Manusia Makhluk Paling Mulia?

 

 

 

Minggu sore hari, kebetulan pekerjaanku tak begitu banyak. Aku mengambil
kesempatan itu untuk mematikan komputer dan menyudahi kerja lebih dini.
Anakku , Deva, kelas 6 SD sedang nonton salah satu saluran TV yang sedang
mengupas tentang kehidupan serangga.

 

Ketika melihatku, sambil menunjuk TV ia bilang, "Daddy, sudah lihat yang ini
belum?". "Apa tuh?", tanyaku sambil memeluknya dan ikut nonton. Rupanya ia
sudah melihat siaran itu berkali-kali sebelumnya jadi ia merasa harus
menjelaskan kepadaku dan bersikap seperti orang yang "lebih tahu".

 

"Tahu gak daddy, sekian juta tahun lagi, dunia akan dikuasai oleh
serangga!", katanya.

"Wooo.. bukannya manusia adalah makhluk paling mulia dan paling berkuasa?",
kataku. Aku tahu, dia pasti punya alasan dengan mengatakan itu, jadi untuk
memancing argumentasinya aku sengaja bersikap menyanggah dulu.

"Paling mulia itu kan menurut 'bangsa manusia' yang sekarang sedang
berkuasa. Tapi ketika jaman Reptilia menguasai bumi, jaman Dinosaurus itu
lhoo, makhluk yang paling mulia dan berkuasa adalah Reptil!".

Aku berpikir, iya ya,  bumi pernah dikuasai Reptil ketika manusia belum ada.
Lalu reptil besar musnah karena suatu sebab, barulah Mamalia berkuasa.
Mamalia yang sedang 'naik daun' itu adalah manusia.

 

Deva ini memang banyak membaca buku, sering menjelajahi internet juga (aku
sering takut ia mampir ke yang berbau 'hentai' karena anak-anakku suka
kartun Jepang - anime dan manga). Tapi rupanya tidak. Dia bersama kakaknya
lebih sering membahas yang berkaitan dengan 'asal-mula', termasuk asal-mula
makhluk hidup ini.

 

Ia berkata lagi: "Reptilia itu kuat dan seimbang bentuk badannya, coba
lihat", katanya sambil menunjuk sebuah gambar Dinosaurus. "Badannya hebat
sekali. Kaki belakangnya kuat dan kaki depannya kadang bisa berfungsi
menjadi tangan. Ekornya kekar dan liat untuk mengimbangi gerak tubuhnya.
Kulitnya tebal untuk membuatnya ia mampu bertahan terhadap kekerasan". Aku
menyanggah lagi: "Tapi coba lihat otaknya. Apa ia punya perbandingan besar
otak yang lebih besar daripada perbandingan besar otak manusia?. Jadi
meskipun kuat tapi ia tidak cerdas!"

 

"Aaaah, Daddy salah!, sergahnya, "Setiap jaman perlu syarat masing-masing
untuk makhluk didalamnya bertahan hidup. Waktu jaman Ikan berkuasa, mungkin
bumi masih dipenuhi air. Jadi yang bisa berenang dan menyelam, tentu menjadi
makhluk yang paling mulia dan berkuasa. Waktu jaman Dinosaurus yaitu jaman
Reptilia berkuasa, yang diperlukan adalah kekuatan itu. Kan katanya Charles
Darwin yang bisa bertahan adalah yang memenuhi syarat untuk hidup. Pada
jaman itu banyak gunung berapi meletus, banyak binatang buas, perkelahian
terjadi setiap saat. Jelas Dinosauruslah yang paling berkuasa, karena ia
sangat kuat".

 

Aku melanjutkan, "Jadi mamalia berkuasa karena kita sekarang berada pada
masa dimana otak dengan akal adalah yang paling dibutuhkan?, gitu Dev?".

"Betuuul. Daddy pinter sekarang!", katanya sambil tertawa memamerkan
giginya.

 

Tiba tiba ada rasa ngeri melanda ketika aku melanjutkan berpikir sampai
kepada hal serangga. Belum sempat aku berkata, anakku sudah mendahului, "Dan
jangan lupa, seperti dilihat di filem tadi, semut Rangrang membuat rumah dan
RELA mengorbankan dirinya menjadi jembatan berantai bagi teman temannya
lewat untuk membuat rumah dan melipat lipat daun menjadi  tempat yang nyaman
bagi dia dan sesamanya. Kemauan berkorban dan semangat bekerja sama itu
TIDAK DIDAPATI pada mamalia yang namanya manusia pada jaman kita ini!"

