Dari kalimat penutup, mau ngamuk masih segan, mau mengkritik juga masih
malu-malu....
Lelah deeeehhh.......

Lelah=Capek?


On 18/09/2007, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Saya juga lelah bacanya, terutama pada kalimat penutup berikut ini:
>
> *Namun, lelah yang dirasakan wartawan tersebut tentunya sangat tidak
> sebanding dengan lelah Kepala Negara yang tanpa hentinya bekerja
> menyelesaikan tugas-tugas demi bangsa dan negara.* (*)
> Kok klise banget ya?
>
>
>
>
>  ----- Original Message -----
> *From:* Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
> *To:* Undisclosed-Recipient:;
> *Sent:* Tuesday, September 18, 2007 11:35 AM
> *Subject:* [mediacare] Ketika Wartawan Kepresidenan Lelah Menunggu Tanpa
> Berita
>
>
>
>
> http://www.antara.co.id/arc/2007/9/18/ketika-wartawan-kepresidenan-lelah-menunggu-tanpa-berita/
>
>
> *18/09/07 01:11*
> Ketika Wartawan Kepresidenan Lelah Menunggu Tanpa Berita
>
> *Oleh Roike Sinaga*
>
> *Padang (ANTARA News) - Sejumlah wartawan media cetak dan elektronik yang
> ikut mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninjau korban gempa ke
> Bengkulu dan Sumatera Barat tampaknya tidak kuasa menahan rasa dongkol,
> terutama menyangkut jadwal yang tidak jelas.
>
> Ketidakjelasan itu sudah terlihat sejak rombongan mau berangkat dari
> Jakarta melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin pagi, yang
> jadwalnya molor dari pukul 07.00 WIB menjadi pukul 07.30 WIB.
>
> Petugas jurnalistik yang dianggap bagian dari perangkat Kepresidenan
> memang kadang dihadapkan pada ketidakjelasan jadwal yang dikeluarkan Biro
> Pers dan Media Istana Kepresidenan.
>
> Di satu sisi, wartawan selalu ditekankan harus tepat waktu, sesuai dengan
> jadwal yang ditetapkan, namun di sisi lain jadwal yang dikeluarkan terkadang
> kurang akurat, dan bahkan sering molor tanpa penjelasan.
>
> Seorang wartawan LaTivi yang akan meliput kegiatan Presiden ke Bengkulu
> dan Sumatera Barat, misalnya, telah hadir di Pangkalan TNI AU, sejak pukul
> 04.50, meski jadwal keberangkatan pukul 07.00 WIB, yang disusul wartawan
> lainnya.
>
> Presiden bersama rombongan termasuk wartawan menggunakan pesawat
> Kepresidenan akhirnya berangkat, walaupun waktunya molor setengah jam, dan
> tiba di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, sekitar pukul 09.00 WIB.
>
> Kepala Negara yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri
> seperti Menteri PU Djoko Kirmanto, Menkes Siti Fadilah Supari, Panglima TNI
> Marsekal TNI Djoko Suyanto, dan Wakil Ketua DPD-RI Bambang Suroso, langsung
> meninjau Satkorlak Provinsi Bengkulu, guna mendengarkan paparan dari
> Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin, sekaligus memberi bantuan secara
> simbolis kepada korban.
>
> Satu jam kemudian, Presiden bersama rombongan berangkat menggunakan empat
> helikopter menuju Kabupaten Muko-Muko di Bengkulu Utara, yang dilanjutkan ke
> Kecamatan Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dan
> setelah itu menggunakan kendaraan mobil ke Balai Salasa, Kecamatan Rana
> Pesisir.
>
> Gempa teknonik berkekuatan 7,9 pada Skala Richter mengguncang Bengkulu dan
> Sumbar pada Rabu (12/9) pukul 18.10.23 WIB dan diikuti beberapa kali gempa
> susulan di beberapa daerah termasuk Padang, Sumatera Barat.
>
> Hingga Minggu pagi, korban meninggal akibat gempa tersebut tercatat 23
> orang, 88 orang luka-luka, baik luka berat atau ringan.
>
> Para korban meninggal dunia itu tersebar di sejumlah lokasi yakni di
> Bengkulu Utara enam (6) orang, Padang (3), Bengkulu (2), di Mentawai (3),
> satu orang di Jambi, satu orang di Solok dan tujuh orang di Kabupaten
> Mukomuko.
>
> Selain itu, bencana alam tersebut juga memporakporandakan sejumlah rumah
> penduduk, lahan pertanian, dan berbagai fasilitas umum.
>
> Dari sisi pemberitaan, melihat lokasi dan korban gempa merupakan suatu
