Puisi Buat Si Polan Oleh : Asnawin email : [EMAIL PROTECTED]
Abunawas kaget mendengar berita tentang dijatuhkannya vonis dua tahun penjara kepada Si Polan. Abunawas kaget karena Si Polan baru dua hari lalu dilantik sebagai anggota parlemen pengganti artarwaktu. Nalurinya sebagai seniman langsung bekerja. Abunawas ingin membuat puisi buat Si Polan. Ia pun segera mengumpulkan serpihan ingatannya tentang Si Polan. Maka meluncurlah beberapa bait. Ketika masih kuliah Si Polan.... Biasa-biasa saja Ketika masih kuliah Si Polan.... Tidak terlalu dikenal Ketika masih kuliah Si Polan.... Bukan mahasiswa berprestasi Ketika masih kuliah Si Polan.... Bukanlah siapa-siapa Abunawas kembali membuka memorinya tentang Si Polan. Belasan tahun lalu, ia berkenalan dengan Si Polan dan ingatannya pun kembali. Setelah meraih gelar sarjana Si Polan.... Menjadi pegawai negeri sipil Setelah meraih gelar sarjana Si Polan.... Aktif berorganisasi Setelah meraih sarjana Si Polan.... Memimpin sebuah perusahaan Setelah meraih gelar sarjana Si Polan.... Menjadi terkenal Abunawas tidak pernah akrab dengan Si Polan, karena dirinya bukanlah siapa-siapa di mata Si Polan. Abunawas hanya seorang seniman yang penghasilan dan hidupnya pas-pasan. Abunawas kemudian melanjutkan puisinya. Si Polan muncul Sebagai wakil dari generasi muda Yang cukup menonjol Si Polan dianggap sukses Mengelola dan membesarkan Perusahaan titipan banyak orang Si Polan pun dianggap sukses Memimpin Sebuah organisasi kepemudaan Si Polan kemudian Memimpin Sebuah organisasi olahraga Si Polan berhasil Mengangkat prestasi Tim olahraga yang dipimpinnya Si Polan menjadi publik figur Kemudian Terpilih menjadi anggota parlemen Si Polan lalu muncul Sebagai orang yang berkiprah Di Ibukota Negara Abunawas cukup bangga karena orang sekampungnya berhasil meniti karir dan meraih prestasi di tingkat nasional. Tidak banyak orang sekampungnya yang mampu menonjol di tingkat nasional. Di tingkat nasional Si Polan lagi-lagi Mendapat kepercayaan Di tingkat nasional Si Polan terpilih memimpin Perusahaan milik orang banyak Di tingkat nasional Si Polan terpilih memimpin Organisasi olahraga Kebanggaan Abunawas kepada Si Polan makin bertambah, karena orang sekampungnya itu kemudian menjadi buah bibir, berkat berbagai prestasi yang diukirnya. Nama Si Polan melambung Nama Si Polan terkenal Nama Si Polan menjadi buah bibir Yang membuat Abunawas senang dan terharu, karena dirinya tak pernah mendengar cerita miring tentang Si Polan. Tak ada cerita tentang perselingkuhan, ekstasi, narkoba, dan kehidupan malam. Tapi, Si Polan biasa-biasa saja Tapi, Si Polan tetap tampil sederhana Tapi, Si Polan tetap rajin beribadah Si Polan kaya raya Si Polan punya kedudukan Si Polan tetap Si Polan Banyak orang Yang.... Memuji Si Polan Banyak orang Yang.... Bergantung kepada Si Polan Banyak orang Yang.... Memanfaatkan Si Polan Itulah sebabnya Abunawas kaget luar biasa setelah mendengar berita tentang vonis penjara dua tahun ditambah denda puluhan juta rupiah kepada Si Polan. Tiba-tiba... Si Polan tersandung Dan jatuh Tiba-tiba... Si Polan terjerat Kasus korupsi Tiba-tiba... Si Polan sakit Dan mendapat perawatan Kemudian... Si Polan diadili Dan masuk bui Kemudian... Nama Si Polan Rusak Kemudian... Nama Si Polan Hancur Banyak orang yang kaget Banyak orang yang heran Banyak orang yang bertanya-tanya Abunawas masih tidak percaya. Bernarkah Si Polan seorang koruptor. Ia ragu, tetapi bagaimana pun, putusan pengadilan tidak bisa ditampik begitu saja. Benarkah Benarkah... Si Polan... Korupsi...? Benarkah... Si Polan... Jahat...? Benarkah... Si Polan... Pendusta...? Jawablah Polan! Benarkah semua itu? Benarkah mereka? Jawablah Polan! Benarkah kamu korupsi? Benarkah kamu jahat? Jawablah Polan! Benarkah kamu pendusta? Benarkah kamu pembohong? Kekaguman Abunawas terhadap Si Polan masih ada. Abunawas tidak rela kalau kekagumannya itu luntur dan hilang, hanya karena Si Polan divonis penjara. Dulu..... Aku..... Mengagumimu Dulu..... Aku..... Menyayangimu Dulu..... Aku..... Mencintaimu Aku ingin Tetap.... Mengagumimu Aku ingin Tetap.... Menyayangimu Aku ingin Tetap.... Mencintaimu Abunawas merasa puisinya sudah cukup, tetapi judulnya belum ada. Ia penasaran dan juga ada rasa kesal. Maka dengan mantap ia memilih judul: "Jawablah Polan!" Makassar, 16 September 2007
