Mas Roike dari Antara,
Saya mengerti Anda sulit sekali menulis sebuah kritik terhadap
pemerintah, wong media Anda sendiri juga kan plat merah. Tapi untuk
sebuah kantor berita, juga gak salah kalau memang perlu untuk
mengkritik pemerintah. Toh, tinggal pinjam testimoni dari wartawan
lain kan. Pada potongan berita Antara "*Namun, lelah yang dirasakan
wartawan tersebut tentunya sangat tidak
> > sebanding dengan lelah Kepala Negara yang tanpa hentinya bekerja
> > menyelesaikan tugas-tugas demi bangsa dan negara," saya sangat
tidak setuju dengan itu. Karena pada dasarnya Presiden digaji oleh
rakyat memang untuk capek, lelah dan berpikir! Para petinggi negeri
ini digaji bukan untuk berfoya-foya dan jalan-jalan sambil menikmati
kemewahan. Memang seharusnya seorang SBY dan menterinya capek mikirin
gempa Bengkulu. Mbok kalau berita jangan bermuka dua, satu ngritik
bagian atasnya menjilat....    


--- In [email protected], "Didit Putra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dari kalimat penutup, mau ngamuk masih segan, mau mengkritik juga masih
> malu-malu....
> Lelah deeeehhh.......
> 
> Lelah=Capek?
> 
> 
> On 18/09/2007, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >    Saya juga lelah bacanya, terutama pada kalimat penutup berikut ini:
> >
> > *Namun, lelah yang dirasakan wartawan tersebut tentunya sangat tidak
> > sebanding dengan lelah Kepala Negara yang tanpa hentinya bekerja
> > menyelesaikan tugas-tugas demi bangsa dan negara.* (*)
> > Kok klise banget ya?
> >
> >
> >
> >
> >  ----- Original Message -----
> > *From:* Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
> > *To:* Undisclosed-Recipient:;
> > *Sent:* Tuesday, September 18, 2007 11:35 AM
> > *Subject:* [mediacare] Ketika Wartawan Kepresidenan Lelah Menunggu
Tanpa
> > Berita
> >
> >
> >
> >
> >
http://www.antara.co.id/arc/2007/9/18/ketika-wartawan-kepresidenan-lelah-menunggu-tanpa-berita/
> >
> >
> > *18/09/07 01:11*
> > Ketika Wartawan Kepresidenan Lelah Menunggu Tanpa Berita
> >
> > *Oleh Roike Sinaga*
> >
> > *Padang (ANTARA News) - Sejumlah wartawan media cetak dan
elektronik yang
> > ikut mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninjau korban
gempa ke
> > Bengkulu dan Sumatera Barat tampaknya tidak kuasa menahan rasa
dongkol,
> > terutama menyangkut jadwal yang tidak jelas.
> >
> > Ketidakjelasan itu sudah terlihat sejak rombongan mau berangkat dari
> > Jakarta melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin pagi, yang
> > jadwalnya molor dari pukul 07.00 WIB menjadi pukul 07.30 WIB.
> >
> > Petugas jurnalistik yang dianggap bagian dari perangkat Kepresidenan
> > memang kadang dihadapkan pada ketidakjelasan jadwal yang
dikeluarkan Biro
> > Pers dan Media Istana Kepresidenan.
> >
> > Di satu sisi, wartawan selalu ditekankan harus tepat waktu, sesuai
dengan
> > jadwal yang ditetapkan, namun di sisi lain jadwal yang dikeluarkan
terkadang
> > kurang akurat, dan bahkan sering molor tanpa penjelasan.
> >
> > Seorang wartawan LaTivi yang akan meliput kegiatan Presiden ke
Bengkulu
> > dan Sumatera Barat, misalnya, telah hadir di Pangkalan TNI AU,
sejak pukul
> > 04.50, meski jadwal keberangkatan pukul 07.00 WIB, yang disusul
wartawan
> > lainnya.
> >
> > Presiden bersama rombongan termasuk wartawan menggunakan pesawat
> > Kepresidenan akhirnya berangkat, walaupun waktunya molor setengah
jam, dan
> > tiba di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, sekitar pukul 09.00 WIB.
> >
> > Kepala Negara yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri
> > seperti Menteri PU Djoko Kirmanto, Menkes Siti Fadilah Supari,
Panglima TNI
> > Marsekal TNI Djoko Suyanto, dan Wakil Ketua DPD-RI Bambang Suroso,
langsung
> > meninjau Satkorlak Provinsi Bengkulu, guna mendengarkan paparan dari
> > Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin, sekaligus memberi bantuan
secara
> > simbolis kepada korban.
> >
> > Satu jam kemudian, Presiden bersama rombongan berangkat
menggunakan empat
> > helikopter menuju Kabupaten Muko-Muko di Bengkulu Utara, yang
dilanjutkan ke
> > Kecamatan Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera
Barat, dan
> > setelah itu menggunakan kendaraan mobil ke Balai Salasa, Kecamatan
Rana
> > Pesisir.
> >
> > Gempa teknonik berkekuatan 7,9 pada Skala Richter mengguncang
Bengkulu dan
> > Sumbar pada Rabu (12/9) pukul 18.10.23 WIB dan diikuti beberapa
kali gempa
> > susulan di beberapa daerah termasuk Padang, Sumatera Barat.
> >
> > Hingga Minggu pagi, korban meninggal akibat gempa tersebut tercatat 23
> > orang, 88 orang luka-luka, baik luka berat atau ringan.
