Banyak yang bilang kalau menjual buku ke konsumen ada batas psikologis yang 
harus ditembus, yaitu 3000 eks. Dan "... data penjualan buku-buku di bulan Mei 
2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, 
memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. 
Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku kategori fiksi sebanyak 
974 eksemplar, sementara untuk satu kategori buku nonfiksi tidak lebih dari 453 
eksemplar per judulnya."(Kompas, Sabtu, 18 Juni 2005)
   
  Jangan bandingkan dengan buku-buku yang menuai sukses di luar negeri, sebab 
bisa dipastikan bahwa akan pusing kepala kita memikirkannya. Bagaimana tidak, 
sebuah buku yang terkenal si Harry Potter itu bisa terjual lebih dari satu juta 
copy dalam 24 jam... sementara buku kita.... dapat 3000 dalam satu bulan pun 
sudah bikin syukuran di rumah.
  Inilah kondisi terberat yang dihadapi oleh penulis dalam mengkomunikasikan 
pemasaran bukunya. Bagaimana sebuah buku harus bisa bersaing dengan erat dan 
sikut-sikutan di pasar buku yang sudah penuh dengan para pemain ini.
   
  Apalagi, rasanya ini penting deh untuk direnungkan, jika kita menerbitkan di 
sebuah penerbit yang belum dikenal --dan celakanya nama kita juga nggak ada 
yang kenal .  Brand image sebuah penerbitan sangat mempengaruhi serapan pasar. 
Dan masalah semakin bertambah dengan persaingan di toko buku. Rasanya bukan 
rahasia umum lagi bila toko buku terbesar yang ada di Indonesia dikuasai oleh 
satu brand dan 'celakanya' brand tersebut juga punya banyak unit penerbitan. 
Sehingga wajar dong kalau buku-buku penerbitan sendiri akan mendapatkan promosi 
yang luar biasa di toko buku sendiri.
  Mengharap buku laris di pameran buku juga kurang layak dijadikan patokan. 
Sebab, pameran buku skala nasional tidak banyak. Paling banter tiga setahun; 
Indonesia Book Fair, Islamic Book Fair, Jakarta (dan daerah-daerah lain) Book 
Fair. Dan lagi-lagi dalam pameran itu saingannya bukan lagi hbitungan jari 
tangan dan jari kaki. Semua penerbit seakan-akan tumplek-bleg kayak penumpang 
kerata api jurusan Bogor-Jakarta di pagi hari.
   
  Rumus penting bagi seorang penulis adalah "PENULIS PUNYA TANGGUNGJAWAB 
MELAKUKAN KOMUNIKASI PEMASARAN TERHADAP BUKU YANG DITERBITKAN!"
  Lalu, sebagai penulis, apa yang mesti kita lakukan?
   
  KOMUNITAS. Yup, lakukan komunikasi pemasaran buku yang kita tulis ke 
komunitas yang kita terlibat di dalamnya.
   
  Sebagai makhluk sosial, tentu siapapun tidak bisa hidup sendirian. Perlu 
komunitas agar dirinya -dalam perspektif Mashlow- mendapatkan rasa nyaman, 
mampu mengaktualisasikan dirinya, diakui indentitas dirinya,  terpenuhi 
kebutuhan primer dan sekundernya. So, dalam pengertian mikro ada komunitas 
seperti keluarga, teman sekelas atau kuliah, gank nongkrong di ujung gang, 
temen main buu tangkis, atau kawan ngeronda malam. Sedangkan pengertian makro 
komunitas ada masyarakat, komunitas organisasi kemasyarakatan, komunitas 
sosial, komunitas politik, dan sebagainya.
  Nah, kenapa tidak kita berdayakan komunitas-komunitas tersebut.
   
  Misalnya nih ya, kita tergabung dalam KMSM alias Komunitas Motor Sering Mogok 
yang punya anggota sekitar 10 orang. Apa salahnya, saat buku kita terbit, kita 
tawarkan kepada anggota komunitas tersebut. Masak sih di antara 10 orang itu 
satu pun tidak ada yang beli, apalagi kalau kita adalah ketua gank-nya kan bisa 
tuh menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memaksa semua anggota harus beli. 
  Bagaimana kekuatan komunitas itu juga diakui oleh beberpa penerbit, seperti 
dikutip Kompas, Sabtu, 18 Juni 2005
   
  Pengalaman penerbit KPG pun tidak berbeda. Sebelum sebuah buku terbit, KPG 
biasanya mulai mencari komunitas-komunitas yang diperkirakan akan menjadi pasar 
potensial. Pendekatan komunitas ini salah satunya dilakukan dalam memasarkan 
buku Orang Mandar Orang Laut. Berdasarkan informasi dari penulisnya, KPG 
berusaha untuk mendekati komunitas-komunitas Mandar yang merupakan satu daerah 
di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari pendekatan itu akhirnya ada 
pengusaha dan pemerintah daerah di wilayah itu tertarik untuk membeli buku 
tersebut dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar.
  "Kami berusaha langsung ke komunitas yang berkepentingan. Jadi, apabila 
awalnya hanya akan dicetak 2.000 sesuai dengan daya serap toko buku, dengan 
adanya pasar di luar itu maka buku tersebut akan dicetak lebih dari 2.000 
eksemplar," kata Aris Suwartono, Manajer Pemasaran KPG.
   
  Perencanaan promosi
   
  Jika ditelusuri, berbagai upaya dilakukan penerbit untuk memasarkan buku 
dengan melakukan pendekatan komunitas, iklan, pameran, bedah buku maupun 
kegiatan-kegiatan promosi lainnya yang dipersiapkan sejak awal sebelum buku 
diluncurkan ke pasar. Tak ubahnya komoditas lainnya dalam merebut pasar, 
memasarkan buku juga memerlukan strategi pemasaran dan rencana promosi yang 
matang.
   
