IIIHIMsight ed. 16 September 2007
  HIMailinglist : [EMAIL PROTECTED]
  HIMblog! : http://himfiles.blogs.friendster.com
   
   
  HIMtv
  Beruntung sekali Indosiar tidak memaksakan diri untuk membuat AFI 2007 ( yg 
kala itu diplot untuk menandingi Indonesian Idol ) maupun Kondang-In ( sebagai 
lawan KDI ) karena bila hal tersebut dilakukan, nggak kebayang dech bagaimana 
tambah terpuruknya stasiun tv yang menggunakan mascot si ikan terbang ini. 
Langkah Indosiar mengemas konsep baru sebuah realityshow bertajuk Mamamia, 
mungkin oleh beberapa pihak disikapi dengan skeptis… ach lagi2 kontes nyanyi. 
Justru disinilah tantangannya bagaimana membuat sebuah program ter-positioning 
berbeda dari competitor, sebab bila semata “njiplak” ide justru lagi2 Indosiar 
kena imej sebagai “follower”, yang tentu akan berdampak negative di mata 
pemirsa ( dan pemasang iklan ).
  Dari tampilan awalnya pemirsa dipersiapkan dalam suatu adegan “drama” anak 
dan orangtua untuk berjuang bersama. Bukan dengan merayu pemirsa untuk kirim2 
sms sebanyak-banyaknya atau sekedar menurut saja dengan arahan komentar para 
juri. Bahkan dalam salahsatu episodenya justru ada penjungkirbalikkan format 
acara dimana para ibu yang gantian mengkritik penampilan para juri. Soal system 
“vote-lock” pun menarik perhatian karena dikemas dalam bentuk countdown, tidak 
seperti program serupa yg lebih mengandalkan pemasukan sms untuk menentukan 
pemenang sehingga terkesan hanya yg kuat modal beli pulsalah yang menang. Yang 
juga menjadi faktor penting adalah penempatan waktu program, yg mana biasanya 
untuk program sejenis mengambil “pakem” hari tayang weekend, lha Mamamia ini 
ditaruh di tengah minggu.
  Di sebuah majalah yang penulis baca, Mamamia Indosiar dianggap sebagai sebuah 
program “blue ocean” yg berhasil mengerek kembali citra Indosiar ke papan atas 
rating televisi. Namun tentu hal ini tidak bisa terus-terusan berlangsung, 
karena sudah menjadi rahasia umum bahwa pemirsa kita tergolong cepat bosan dan 
cepat sekali berganti trend tontonan. Perlu ditarik ulur biar penasaran, 
sehingga memang pilihan untuk membuat jeda lebih baik ketimbang memaksakan diri 
untuk tancap gas lagi.
  Dari promo yang tengah berlangsung selama ini, tampaknya Indosiar tengah 
mengemas “sekuel” Mamamia dalam program “StarDut”. Sedangkan akhir tahun ini 
akan rilis program pencarian boyband yg bergaya artis Mandarin dalam tajuk 
acara “ChenSing” yang dipersiapkan untuk menyambut tahun baru Imlek. Lalu 
bagaimana dengan prospek ANTV yang kini tengah menayangkan “Seleb Dance”, akan 
mampukah mencapai popularitas serupa ?
   
   
  HIMarketing
  Apakah anda sering melihat hal yang kerap diunggulkan beberapa mobil jenis 
citycar dalam iklan versi media cetaknya ? Salahsatunya klaim tentang seberapa 
irit sich bbm yang digunakan, misalnya hanya menghabiskan sekitar 23 liter/km. 
Meski “pengakuan” seperti ini didapatkan dari lembaga lain, katakanlah dari 
tabloid/majalah otomotif, tetapi tentu saja hal ini terlalu beresiko bila dalam 
realitasnya tidak seperti yang dipromosikan. Maka sebagai pelindung dari 
gugatan konsumen nantinya, ada penjelasan bahwa hal seperti itu bisa terjadi 
dalam “syarat dan kondisi tertentu”. Seperti yang bagaimana maksudnya ?
  Beberapa produk rumah tangga pun seringkali menampilkan hal yang kelihatan 
“to good to be true” dalam iklan versi visualnya, contoh : gigi (lebih) putih 
dalam iklan pasta gigi, rambut lebih lurus dalam iklan shampoo, cucian lebih 
putih dalam iklan deterjen, dan sebagainya. Yang lebih ekstrem namun terlihat 
vulgar banget adalah masih ada saja produsen yang mengklaim produknya nomor 
satu dibanding pesaingnya dalam lini produk yang sama, terlihat dengan 
visualisasi komparasi dengan produk pesaing yang mana konsumen bisa menarik 
kesimpulannya sendiri. 
  Padahal bukan soal nomor satu atau nomor dua yang diinginkan dalam benak 
konsumen, namun apakah produk itu punya nilai tambah nggak ? Atau apakah produk 
itu sesuai dengan karakteristik konsumen yang disasar tidak ? Maka ditengah 
keragaman produk massal, tokh masih terselip produk2 serupa yang justru diburu 
karena unsur ekslusifitasnya, meski bukan jadi yang nomor satu secara 
kuantitatif. Alasan yg sering dilontarkan : orang mengkaitkannya bahwa yang 
mereka beli bukan barangnya, tapi magnet level gengsi yang terpancar dari 
(brand) produk tersebut. 
  Jadi kondisi produk bukan sebatas asal laku tapi langsung ambruk dalam 
sekejap ( jadi teringat slogan merek yg sering mencantum 3 huruf ini : est. ). 
Konsumen juga punya bargaining power loch dalam menentukan “syarat dan kondisi 
tertentu”, sebagai contoh bagi penulis sendiri faktor komparasi manfaat produk 
( pertimbangan ekonomis ) vs harga lebih penting ketimbang komparasi nilai 
lifestyle produk vs harga ( pertimbangan “eksebisionis” alias doyan pamer J ). 
Seorang teman nyeletuk begini : ach, dasar elonya aja yg emang pelit ( 
maksudnya : melakukan pola hidup hemat ‘nkali ? ), he he he…
   