> >
> > Para korban meninggal dunia itu tersebar di sejumlah lokasi yakni di
> > Bengkulu Utara enam (6) orang, Padang (3), Bengkulu (2), di
Mentawai (3),
> > satu orang di Jambi, satu orang di Solok dan tujuh orang di Kabupaten
> > Mukomuko.
> >
> > Selain itu, bencana alam tersebut juga memporakporandakan sejumlah
rumah
> > penduduk, lahan pertanian, dan berbagai fasilitas umum.
> >
> > Dari sisi pemberitaan, melihat lokasi dan korban gempa merupakan suatu
> > pengalaman berharga yang bagus diwartakan kepada masyarakat.
Namun, dari
> > empat helikopter yang tersedia, wartawan yang bisa ikut meliput
hanya tiga
> > media. Bahkan, wartawan ANTARA News yang sedianya sudah
dijadwalkan ikut
> > bersama rombongan, terpaksa tidak bisa ikut serta.
> >
> > Seorang wartawan media televisi swasta yang tidak bersedia menyebutkan
> > jati dirinya mengatakan, "Percuma saja jauh-jauh dari Jakarta,
kalau tidak
> > bisa ikut meliput dari dekat".
> >
> > Bahkan ia menengarai, ketidaksiapan Biro Pers menyediakan tempat bagi
> > sejumlah wartawan karena banyak di antara rombongan yang ikut
justru adalah
> > "orang-orang yang tidak jelas".
> >
> > Wartawan yang tidak bisa berangkat dengan helikopter Kepresidenan,
> > akhirnya berangkat ke Sumbar dari Bandara Fatmawati Bengkulu
sekitar pukul
> > 11.20 WIB, dan tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul 12.00 WIB.
> >
> > Setelah itu, wartawan kemudian digiring ke salah hotel di kawasan
Jalan
> > Gereja, di Kota Padang. Di sini, lagi-lagi jadwal tidak jelas.
> >
> > Wartawan sempat "istirahat" sekitar satu setengah jam, untuk
selanjutnya
> > dengan menggunakan mobil menuju ke kediaman atau rumah dinas
Bupati Painan,
> > Kabupaten Pesisir, Sumbar.
> >
> > Dalam suasana puasa, perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 2,5
jam itu
> > tentu menambah lelah.
> >
> > Berharap dapat bertemu dengan Presiden untuk menanyakan ihwal
kunjungan ke
> > lokasi gempa, wartawan tetap antusias karena sejak siang hari
wartawan tidak
> > memperoleh berita yang akan dikirim ke redaksi masing-masing.
> >
> > Menurut informasi dari Biro Pers Istana, Presiden akan memberikan
> > keterangan pers sekitar pukul 21.00 WIB, di hadapan para bupati,
walikota
> > dan unsur Muspida se-Sumbar.
> >
> > Wartawan yang sebelumnya sedikit mengumpat karena jadwal yang
tidak jelas
> > tersebut, sedikit banyak terobati setelah mendapat suguhan buka
puasa di
> > kediaman Bupati.
> >
> > Sekitar pukul 21.15 WIB, raungan sirine rombongan Presiden memasuki
> > halaman rumah dinas Bupati.
> >
> > Wartawan yang sudah lelah menunggu, sedikit memancarkan wajah
sumringah
> > karena berharap dapat berita dari paparan terkait kondisi tanggap
darurat
> > yang dilaporkan Gubenur Sumbar Gamawan Fauzi, termasuk arahan dari
Presiden.
> >
> > Di pendopo bagian belakang rumah Bupati Painan, tampak persiapan sudah
> > dilakukan seperti kursi untuk para tamu, dan perangkat sound system.
> >
> > Namun, sesaat kemudian diinformasikan bahwa Presiden dinyatakan
tidak jadi
> > memberikan keterangan pers.
> >
> > Sontak wartawan yang sejak sore menunggu kembali lemas dan lunglai,
> > meskipun diinformasikan bahwa Kepala Negara akan memberi
keterangan pada
> > esok harinya tanpa menetapkan waktu dan tempatnya.
> >
> > "Kemungkinan di Bandara Minangkabau, bisa juga di rumah Bupati,
tapi bisa
> > juga di Halim, ah terserahlah," celetuk seorang wartawan media cetak.
> >
> > Para wartawan yang makin merasa lelah, akhirnya keluar secara
teratur dari
> > lingkungan kediaman Bupati Painan, menggunakan mobil menuju kota
Padang.
> > Lagi-lagi menempuh perjalanan melelahkan karena melalui perbukitan dan
> > pesisir pantai.
> >
> > Tentu, inilah sebagian pengalaman meliput kegiatan Kepresidenan.
Selain
> > lelah tentu juga segudang pengalaman yang menggembirakan dan
menyenangkan.
> >
> > Namun, lelah yang dirasakan wartawan tersebut tentunya sangat tidak
> > sebanding dengan lelah Kepala Negara yang tanpa hentinya bekerja
> > menyelesaikan tugas-tugas demi bangsa dan negara.* (*)
> >
> > *Copyright (c) 2007 ANTARA*
> > [image: Send]  [image:
Print]<http://www.antara.co.id/print/?id=1190052719>
> >
> >
> >  ------------------------------
> >
> > No virus found in this incoming message.
> > Checked by AVG Free Edition.
> > Version: 7.5.487 / Virus Database: 269.13.22/1013 - Release Date:
> > 17/09/2007 13:29
> >
> > 
> >
> 
> 
> 
> -- 
> If you're a loser and seek to improve yourself by reading self-help
books
> then you're being helped by a loser. So Forget it..
>


Kirim email ke