Lisya Anggraini - Siar (3) : Etalase Ramadan
http://16j42.multiply.com/reviews/
Etalase Ramadan
Oleh: Lisya Anggraini
(Jurnalis, Penulis, Wakil Ketua KPID Kepri)
Marhaban Ya Ramadhan
Alhamdulillah, kita masih diberkahi panjang umur untuk
menjelang Ramadan tahun ini. Bulan untuk mengisi kekurangan-keurangan
ibadah-ibadah yang compang-camping, dan ritme turun naik kebeningan hati,
sekaligus saatnya untuk melabuhkan segala kesah dengan harapan pintu keberkahan
dibukakan lebih-lebih luas lagi, untuk mohon ampunan.
Persiapan Ramadan pun dilangsungkan dimana-mana dalam bentuk macam ragam.
Sekalipun persiapan yang paling inti hanyalah niat untuk memperbaiki ibadah.
Tapi apa lacur, jika kemeriahan penyambutannya justru membungkus yang hakikinya.
Rumah-rumah hiburan ditutup, rumah makan juga dihimbau serupa jika pun tetap
berjualan jangan terlalu menyolok. Namun, kota ini masih lebih tolerir
dibanding Kota Banjarmasin yang lebih saklek. Atas dasar hokum berupa Perda no
4 tahun 2004 tentang Ramadan, menyiapkan sanksi hukuman kurungan tiga bulan
dan hukuman denda maksimun 500 juta bagi yang berani membuka warung di siang
hari!
Sebaliknya kesemarakkan lain tengah disiapkan dan mulai terasa, sekalipun masih
beberapa hari lagi menjelang Ramadan. Lagu-lagu bernuansa religius semakin
berkumandang dari berbagai penjuru dan celah bunyi. Toko-toko pun mulai
berpernak-pernik Ramadan-yang sebenarnya lebih menonjolkan konsumerisme ala
Ramadan. Akibatnya ibu-ibu bakal minta tambahan belanja keluarga, untuk bekal
beli juadah berbuka puasa, yang akan dijual di simpang-simpang jalan. Hari
ini, berapa sudut dan jalan-jalan untuk berjualan juadah sudah dipersiapkan.
Juga iklan-iklan paket menu buka puasa dari restoran berkelas dan hotel
berbintang. Meskipun makna berpuasa kita sangatlah paham dan tahu pula tentang
rasa lapar dan haus. Bukan setelah berlapar-lapar lalu balas dendam.
Lalu, tak cukup sampai di situ, Ramadan pun erat kaitannya dengan fashion. Demi
pemenuhan style religius, sudah diancar-ancar baju muslim, jilbab dan baju
koko. Agar lengkaplah kesan religius.
Layar kaca pun sedemikian gempita menyambut Ramadan dengan segala bentuk
etalasenya. Agenda tayangan Ramadan dipersiapkan. Selain perubahan dan
penambahan jam tayang di beberapa televise dari sahur hingga menjelang sahur
lagi. Para Pencari Tuhan, misalnya, ditayangkan menjelang sahur pukul 2.30 dini
hari oleh SCTV. Tayangan teman menjelang sahur bermuatan serupa plus celoteh
dan banyolan, juga ada di stasiun televise lainnya, berikut embel-embel hadiah
dari interaktif yang dilangsungkan.
Program religius pun sudah menunggu tayang. Mulai dari kuliah atau kotbah dari
para ahli agama. Bekait hal ini tentunya, disyukuri karena tayangan ini bisalah
mendinginkan kegersangan hati. Berisikan petuah Ramadan disampaikan dari para
ahlinya, menjadi santapan ruhani penambah khusuk ibadah. Bagaimana pun sudah
banyak diantara kita terlupa memberikan santapan spiritual untuk rohani.
Juga beberapa opera sabun bernuansa agama. Meksipun hingga kini masih saja
muncul tayangan bermuatan alam metafisika sebagai akibat melawan ajaran agama.
Alam sinetron pun lebih bercirikan bentuk-bentuk perilaku teladan mendapatkan
ujian dan tantangan dari perilaku buruk. Yang ujung-ujungnya sudah bias
diperkirakan, berkat ketabahan dan kesabaran perilaku teladan lah yang akan
jadi pemenang. Dan hampir setiap sinetron Ramadan bermuatan seragam. Misalkan
saja sinetron Soleha yang ditokohi Marshanda yang kini sedang terpuruk oleh
ujian.
Meskipun begitu, masih disyukuri tayangan sinetron bermuatan bimbingan ruhani
tanpa menggurui dan lebih terasa dekat dengan kehidupan keseharian seperti
Kiamat Sudah Dekat dengan tokoh utamanya si Nagabonar Dedy Miswar, Andre
Stinky, dan Zaskia Mecca. Dan aksi banyol Kipli Sakurta Ginting akan
kembali ditayangkan. Yang semoga saja selalu ada sesuatu yang didapatkan dari
sinetron ini, tidak hanya sekedar tontonan.
Sekalipun mulut mesti dikunci dan telinga harus dijauhkan dari hal-hal ini agar
tidak mencederai kekhusukan ibadah. Namun jangan keliru, tayangan yang berbau
isu dan gossip alias gunjingan juga akan tetap muncul dilayar kaca. Dan tidak
berkurang jam siarnya. Hanya saja ada beberapa perubahan jam tayang saja.
Seperti Kasak Kusuk akan ditayangkan menjadi lebih siang ketika Ramadan yakni
pukul, 13.30 Wib.
Para seleberitis akan kembali menjadi sajian yang diuyek-uyek kehidupan
pribadinya untuk menjadi konsumsi public. Misalkan saja, yang masih isu top
seputar perseteruan suami istri, Dhani Dewa dengan Maia. Dan yang teranyar
pernikahan Nova Eliza, yang diembeli-embeli pertanyaan ada apa kok menikah
terburu-buru, rahasia apa dibalik pernikahan ini? Dan pertanyaan tendensius
disampaikan presenter, apakah ada sesuatu di rahim Nova sehingga pernikahan
mesti disegerakan!
Dan tayangan aksi hedonis remaja dan cara pergaulan yang permisif akan
menjadi bagian dari keragaman tayangan televise di Ramadan ini. Atau cerita
anak yang justru tidak mendidik seperti Si Eneng dan Si Entong.
Sekalipun sudah tegas diamanatkan UU Penyiaran, isi siaran di antaranya wajib
mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan
intelektualitas, watak, moral, dan kemajuan bangsa. Toh, apakah tayangan
bermuatan gossip dan gunjingan masih tetap menjadi raja tontonan.
Apakah terlalu besar harapan adanya tayangan tidak hanya bersifat
komersial alias mendapat rating yang tinggi semata? Sekalipun memang ada
tayangan stasiun televise swasta untuk menyambut bulan Ramadhan ini tidak
melulu berTuhankan iklan. Namun, warna ini lebih tereliminir kebanding
dominasi yang bermuatan sebaliknya.
Televisi memang telah terlanjur menjadi etalase yang ampuh untuk menyilaukan
banyak mata yang menontonnya. Sekalipun pula etalase Ramadan pun tidak hanya
bersumber dari televise, dari sekeliling kita terlalu banyak etalase yang
menyilaukan, semoga saja tidak menggerus nilai hakiki ibadah Ramadan yang
sesungguhnya.
Ada risalah yang disampaikan seorang ahli agama: Ketika baru pulang dari perang
terhebat di zaman Rasulullah, yakni Perang Badar, maka nabi yang mulia
memberikan nasihat-nasihatnya. Perang itu berlangsung di bulan Ramadan ketika
nabi dan para sahabatnya tetap menjalankan ibadah puasa. Kita baru saja
kembali dari perang kecil menuju ke perang yang lebih besar. Perang besar itu
adalah menghadapi hawa nafsu, kata Rasulullah saw.
Semoga saja, kita bias berupaya seperti itu. Amin.***
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail