Ah, besar kali gonggongannya..
saat melepas hak berkentut dan seni...
tegang dan girang bukan kepalang..
karena baunya mengusik surga..

 banyaklah sudah yang menggeleng takjub
bahwa dubur dan mulut dapat berbau sama..
padahal sudah tercipta untuk berjauhan
diletakan berlawanan dipisahkan hati......

Bah, apa pedulinya..
mungkin inilah inti dari ilmu seberang itu..
letak bolehlah berjauhan.....
yang penting baunya sama.....
maka sibuklah ia menjelaskan....
dengan bahasanya....
gong...gongg...gongg..
gong...gongg...gong..

yang kurang lebih artinya:
apapun cerita kalian..
aku-lah yang benar..


--------------------------------------------<<<<
From: sautsitumorang <[EMAIL PROTECTED]>

Mod: Bang Saut, tolong jangan pergunakan huruf kapital semuanya.

Edit by Mod

============ ========= =====



Puisi 101



Puisi harus dihormati terutama oleh orang yang cuma mampu membaca

Puisi. Puisi harus dihormati dalam pembacaannya seperti orang

Menghormati teks agama, teks hukum perceraian, atau teks pancasila.

Karena puisi itu bagian dari sastra dan sastra itu dipelajari dengan

Sangat terhormat di universitas di seluruh planet ini dalam sebuah

Studi bernama "fakultas sastra". Bahkan ada jutaan sarjananya!



Tidak setiap orang berhak untuk "membaca" puisi, sama dengan tidak

Setiap orang berhak menjadi polisi, pengacara, ekonom atau dokter

Gigi. Sastra adalah profesi, bukan hobi, maka harus dihormati sama

Seperti orang menghormati dokter gigi!



Tidar benar bahwa "pengarang" itu mati setelah menuliskan karya

Sastranya! Itu namanya sadomasokisme! Itu namanya pembunuhan! Itu

Namanya omong kosong orang yang sok sudah baca roland barthes!



Alasannya!

Makanya plagiat itu haram hukumnya!

Makanya setiap pengarang yang karyanya muncul di kompas minggu,

Misalnya, disebut namanya dan dikasih honor banyak pula! Makanya

Karyanya, walau jelek gak kayak karya saut situmorang, dikasih

Ilustrasi para perupa memble pula!



Tidak setiap orang berhak mengomentari agama.

Tidak setiap orang berhak keputusan pengadilan.

Tidak setiap orang berhak mencabut gigi naskeleng yang sudah busuk di

Mulutnya yang sudah busuk.

Tidak setiap orang berhak untuk memberikan pendapatnya di bidang yang

Bukan profesinya.

Setiap orang harus punya rasa rendah diri dan malu atas kapasitas

Pengetahuan yang tidak dimilikinya.



Mungkinkah ada orang awam sok pintar mengomentari "salah"

Dan "menghina" interpretasi seorang ulama atas teks kitab sucinya?

Lantas kenapa dengan puisi/sastra setiap orang merasa dia

Berhak/punya pengetahuan cuma karena dia bisa membaca abjad, kalimat

Yang ada di depan moncongnya?



Tidak setiap orang berani "membaca" dan memberi penafsiran atas atas

Lukisan kontemporer! Lantas kenapa begitu sewenang-wenang dengan

Puisi/sastra? !



Tidak setiap orang berani mengaku sebagai seniman rupa, walo bisa

Menggambar atau membentuk patung? Lantas kenapa begitu berani

Menyebut diri "penyair" atau "seniman" sastra?!



Sastra sudah sangat lama dihina di negeri yang menghormati para

Koruptor dan penjual agama ini!

Sastra sudah lama cuma dianggap sekumpulan kata-kata yang dirangkai

Jadi tulisan belaka, walo ribuan orang jadi sarjana dan dosen karena

Sastra!

Sastra tidak dianggap profesi di negeri yang konon punya budaya

Adiluhung ini!



Taik kucing semuanya itu!



Sudah waktunya para sastrawan menuntut balik orang-orang non-

Sastrawan yang men-capnya macam-macam, terutama mereka yang selalu

Mengatasnamakan agamanya, walo kejahatan mereka mungkin sudah membuat

Agama dan tuhan mereka terhina dan muntah-muntah!



Bangsa yang besar (seperti bangsa-bangsa di peradaban barat sana)

Adalah bangsa yang menghargai sastranya dan yang malu pada

Kebodohannya. Bangsa yang besar (seperti bangsa-bangsa di peradaban

Barat sana) bukan bangsa yang memuja-muja olimpiade fisika!!!



Bangsa yang besar adalah bangsa yang menolak tahyul dalam segala

Bentuknya. Dengan sastra, baru pencerahan ini bisa dicapai. Yang

Tidak percaya adalah orang-orang yang akan masuk neraka jahanam

Selama-lamanya! !!



Hahaha...





Kirim email ke