tempat ini, sampai kemudian Tanamur menjadi tempat yang tidak 
  asing bagi mereka yang mengikuti irama kehidupan gemerlap metropolitan. 
  Sampai sekarang pun, ketika dunia hiburan menjadi fenomena penting ekonomi 
  dunia dan di Jakarta bermunculan kafe dan restoran baru, Tanamur tetap 
  bertahan. Seorang teman yang tinggal di Paris, setiap kali pulang ke 
  Jakarta, ingin merasakan tempat-tempat hiburan malam yang baru di Jakarta, 
  setelah berpindah dari satu kafe ke kafe, ujungnya akan kembali ke Tanamur. 
  "Ke Tanamur saja, bebas," ujarnya.

  ***
  KOINSIDENSI sejarah tentu ikut melahirkan Tanamur, dimana setelah politik 
  kebudayaan zaman Soekarno yang menolak yang serba Barat, masuklah Indonesia 
  dalam era yang disebut sebagai Orde Baru berikut berhembusnya "angin dari 
  Barat". Sementara kemudian rezim yang tumbuh bersamanya tumbang karena gagal 
  mengikuti tabiat kapitalisme yang terus berkembang sampai ke "kapitalisme 
  lanjut" seperti sekarang, Tanamur sebaliknya mampu merevitalisasi 
  diri-mungkin karena dia persis di detak jantung "kapitalisme lanjut" ini, 
  yakni bisnis hiburan.

  "Saya lihat, dalam diri pengunjung selalu ada revival. Artinya, mereka yang 
  pernah ke sini, kembali lagi setelah tiga-empat tahun kemudian," kata Fahmy.

  Dunia hiburan yang digerakkan oleh ekonomi kapitalis, kini sampai ke tingkat 
  yang menurut Benjamin Barber disebut secara "kebudayaan telah matang" 
  (culturally ripe). Coca Cola dan jeans bukan hanya simbol konsumsi bagi 
  mereka yang menyukainya, tetapi juga simbol kebebasan individual.

  Dengan itulah sebenarnya dunia konsumsi terus membentuk masyarakatnya. Salah 
  satu acara di Tanamur adalah foam party atau "pesta busa". Lewat tengah 
  malam, sebuah botol bir raksasa memuntahkan busanya ke tengah lantai dansa, 
  mengguyur pengunjung. Manipulasi semangat kebebasan di zaman dimana semua 
  hal mengalami proses komodifikasi inilah yang barangkali membikin Tanamur 
  terus bertahan, dan kemudian beberapa orang datang lagi, termasuk untuk 
  mengenang cinta yang didapat di situ... (BRE)



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.14/999 - Release Date: 10/09/2007 
17:43

Kirim email ke