Maaf, semoga menjadi pencerahan. Kemarin, di hari
pertama puasa, tatkala mengendara mobil di jalan raya
Pasar Minggu, saya melihat dua orang berboncengan
dengan topi putih khas Muslim. Keduanya, mungkin
menuju tempat buka puasa di satu tempat, dan terpaksa
ikut berlambat-lambat pada suasana jalanan yang macet.
Namanya macet, maka setiap obyek yang menarik hati
akan menjadi perhatian kita. Biasa, untuk
menghilangkan stress. Gadis-gadis, bilamana ada
menumpang di mikrolet, akan kita cari-lihat, sekadar
melihat apakah teman sekantor atau siapa, atau lebih
penting lagi: sekadar cuci-matalah. Nah, kembali
kepada motor yang dkendarai oleh dua orang pria
berpakaian putih-putih dan bertopi putih itu. Setelah
saya amati, Itu lho, nomornya polisinya tidak ada!
Semakin naiknya gejala menggunakan atribut keagamaan
dalam kepemerintahan kita, bukan tidak mungkin
membuat polisi ragu-ragu menangkap si pengendara
sepeda motor itu.
Saya coba mencermati, benar kok: Tidak ada!. Iya,
ampun, mestinya jika sudah niat memberi citra sebagai
penganut agama yang saleh, mbok iya sebelum bertolak
agar dengan perlahan memeriksa semua kelengkapan
motor. Bukanlah kepatutan mememenuhi kelengkapan
kendaraan adalah bagian kesalehan? Mosok nomor polisi
saja lupa dipasang?.
Saya yakin bahwa hal demikian tidak dianjurkan oleh
siapa-siapa yang mengutamakan kebaikan. Terlebih lagi
mengingat bangsa kita ini adalah bangsa yang plural,
maka seringkali timbul tanda-tanya apakah hal ini
bagian dari kampanye tokoh-tokoh individual agama,
atau karena kecerobohan saja.
Jangan lupa, aksi melawan hukum dengan dalih agama
pernah marak di Amerika, yakni mazhab tertentu yang
menilai agama Kristen hanya untuk kulit-putih.
Ironisnya pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan
seperti pembakaran rumah-rumah orang kulit hitam
cenderung didiamkan saja oleh polisi. Kejadian yang
marak tiga atau empat dekade lalu itu terjadi,
seolah-olah mereka berhak melawan hukum, bahkan
menghakimi orang-orang Negro.
Jadi, bagi saya, sikap agar dapat berakhlak mulia
lebih penting. Mungkin juga lebih penting dari sekadar
pencitraan diri telah atau memenuhi anjuran agama.
Mungkin hal-hal demikian ini perlu terus-menerus kita
pikirkan, sebab gejala pencitraan kepatuhan kepada
agama secara publik bukan lagi semata-mata dilakukan
oleh ummat Muslim saja. Ummat Kristen di Papua kini
semakin terdorong untuk menjalan syariat agama
Kristen, khususnya dalam aktifitas pemerintahan. Jika
di kantor-kantor di Jakarta pengajian sudah biasa,
maka di kantor-kantor Irian Jaya dan Sulawesi Utara,
kebaktian Kristiani sudah dilakukan setengah hari
penuh pada hari tertentu (katanya Rabu?). Bedanya,
dari sudut aksara, ayat suci Al-quran tidak semudah
Alkitab untuk dibaca.
Acara yang sebelumnya jarang terjadi ialah ketika
Gubernur SULUT datang ke Jakarta belum lama ini. Salah
satu bagian dari agenda perjalanan resmi beliau adalah
Kebaktian Kristen Resmi Kegubernuran. Acara ini
diikuti oleh ummat Kristiani asal Sulut di Jakarta.
Saya terusik, karena menurut Weber dan Harold Laski
hal-hal begini tidak perlu ada. Belum lagi sekarang
ini acara-acara agama Kristen di Papua semakin
intensif dan mengarah lebih konrit. Jangan abaikan
bahwa mereka kini meminta agar Papua mengikuti apa
yang dilakukan di Aceh, agar sama-sama menerapkan
syariat agama. Padahal yang saya tahu, negara berbasis
agama tidak lagi dikenal di negara-negara yang
rakyatnya menganut agama Kristen, kecuali di Vatikan.
Bahkan, konon rapat-rapat Majelis Rakyat Papua diawali
dengan ritual agama Kristen, sama dengan yang
dilakukan di Aceh, dengan ritual agama Islam, untuk
semua aktifitas Rapat DRA (juga kerap disebut sebagai
Dewan Rakyat Aceh).
Tentu ada rasionalitas untuk menyetujui hal-hal
demikian ini. Tetapi yang saya tahu dari
prinsip-prinsip Weberian, hal-hal demikian ini tidak
perlu ada.
Jadi, kembali kepada topik di atas, apakah lebih
penting negara mendorong rakyat untuk lebih berakhlak
baik atau lebih beragama dengan baik, sepertinya akan
merupakan issue yang akan menentukan masa depan kita,
khususnya jika menyadari apakah Sabang-Merauke itu
masih eksis secara defakto, bukan dejure, di masa
datang...
I am just cautiously thinking, what will be my beloved
Indonesia in the future. Should I visit Aceh, Papua
and Banten as I use to do in Jakarta right now?
LM
--- Anwar Holid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Republika, Minggu, 9 September 2007
>
> [SELISIK]
>
>
> Berakhlak atau Beragama
> -----------------------
> ---Anwar Holid
>
>
> Boleh jadi Jalaluddin Rakhmat dan Arvan Pradiansyah
> belum pernah
> tampil berhadap-hadapan, tapi lewat buku
> masing-masing mereka
> ternyata bisa berbagi topik serupa. Secara kebetulan
> buku tersebut
> terbit berdekatan menjelang bulan Ramadhan. Dua
> penulis ini jelas
> berbeda karakter. Yang pertama dikenal luas sebagai
> cendekiawan
> Muslim cum pakar komunikasi; yang kedua dikenal
> sebagai pembicara
> publik dan fasilitator pengembangan SDM.
> Persamaannya mereka berdua
> pandai berkomunikasi dan sukses menulis buku-buku
> yang mempengaruhi
> massa karena terbukti bestseller.
>
> Topik yang mereka bagi bersama itu ialah
> keprihatinan menyaksikan
> fenomena orang beragama ternyata banyak juga yang
> berwatak buruk.
> Jalaluddin mengangkat semangat topik ini dalam buku
> yang ia juduli
> Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih (Mizan, 2007).
> Sementara dalam
> Cherish Every Moment (Elexmedia, 2007) Arvan
> mengusung topik itu
> sebagai bab yang menantang: "Orang Beragama atau
> Orang Baik?"
>
> Topik ini terasa klise namun setiap kali dibahas
> selalu menimbulkan
> kontroversi, terlebih-lebih bila mengingat kita
> merupakan bangsa
> dengan jumlah warga negara beragama terbesar di
> dunia. Di negara
> yang dipenuhi orang beragama ini alangkah janggal
> justru terjadi
> tindakan pelanggaran HAM, ketidakadilan, kerusuhan
> massal,
> penindasan struktural, kemiskinan moral, maupun
> tindakan-tindakan
> antikemanusiaan. Apa arti hukum agama bila gagal
> mencegah pemeluknya
> dari perbuatan yang merugikan sesama manusia? Ada
> banyak kasus
> membuktikan orang beragama ternyata jahat dan tega
> merendah-
> rendahkan atau menyerang orang lain dengan membabi
> buta. Menurut
> Jalaluddin, itu terjadi karena orang lebih
> mendahulukan fiqih (tata
> cara hukum) daripada akhlak; sedangkan menurut Arvan
> salah satu
> sebabnya karena orang gagal memahami esensi agama.
> Orang seperti itu
> mudah mengatasnamakan keyakinan agama atau dogma,
> padahal dirinya
> sama sekali tak tercelup oleh inti ajaran agama
> tersebut. Orang
> seperti itu jadi fanatik; toleransinya pada pihak
> lain nol. Mereka
> mengutamakan hukum di atas segala-galanya sampai
> rela menyerang
> pihak lain yang berbeda. Mereka menganggap kesalehan
> itu diukur dari
> kesetiaan terhadap fiqih. Menurut Arvan, kenapa
> orang beragama gagal
> jadi orang baik karena orang tersebut menganggap
> agama merupakan
> seperangkat peraturan yang membatasi, mengikat,
> menyusahkan, hitam-
> putih. Di atas berbagai kepentingan, Nabi Muhammad
> menyatakan: "Sesungguhnya aku diutus untuk
> menyempurnakan akhlak."
> Hadis riwayat Al-Thabrani menyatakan: sesungguhnya
> seorang hamba
> mencapai derajat tinggi di hari akhirat dan
> kedudukan yang mulia
> karena akhlaknya yang baik, walaupun ia lemah
> beribadah.