   
  HIMradio
  Akhir bulan Agustus 2007 lalu, mungkin banyak pendengar radio Jakarta yg 
mendapatkan media dengaran baru. Saat mendengar siaran percobaannya ( fyi, 
justru penulis tahunya pertama kali dari “backsound” sebuah toko minimarket 
waralaba dekat rumah, dari yg biasanya stel gelombang I-radio, eh pindah ke 
channel baru ini  ), wah playlist lagunya lebih “catchy” ketimbang saluran lain 
yang mengusung label barometer musik Indonesia. Tanpa jeda iklan, selingan 
lagu2 baratnya pun relaitf jarang, jadi mayoritas dihuni lagu2 Indonesia 
terbaru. Di beberapa milis pun sempat kebingungan mempertanyakan ini radio baru 
namanya apa yach ? 
  Namun senin pekan kemarin akhirnya rasa penasaran itu luluh juga, namanya 
98.7GENFM yang melabelkan dirinya : suara musik terkini. Sekedar saran saja, 
soal frekuensi lagu2 yg diputar musti ditinjau lagi dech, terlalu berdekatan 
waktunya memutar lagu dari musisi yang sama. Misal di jam 8 sudah memasang lagu 
“Menghapus jejakmu” dari Peterpan, eh di jam 9 atau 10 pasang playlist “Dibalik 
awan”. Konsep “non-stop hits” seperti ini untuk kedepannya sebaiknya dibatasi 
karena bisa membuat pendengar justru segera jenuh. Saran penulis : variasi 
koleksi lagu gressnya bisa ditambah “range”-nya, sehingga tidak terkesan 
monoton.
  Ditengah ekspansi stasiun2 radio ibukota merambah jaringannya ke daerah, ada 
satu radio daerah yg justru mencoba berkompetisi ke ibukota. OZ radio, tentu 
mojang dan jajaka pada kenal donk dengan stasiun radio yg mengusung tagline 
“Stasiun panutan”. Hhmmm… serasa lagi nguping radio anakmuda (bergaya) Bandung, 
tapi kok yach belum tune-in banget gitu dengan selera remaja2 gaul ibukota, yg 
mungkin lebih mengenal brand lain yg sudah “nancep duluan” di Jakarta, semisal 
: Prambors, Mustang, TraxFM, maupun ARH Global. Ok, moga sukses di gelombang 
90.8FM.
  Tapi jangan khawatir, tidak seperti persaingan sengit dalam dunia 
tv-broadcasting, untuk kompetisi stasiun2 radio di Jakarta sendiri lebih 
segmented mengingat betapa plural pendengarnya, sehingga lebih loyal ( mungkin 
karena perangkat radio tidak praktis, jarang banget yang dilengkapi dengan 
gadget remote control seperti tv yg dengan gampang kita bisa switch channel J 
). 
  Seperti yang sudah penulis kutip dalam artikel HIMarketing diatas, penyimak 
radio juga punya “syarat dan kondisi tertentu”. Untuk Rabu misalnya, nyaris 
kagak pindah channel tuch dari Wednesday Slow Machine-nya KISFM ( ditunggu 
album kompilasi volume 2-nya ). Atau Jum’at malam, stay tune terus di OneLove 
JakFM ( thank GOD’s, it happens on Friday ! ) Pas weekend giliran gonta-ganti 
channel antara Retromantic HardrockFM dan Rhytym of Love-nya MustangFM.  
   
   
  SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
  BAGI ANDA YANG MENJALANKANNYA
   
   
  HIMtertainmentSound is provided by :
  Retromantic of HardrockFM87.6
  Rhytym of love of  MustangFM88
  Monday Back2back, Wednesday Slow Machine, & Sunday Club 80’s of KISFM95.1
  One Love of JAKFM101 
   
  HIMsight | HIMpersada10 |  HIMoments
  http://groups.yahoo.com/group/himtertainment
   
   

       
---------------------------------
 Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

Kirim email ke