Republika, Minggu, 9 September 2007

[SELISIK]


Berakhlak atau Beragama
-----------------------
---Anwar Holid


Boleh jadi Jalaluddin Rakhmat dan Arvan Pradiansyah belum pernah 
tampil berhadap-hadapan, tapi lewat buku masing-masing mereka 
ternyata bisa berbagi topik serupa. Secara kebetulan buku tersebut 
terbit berdekatan menjelang bulan Ramadhan. Dua penulis ini jelas 
berbeda karakter. Yang pertama dikenal luas sebagai cendekiawan 
Muslim cum pakar komunikasi; yang kedua dikenal sebagai pembicara 
publik dan fasilitator pengembangan SDM. Persamaannya mereka berdua 
pandai berkomunikasi dan sukses menulis buku-buku yang mempengaruhi 
massa karena terbukti bestseller.

Topik yang mereka bagi bersama itu ialah keprihatinan menyaksikan 
fenomena orang beragama ternyata banyak juga yang berwatak buruk. 
Jalaluddin mengangkat semangat topik ini dalam buku yang ia juduli 
Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih (Mizan, 2007). Sementara dalam 
Cherish Every Moment (Elexmedia, 2007) Arvan mengusung topik itu 
sebagai bab yang menantang: "Orang Beragama atau Orang Baik?" 

Topik ini terasa klise namun setiap kali dibahas selalu menimbulkan 
kontroversi, terlebih-lebih bila mengingat kita merupakan bangsa 
dengan jumlah warga negara beragama terbesar di dunia. Di negara 
yang dipenuhi orang beragama ini alangkah janggal justru terjadi 
tindakan pelanggaran HAM, ketidakadilan, kerusuhan massal, 
penindasan struktural, kemiskinan moral, maupun tindakan-tindakan 
antikemanusiaan. Apa arti hukum agama bila gagal mencegah pemeluknya 
dari perbuatan yang merugikan sesama manusia? Ada banyak kasus 
membuktikan orang beragama ternyata jahat dan tega merendah-
rendahkan atau menyerang orang lain dengan membabi buta. Menurut 
Jalaluddin, itu terjadi karena orang lebih mendahulukan fiqih (tata 
cara hukum) daripada akhlak; sedangkan menurut Arvan salah satu 
sebabnya karena orang gagal memahami esensi agama. Orang seperti itu 
mudah mengatasnamakan keyakinan agama atau dogma, padahal dirinya 
sama sekali tak tercelup oleh inti ajaran agama tersebut. Orang 
seperti itu jadi fanatik; toleransinya pada pihak lain nol. Mereka 
mengutamakan hukum di atas segala-galanya sampai rela menyerang 
pihak lain yang berbeda. Mereka menganggap kesalehan itu diukur dari 
kesetiaan terhadap fiqih. Menurut Arvan, kenapa orang beragama gagal 
jadi orang baik karena orang tersebut menganggap agama merupakan 
seperangkat peraturan yang membatasi, mengikat, menyusahkan, hitam-
putih. Di atas berbagai kepentingan, Nabi Muhammad 
menyatakan: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak." 
Hadis riwayat Al-Thabrani menyatakan: sesungguhnya seorang hamba 
mencapai derajat tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia 
karena akhlaknya yang baik, walaupun ia lemah beribadah.

Bukan semata-mata menjelang Ramadhan maka kedua buku tersebut lantas 
jadi menarik untuk diperbincangkan; keduanya mengingatkan kita tanpa 
akhlak yang baik terhadap sesama manusia dan alam, kehidupan 
beragama jadi sejenis omong kosong tentang Tuhan. Robert T. Pirsig 
di buku legendarisnya, Zen and the Art of Motorcycle Maintenance, 
menyatakan: Orang bisa secara fanatik membaktikan hidupnya pada 
politik atau keyakinan agama atau segala bentuk dogma maupun tujuan 
lain karena dogma atau tujuan tersebut meragukan.

Tentu penulis dari dua generasi berbeda cukup jauh ini juga bukan 
hendak mengampanyekan pendapat bahwa beragama itu sia-sia atau 
mengikuti fiqih itu nihil; melainkan para pemeluk agama harus 
mencamkan dalam dirinya ada sesuatu yang lebih luhur daripada 
sekadar formalitas atau rutinitas agama. Karena senantiasa 
menjanjikan hal yang paling luhur, paling mulia, agama mendidik 
pemeluknya menemukan hakikat ajaran. Jalaluddin menyarankan agar 
kaum Muslim mengubah cara pandang dari berparadigma fiqih lama-
kelamaan jadi berparadigma akhlak. Sedangkan Arvan dengan ungkapan 
lain membidik maksud serupa, yaitu agar orang menemukan esensi 
agama, yaitu "kasih." Mengasihi orang lain merupakan kunci agar 
orang lain bisa dikatakan telah beriman (Cherish, hal. 149). 
Jalaluddin menarik banyak ibadah ujung-ujungnya merupakan latihan 
membentuk akhlak, baik shalat, puasa, zakat, dan haji. Shalat sudah 
jelas mestinya dapat mencegah kekejian dan kemungkaran. Puasa 
merupakan latihan agar orang bertakwa; orang bertakwa ialah orang 
yang menginfakkan harta dalam suka dan duka, mampu menahan amarah, 
memaafkan orang lain, dan berbuat baik.

Menarik membaca dua pendapat saling menguatkan tentang pentingnya 
berakhlak baik dan berlomba-lomba memberi manfaat bagi kehidupan. 
Orang pertama secara eksplisit memanfaatkan teks-teks khazanah 
Islam, orang kedua lebih implisit menggunakan pendekatan berdasar 
prinsip spiritualitas-universal, demi menjalani hidup agar indah 
setiap saat. Manfaatnya sama: bila konsisten dipraktikkan, kedua 
cara itu mampu mengubah orang jadi tahu betapa berharga kehidupan 
dan ia akan menjaga agar kehadirannya penuh makna. Arvan 
mengampanyekan agar setiap saat orang bisa sama-sama menghargai 
semua momen dalam kehidupan. Ini merupakan ajakan ambisius, apalagi 
bila mengingat betapa orang dikejar-kejar waktu, mengalami peristiwa 
buruk, dan kerap menjalani sesuatu secara terpaksa. Kuncinya orang 
harus menghargai dan menemukan sendiri keindahan dalam kehidupan 
tersebut. Jalaluddin menyebut empat ciri utama orang yang 
menganut 'paradigma akhlak', yaitu (1) ia mengakui adanya kebenaran 
jamak (multiple reality); (2) ia bisa ikhlas meninggalkan fiqih demi 
persaudaraan; (3) melihat ikhtilaf sebagai peluang untuk memberikan 
kemudahan menjalankan agama; (4) mengukur kemuliaan seseorang dari 
akhlaknya (DahulukanÂ…, hal. 62).

Mumpung Ramadhan, pertama-tama saya mengajak diri sendiri, mari 
menghargai waktu yang persis kita miliki sekarang dan memenuhinya 
dengan kemuliaan.[]

NB: Awalnya kolom ini berjudul 'Berbagi Topik Serupa.' Karena 
pertimbangan biar lebih tegas dan sesuai maksud, saya ubah jadi 
seperti di atas.

Kirim email ke