>
> Bukan semata-mata menjelang Ramadhan maka kedua buku
> tersebut lantas
> jadi menarik untuk diperbincangkan; keduanya
> mengingatkan kita tanpa
> akhlak yang baik terhadap sesama manusia dan alam,
> kehidupan
> beragama jadi sejenis omong kosong tentang Tuhan.
> Robert T. Pirsig
> di buku legendarisnya, Zen and the Art of Motorcycle
> Maintenance,
> menyatakan: Orang bisa secara fanatik membaktikan
> hidupnya pada
> politik atau keyakinan agama atau segala bentuk
> dogma maupun tujuan
> lain karena dogma atau tujuan tersebut meragukan.
>
> Tentu penulis dari dua generasi berbeda cukup jauh
> ini juga bukan
> hendak mengampanyekan pendapat bahwa beragama itu
> sia-sia atau
> mengikuti fiqih itu nihil; melainkan para pemeluk
> agama harus
> mencamkan dalam dirinya ada sesuatu yang lebih luhur
> daripada
> sekadar formalitas atau rutinitas agama. Karena
> senantiasa
> menjanjikan hal yang paling luhur, paling mulia,
> agama mendidik
> pemeluknya menemukan hakikat ajaran. Jalaluddin
> menyarankan agar
> kaum Muslim mengubah cara pandang dari berparadigma
> fiqih lama-
> kelamaan jadi berparadigma akhlak. Sedangkan Arvan
> dengan ungkapan
> lain membidik maksud serupa, yaitu agar orang
> menemukan esensi
> agama, yaitu "kasih." Mengasihi orang lain merupakan
> kunci agar
> orang lain bisa dikatakan telah beriman (Cherish,
> hal. 149).
> Jalaluddin menarik banyak ibadah ujung-ujungnya
> merupakan latihan
> membentuk akhlak, baik shalat, puasa, zakat, dan
> haji. Shalat sudah
> jelas mestinya dapat mencegah kekejian dan
> kemungkaran. Puasa
> merupakan latihan agar orang bertakwa; orang
> bertakwa ialah orang
> yang menginfakkan harta dalam suka dan duka, mampu
> menahan amarah,
> memaafkan orang lain, dan berbuat baik.
>
> Menarik membaca dua pendapat saling menguatkan
> tentang pentingnya
> berakhlak baik dan berlomba-lomba memberi manfaat
> bagi kehidupan.
> Orang pertama secara eksplisit memanfaatkan
> teks-teks khazanah
> Islam, orang kedua lebih implisit menggunakan
> pendekatan berdasar
> prinsip spiritualitas-universal, demi menjalani
> hidup agar indah
> setiap saat. Manfaatnya sama: bila konsisten
> dipraktikkan, kedua
> cara itu mampu mengubah orang jadi tahu betapa
> berharga kehidupan
> dan ia akan menjaga agar kehadirannya penuh makna.
> Arvan
> mengampanyekan agar setiap saat orang bisa sama-sama
> menghargai
> semua momen dalam kehidupan. Ini merupakan ajakan
> ambisius, apalagi
> bila mengingat betapa orang dikejar-kejar waktu,
> mengalami peristiwa
> buruk, dan kerap menjalani sesuatu secara terpaksa.
> Kuncinya orang
> harus menghargai dan menemukan sendiri keindahan
> dalam kehidupan
> tersebut. Jalaluddin menyebut empat ciri utama orang
> yang
> menganut 'paradigma akhlak', yaitu (1) ia mengakui
> adanya kebenaran
> jamak (multiple reality); (2) ia bisa ikhlas
> meninggalkan fiqih demi
> persaudaraan; (3) melihat ikhtilaf sebagai peluang
> untuk memberikan
> kemudahan menjalankan agama; (4) mengukur kemuliaan
> seseorang dari
> akhlaknya (Dahulukan�, hal. 62).
>
> Mumpung Ramadhan, pertama-tama saya mengajak diri
> sendiri, mari
> menghargai waktu yang persis kita miliki sekarang
> dan memenuhinya
> dengan kemuliaan.[]
>
> NB: Awalnya kolom ini berjudul 'Berbagi Topik
> Serupa.' Karena
> pertimbangan biar lebih tegas dan sesuai maksud,
> saya ubah jadi
> seperti di atas.
>
>
____________________________________________________________________________________
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search
that gives answers, not web links.
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC