Refleksi: Apakah gubernur akan sebentar lagi mengakhiri masa jabatannya, kita 
"weit en si".

http://batampos.co.id/content/view/30791/1/


      SBY Marah di Bengkulu        

      Selasa, 18 September 2007  
      BENGKULU (BP) - Raut muka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
langsung berubah begitu mendengar paparan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin 
seputar musibah yang terjadi di provinsinya. Tujuh kali SBY harus menginterupsi 
paparan gubernur karena data yang ditampilkan dianggap kurang akurat. 
      Rombongan SBY kemarin datang ke Bengkulu untuk meninjau dari dekat lokasi 
gempa dan perkembangan terakhir penanganan para korban. Presiden yang 
didampingi Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri mendarat di Bandara 
Fatmawati Soekarno, Bengkulu, sekitar pukul 08.40. 


      Begitu tiba, SBY langsung menuju Posko Satkorlak Penanggulangan Bencana 
dan Pengungsi (PBP) di halaman Kantor Gubernur Bengkulu. Di sinilah suasana tak 
enak bermula. 


      Agusrin yang baru tiga hari berada di Bengkulu -setelah pulang dari 
Amerika Serikat- langsung memberikan paparan kepada SBY mengenai situasi 
pascagempa 12 September lalu. 
      Menurut Agusrin, gempa berkekuatan 7,9 SR, 12 September lalu, menyebabkan 
14 orang meninggal, 12 luka berat, dan 26 luka ringan. 


      ''Kalau dilihat dari jumlah korban, memang sedikit. Sepertinya tidak 
terlalu dahsyat gempa ini. Tapi kalau dilihat dari kerusakan yang terjadi, 
memang seperti aneh,'' katanya.


      Dia mengklaim, minimalnya korban itu disebabkan sosialisasi yang telah 
jauh-jauh hari dilakukan pihaknya kepada masyarakat tentang cara penyelamatan 
dari gempa. Kebetulan, kata Agusrin, gempa terjadi sore hari sehingga 
masyarakat cepat keluar dari rumah. 


      Jumlah rumah yang rusak sangat banyak, mencapai 27.600. Rinciannya, 7.839 
rusak total, 6.801 rusak berat, dan 13 ribu rusak ringan. Sekolah yang rusak 
mencapai 885. Sedangkan kantor yang rusak 300. Dan masih banyak kerusakan lain 
yang dirinci Agusrin.


      Inilah interupsi pertama SBY kepada Agusrin. 
      ''Ini data apa, sudah diverifikasi atau belum?'' tanya SBY dengan nada 
tegas. ''Ini data awal dari bupati,'' jawabnya. 


      Agusrin memaparkan, kerusakan terparah terutama di Mukomuko dan Bengkulu 
Utara. ''Meski demikian, kerugian belum bisa dikalkulasi,'' jelas ketua DPD I 
Partai Demokrat Bengkulu itu.


      Menurut dia, sebagian masyarakat, terutama anak-anak, masih trauma dan 
tidak mau tinggal di rumah. Ini menyebabkan kebutuhan tenda dan selimut sangat 
besar. Begitu juga dengan pakaian. Agusrin menyebut, kebutuhan pakaian dan 
selimut mencapai 83 ribu. 


      Kembali SBY menyela. ''Kalau kebutuhan pakaian 83 ribu, asumsinya pakaian 
mereka sudah tidak ada lagi. Apakah selimut yang 83 ribu itu dihitung jumlah 
rumah korban dikalikan sekian penghuninya? Apakah ini jumlahnya atau memang 
dilihat yang dibutuhkan di lapangan?'' tanya SBY.


      Agusrin mulai gelagapan. ''Tentu tidak. Kita melihat apa yang dibutuhkan 
dan mana yang tidak. Ini sesuai dengan permintaan para bupati. Dan mana yang 
paling urgen kita lihat untuk disuplai,'' jelasnya.     
      Saat Agusrin menyebut kebutuhan tenda regu untuk sekolah mencapai 6.000 
unit lebih, SBY kembali menginterupsi. 


      ''Pengalaman di Aceh, Yogya, kebutuhan tenda regu sekitar 600. Kalau 
seperti ini datanya tidak valid, susah,'' tekan SBY.


      Kepada presiden, Agusrin yang tampak pucat itu berjanji akan 
memverifikasi data yang ada. ''Ini hanya data yang sekadar diajukan. Tentu 
tidak semuanya. Kalau memang berdasar hasil verifikasi tidak mungkin terpenuhi, 
kami tidak akan memenuhi,'' ujarnya.


      Agusrin juga mengeluh kesulitan mengidentifikasi dan membagi sembako. Ini 
karena sejumlah pejabat di tingkat kecamatan dan desa juga ikut mengungsi. ''Di 
Mukomuko, termasuk bupati dan camat ikut mengungsi karena situasinya sangat 
menakutkan,'' terangnya. Selain itu,  medan yang sangat berat dan sulit 
terjangkau serta  keterbatasan jalan darat yang cukup panjang membuat suplai 
bantuan terlambat. (tom
     

Kirim email ke