Amin..Amin... Mudah-mudahan hati bangsa kita ini bisa sekaya puisi dan sastra yang ada..
-- agaitaruna http://mfajri.banuanta.com/?Portable_Application ------------------------------------------- Pada tanggal 14/09/07, wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Ah, besar kali gonggongannya.. > saat melepas hak berkentut dan seni... > tegang dan girang bukan kepalang.. > karena baunya mengusik surga.. > > banyaklah sudah yang menggeleng takjub > bahwa dubur dan mulut dapat berbau sama.. > padahal sudah tercipta untuk berjauhan > diletakan berlawanan dipisahkan hati...... > > Bah, apa pedulinya.. > mungkin inilah inti dari ilmu seberang itu.. > letak bolehlah berjauhan..... > yang penting baunya sama..... > maka sibuklah ia menjelaskan.... > dengan bahasanya.... > gong...gongg...gongg.. > gong...gongg...gong.. > > yang kurang lebih artinya: > apapun cerita kalian.. > aku-lah yang benar.. > > --------------------------------------------<<<< > From: sautsitumorang <[EMAIL PROTECTED]<sautsitumorang%40yahoo.com> > > > > Mod: Bang Saut, tolong jangan pergunakan huruf kapital semuanya. > > Edit by Mod > > ============ ========= ===== > > Puisi 101 > > Puisi harus dihormati terutama oleh orang yang cuma mampu membaca > > Puisi. Puisi harus dihormati dalam pembacaannya seperti orang > > Menghormati teks agama, teks hukum perceraian, atau teks pancasila. > > Karena puisi itu bagian dari sastra dan sastra itu dipelajari dengan > > Sangat terhormat di universitas di seluruh planet ini dalam sebuah > > Studi bernama "fakultas sastra". Bahkan ada jutaan sarjananya! > > Tidak setiap orang berhak untuk "membaca" puisi, sama dengan tidak > > Setiap orang berhak menjadi polisi, pengacara, ekonom atau dokter > > Gigi. Sastra adalah profesi, bukan hobi, maka harus dihormati sama > > Seperti orang menghormati dokter gigi! > > Tidar benar bahwa "pengarang" itu mati setelah menuliskan karya > > Sastranya! Itu namanya sadomasokisme! Itu namanya pembunuhan! Itu > > Namanya omong kosong orang yang sok sudah baca roland barthes! > > Alasannya! > > Makanya plagiat itu haram hukumnya! > > Makanya setiap pengarang yang karyanya muncul di kompas minggu, > > Misalnya, disebut namanya dan dikasih honor banyak pula! Makanya > > Karyanya, walau jelek gak kayak karya saut situmorang, dikasih > > Ilustrasi para perupa memble pula! > > Tidak setiap orang berhak mengomentari agama. > > Tidak setiap orang berhak keputusan pengadilan. > > Tidak setiap orang berhak mencabut gigi naskeleng yang sudah busuk di > > Mulutnya yang sudah busuk. > > Tidak setiap orang berhak untuk memberikan pendapatnya di bidang yang > > Bukan profesinya. > > Setiap orang harus punya rasa rendah diri dan malu atas kapasitas > > Pengetahuan yang tidak dimilikinya. > > Mungkinkah ada orang awam sok pintar mengomentari "salah" > > Dan "menghina" interpretasi seorang ulama atas teks kitab sucinya? > > Lantas kenapa dengan puisi/sastra setiap orang merasa dia > > Berhak/punya pengetahuan cuma karena dia bisa membaca abjad, kalimat > > Yang ada di depan moncongnya? > > Tidak setiap orang berani "membaca" dan memberi penafsiran atas atas > > Lukisan kontemporer! Lantas kenapa begitu sewenang-wenang dengan > > Puisi/sastra? ! > > Tidak setiap orang berani mengaku sebagai seniman rupa, walo bisa > > Menggambar atau membentuk patung? Lantas kenapa begitu berani > > Menyebut diri "penyair" atau "seniman" sastra?! > > Sastra sudah sangat lama dihina di negeri yang menghormati para > > Koruptor dan penjual agama ini! > > Sastra sudah lama cuma dianggap sekumpulan kata-kata yang dirangkai > > Jadi tulisan belaka, walo ribuan orang jadi sarjana dan dosen karena > > Sastra! > > Sastra tidak dianggap profesi di negeri yang konon punya budaya > > Adiluhung ini! > > Taik kucing semuanya itu! > > Sudah waktunya para sastrawan menuntut balik orang-orang non- > > Sastrawan yang men-capnya macam-macam, terutama mereka yang selalu > > Mengatasnamakan agamanya, walo kejahatan mereka mungkin sudah membuat > > Agama dan tuhan mereka terhina dan muntah-muntah! > > Bangsa yang besar (seperti bangsa-bangsa di peradaban barat sana) > > Adalah bangsa yang menghargai sastranya dan yang malu pada > > Kebodohannya. Bangsa yang besar (seperti bangsa-bangsa di peradaban > > Barat sana) bukan bangsa yang memuja-muja olimpiade fisika!!! > > Bangsa yang besar adalah bangsa yang menolak tahyul dalam segala > > Bentuknya. Dengan sastra, baru pencerahan ini bisa dicapai. Yang > > Tidak percaya adalah orang-orang yang akan masuk neraka jahanam > > Selama-lamanya! !! > > Hahaha... > > >