  Menurut Anton dari Grup Agromedia, hal yang pertama dilakukan adalah membuat 
segmentasi pasar secara tajam dan menyusun cara untuk bisa menembus pasar 
tersebut. "Setelah itu baru kami atur promosinya. Dibedakan kalau buku serius 
seperti apa, buku populer seperti apa. Jadi, kami harus merancang teknik 
promosi dan penyebaran buku sebelum buku itu diterbitkan," tutur Anton.
   
  Pentingnya menyusun perencanaan promosi dan pemasaran buku dengan matang juga 
diungkap Aris Buntarman. "Orang promosi itu harus punya yang namanya promotion 
plan. Mereka harus tahu materi bukunya seperti apa, siapa pengarangnya, 
bagaimana latar belakang si pengarang, siapa target marketnya, kira-kira luas 
target marketnya berapa?" kata Aris, pemerhati perbukuan yang lama bergelut di 
bidang pemasaran buku.
  Menurut Aris, dari informasi yang dikumpulkan tersebut dibuatlah sebuah 
rencana promosi atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, orang marketing harus 
menjiwai peranan marketing is behaviour dan marketing adalah program. Pimpinan 
di bagian marketing harus mengidentikkan seperti jenderal perang. Ia harus 
mempunyai pasukan komando yang melayani outlet, mempunyai pasukan promosi yang 
menyusun provokasi dan propaganda maupun pasukan yang mendata pasar dan mendata 
alamat-alamat target dengan lengkap. Oleh karena itu, dalam marketing 
diperlukan sebuah team work yang kuat dan kompak, seperti layaknya sebuah 
perang.
   
  Agar kegiatan promosi dan pemasaran bisa mendulang sukses, mau tidak mau 
penerbit harus secara khusus mengalokasikan sebagian dana dan sumber daya 
manusia untuk kegiatan tersebut. Umumnya penerbit menyisihkan 5 hingga 8 persen 
dari ongkos cetak buku untuk kegiatan promosinya. Sementara itu, untuk 
pemasarannya, selain tenaga penjual, penerbit juga mempunyai checker-checker 
yang tiap harinya keliling ke toko-toko buku untuk mengecek ketersediaan 
buku-buku di tempat-tempat tersebut. Bahkan, penerbit seperti Gramedia Pustaka 
Utama (GPU) dan Grup Agromedia saat ini mempunyai tenaga salesman dan sales 
promotion girls (SPG) yang ditempatkan di toko-toko buku. "Tugas SPG kami untuk 
memperkenalkan buku GPU secara detail kepada setiap pengunjung," kata Danang 
Priyadi, Manajer Pemasaran GPU.
   
  Kegiatan-kegiatan promosi memang penting, alokasi dana untuk promosi juga 
penting, ketersediaan infrastruktur pemasaran tak kalah pentingnya, namun dari 
semua itu yang paling penting adalah bagaimana buku itu sendiri bisa menarik 
sebanyak-banyaknya orang untuk membeli. Menurut ahli pemasaran Hermawan 
Kartajaya, hal yang paling penting agar buku itu laku adalah diferensiasi.
   
  "Bagaimana membuat buku kita menjadi berbeda dari yang lainnya, sebab buku 
yang sejenis itu kan banyak. Judul harus menarik, singkat tapi dapat membedakan 
dengan buku sejenis, harus melihat tren buku sekarang, dan juga jangan memaksa 
orang untuk membaca sesuatu yang susah. Kalau ada buku yang susah harus dikemas 
dengan bahasa yang enak, dan gambar-gambar yang menarik," kata Hermawan 
menjelaskan.
  Untuk itu, peran penerbit menjadi sangat vital dalam persoalan ini. Menurut 
dia, penerbitlah yang harus menyetir sehingga penulis bisa menyusun buku sesuai 
dengan keinginan pasar.
  Hal semacam ini pula yang ditegaskan Frans Parera dalam memandang para 
penerbit di negeri ini. Menurut Parera, penerbit di Indonesia tidak tegas dalam 
merumuskan publishing policy atau editorial policy. Padahal, kedua kebijakan 
ini menjadi pijakan untuk mendekatkan penulis dengan pembacanya. Akibatnya, 
sering kali buku-buku karya penulis lokal tidak dapat memenuhi selera 
masyarakat. Karena itu, buku-buku tersebut tidak terserap pasar. Kalaupun laku, 
ia tidak akan menjadi best seller.
   
  Jadi, penerbit harus berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca. Di 
satu pihak harus dekat dengan pembaca atau konsumen agar tahu selera konsumen, 
sementara di pihak lain harus dekat dengan penulis agar bisa menulis dengan 
rutin, menulis dengan aspek-aspek menarik tentu saja
   
  Nah, masukkan kata KOMUNITAS dalam checklist komunikasi pemasaran Anda. 
Semoga saja dengan demikian buku Anda akan laku dipasaran!
  Semoga.... saya juga dapat getah royaltinya... hehehhe! 


        

  
 "DISCLAIMER: semua isi email yang tertera dalam laman ini

adalah terbatas untuk kepentingan sebagaimana yang tertera
dan penerima email dari pemilik email ini dilarang untuk mempublikasikan,
menggandakan, menyebarluaskan, apalagi membuat isu dari isi email ini
kepada siapapun juga dan untuk maksud apapun juga, TERKECUALI 
memang ada bagian isi email yang menyuruh melakukan itu"
  
 http://www.novelis.blogdrive.com







       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

Kirim email ke