> pengalaman berharga yang bagus diwartakan kepada masyarakat. Namun, dari
> empat helikopter yang tersedia, wartawan yang bisa ikut meliput hanya tiga
> media. Bahkan, wartawan ANTARA News yang sedianya sudah dijadwalkan ikut
> bersama rombongan, terpaksa tidak bisa ikut serta.
>
> Seorang wartawan media televisi swasta yang tidak bersedia menyebutkan
> jati dirinya mengatakan, "Percuma saja jauh-jauh dari Jakarta, kalau tidak
> bisa ikut meliput dari dekat".
>
> Bahkan ia menengarai, ketidaksiapan Biro Pers menyediakan tempat bagi
> sejumlah wartawan karena banyak di antara rombongan yang ikut justru adalah
> "orang-orang yang tidak jelas".
>
> Wartawan yang tidak bisa berangkat dengan helikopter Kepresidenan,
> akhirnya berangkat ke Sumbar dari Bandara Fatmawati Bengkulu sekitar pukul
> 11.20 WIB, dan tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul 12.00 WIB.
>
> Setelah itu, wartawan kemudian digiring ke salah hotel di kawasan Jalan
> Gereja, di Kota Padang. Di sini, lagi-lagi jadwal tidak jelas.
>
> Wartawan sempat "istirahat" sekitar satu setengah jam, untuk selanjutnya
> dengan menggunakan mobil menuju ke kediaman atau rumah dinas Bupati Painan,
> Kabupaten Pesisir, Sumbar.
>
> Dalam suasana puasa, perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam itu
> tentu menambah lelah.
>
> Berharap dapat bertemu dengan Presiden untuk menanyakan ihwal kunjungan ke
> lokasi gempa, wartawan tetap antusias karena sejak siang hari wartawan tidak
> memperoleh berita yang akan dikirim ke redaksi masing-masing.
>
> Menurut informasi dari Biro Pers Istana, Presiden akan memberikan
> keterangan pers sekitar pukul 21.00 WIB, di hadapan para bupati, walikota
> dan unsur Muspida se-Sumbar.
>
> Wartawan yang sebelumnya sedikit mengumpat karena jadwal yang tidak jelas
> tersebut, sedikit banyak terobati setelah mendapat suguhan buka puasa di
> kediaman Bupati.
>
> Sekitar pukul 21.15 WIB, raungan sirine rombongan Presiden memasuki
> halaman rumah dinas Bupati.
>
> Wartawan yang sudah lelah menunggu, sedikit memancarkan wajah sumringah
> karena berharap dapat berita dari paparan terkait kondisi tanggap darurat
> yang dilaporkan Gubenur Sumbar Gamawan Fauzi, termasuk arahan dari Presiden.
>
> Di pendopo bagian belakang rumah Bupati Painan, tampak persiapan sudah
> dilakukan seperti kursi untuk para tamu, dan perangkat sound system.
>
> Namun, sesaat kemudian diinformasikan bahwa Presiden dinyatakan tidak jadi
> memberikan keterangan pers.
>
> Sontak wartawan yang sejak sore menunggu kembali lemas dan lunglai,
> meskipun diinformasikan bahwa Kepala Negara akan memberi keterangan pada
> esok harinya tanpa menetapkan waktu dan tempatnya.
>
> "Kemungkinan di Bandara Minangkabau, bisa juga di rumah Bupati, tapi bisa
> juga di Halim, ah terserahlah," celetuk seorang wartawan media cetak.
>
> Para wartawan yang makin merasa lelah, akhirnya keluar secara teratur dari
> lingkungan kediaman Bupati Painan, menggunakan mobil menuju kota Padang.
> Lagi-lagi menempuh perjalanan melelahkan karena melalui perbukitan dan
> pesisir pantai.
>
> Tentu, inilah sebagian pengalaman meliput kegiatan Kepresidenan. Selain
> lelah tentu juga segudang pengalaman yang menggembirakan dan menyenangkan.
>
> Namun, lelah yang dirasakan wartawan tersebut tentunya sangat tidak
> sebanding dengan lelah Kepala Negara yang tanpa hentinya bekerja
> menyelesaikan tugas-tugas demi bangsa dan negara.* (*)
>
> *Copyright (c) 2007 ANTARA*
> [image: Send]  [image: Print]<http://www.antara.co.id/print/?id=1190052719>
>
>
>  ------------------------------
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.487 / Virus Database: 269.13.22/1013 - Release Date:
> 17/09/2007 13:29
>
> 
>



-- 
If you're a loser and seek to improve yourself by reading self-help books
then you're being helped by a loser. So Forget it..

<<send.gif>>

<<print.gif>>

Kirim email ke