 

Aku merasa ditempeleng oleh kata katanya. Maksudku, umat manusia mestinya
"DITEMPELENG" oleh kesadaran semacam itu.

 

Katanya lagi,"Daddy sendiri kan pernah berteori bahwa kekuatan dunia akan
mengerucut menjadi tiga bagian besar kekuatan seimbang, yaitu Amerika dengan
kekuatan teknologi dan persenjataannya, Cina dengan kekuatan sumber daya
manusia dan perekonomiannya, dan Islam dengan kekuatan ideologisnya, yang
saat ini sedang mencari pemimpin besarnya. Daddy menduga Ahmadinejad yang
makin populer itu akan menjadi pemimpin itu kan?".

 

"Ya", kataku. "Dan tiga kekuatan itu bisa bermain dengan benda berbahaya
yang bernama NUKLIR, dan hasil rekayasa lainnya. Salah sedikit saja terjadi
pada tiga kekuatan seimbang itu, akan mengakibatkan berhentinya eksistensi
umat manusia sebagai Mamalia yang paling berkuasa". Aku termenung sejenak.

 

Sementara itu ia bertanya melanjutkan, "Kira kira kalau ada perang nuklir
atau kecelakaan besar semacam itu, siapa yang bisa bertahan hidup ya
Daddy?".

Aku ingat ketika melihat museum peringatan bom atom di Hiroshima. Yang bisa
bertahan hidup hanyalah yang kebetulan berada di basement, ruang bawah
tanah. Yaitu seorang anak perempuan kecil yang kebetulan sedang mengambil
sesuatu di ruang bawah tanah ketika bom atom meledak di Hiroshima.

Jadi jawabku, "Ya kira kira yang hidup di bunker bunker bawah tanah, Dev,
seperti anak perempuan yang di Hiroshima itu, ingat?"

"Iya ingat.", jawabnya sambil membayangkan.. . "Tapi kekuatan nuklir ribuan
kali lipat bom atom itu. Dan dampak radioaktifnya bisa membuat mutasi mutasi
dan bisa membuat makhluk hidup yang tidak mati menjadi menurunkan
"mutant-mutant", kataku menambahkan.

 

"Naahh, jadi tidak terlalu jauh dari kata Deva tadi kan, bahwa bangsa
Serangga yang punya liang di dalam tanah nanti bisa berpeluang hidup dan
menjadi penguasa bumi setelah masa mamalia berkuasa!". "Serangga yang cerdas
akan bertahan hidup. Tapi yang dibutuhkan bukan cuma kecerdasan untuk
bertahan hidup tetapi juga kemauan untuk bekerja sama dalam memelihara
perdamaian. Itu yang tidak dipunyai oleh mamalia yang bernama manusia ini
sebelumnya". Ia sekarang tertawa lebar, seolah-olah teorinya tak tersanggah
lagi olehku.

 

Aku makin merinding membayangkannya. Apakah manusia makhluk "paling mulia"
ini nanti akan tergantikan oleh serangga hanya karena serangga lebih baik
bekerja sama tidak seperti manusia yang cenderung saling membenci sesamanya
dan saling merusak alam?...

 

"Deva,  ada baiknya kamu tidak berpikir terlalu jauh!", batinku risau.
"Mulai besok daddy akan membunuh kecoak dan nyamuk sebanyak banyaknya,
Dev!". Aku mengalihkan kerisauanku dengan bercanda sambil menikmati matanya
yang berbinar-binar.

 

"Nah tuh.!" begitulah sifat mamalia yang agresif", katanya. "Pengennya main
pukul dan main bunuh apapun yang menghalang didepannya". "Kayaknya pantaslah
kalau Serangga yang lebih bisa bermasyarakat dengan damai itu suatu saat
nanti akan menjadi penguasa bumi! . Yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di
masa depan bukan yang pintar membuat alat alat canggih untuk membunuh
sesamanya, melainkan yang bisa bekerja sama dengan sesamanya dalam damai.
Besar otak akan berevolusi berkembang sendiri sesuai kebutuhan".

 

Terus terang, aku mulai setuju dengan teori si Deva ini.

 

Supaya tidak kalah wibawa dengan anakku, aku tetap harus menasihati:
"Makanya jangan suka berkelahi dengan Deo kakakmu. Bekerja-samalah dengan
damai supaya Mamalia tetap bertahan dan bangsa manusia lebih lama berkuasa
di bumi ini!".

 

"You're old, daddy!" dia mengejek.

 

 

 

Ferry Wardiman

Jakarta, 29 Juli 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke