Bloknota Sekitar Melayu (4) : Gema Gairah Kiprah Penyair Melayu Kepri
Oleh: A. Kohar Ibrahim
http://www.bekasinews.com
Gema Gairah Kiprah Penyair Melayu Kepri
Bloknota Sekitar Melayu (4)
Oleh A.Kohar Ibrahim
KEDUA karya puisi baik yang dari Barat (Baudelaire) maupun yang dari Timur
(Usman Awang) tersebut di atas itu saya anggap merupakan pertanda utama,
fenomenal sekaligus monumental dalam kesamaan menyanyikan lagu manusia atau
kemanusiaan yang universal ; kendati dengan kekhasan kandungan nada irama dan
nuansanya masing-masing. Namun, satu hal yang saya hendak garisbawahi adalah
betapa makna perpuisian yang mampu mengungkap-angkat sekaligus mengumandangkan
kejiwaan bangsa-bangsa manusia di jagad alam raya. Hal mana hanya merupakan
bukti kelayak-selarasan awal-mula tumbuh dan perkembangannya dengan keberadaan
ummat manusia. Semenjak diekspresikan secara lisan dan selanjutnya secara
tulisan, dalam ragam macam bentuknya.
Oleh karena itu, wajarlah jika kerap kali terdengar gema bahkan suara santar
dari kaum cerdik pintar, khususnya para penyair sendiri, yang menyatakan
kepeduliannya akan maju-mundurnya alam perpuisian yang digelutinya. Hal mana
hanya membuktikan gerak dinamika hidup dan kehidupan masyarakat umumnya,
khususnya kehidupan kesusastraan, dan lebih khusus lagi : perpuisian. Gerak
hidup dan kehidupan yang hakikinya adalah perjuangan di segala bidangnya.
Demikianlah, apakah dari dekat ataukah dari kejauhan, belakangan ini adalah
pertanda yang menyegarkan suasana alam perpuisian di Dunia Melayu, kongkretnya
Riau Kepulauan. Yang mau tak mau juga menyegarkan suasana alam perpusian
Indonesia. Jika diingat saling seling silang kait berkaitan sejarahnya baik
dalam makna penting Bahasa maupun Kesusastraan. Dengan pelestarian warisan yang
baik sekaligus pengembangannya. Makna pemaknaan terpenting dari Pelestarian
Warisan tersebut tak lain tak bukan adalah aktivitas-kreativitas kesusastraan
baik dalam bentuk prosa maupun puisi.
Salah satu pertanda yang saya maksudkan itu adalah Gelar Puisi Suryatati di
Gedung Teater Mini TMI Jakarta, yang justeru mengutarakan judul « Melayukah Aku
? ». Yang nyaris secara spontan mengasosiasikan kita pada karya puisi « Melayu
» Usman Awang tersitir di bagian pertama makalah ini sekalian kepada «
Gurindam Duabelas » Raja Ali Haji.
« Ape tande orang Melayu / Tunjuk ajarnye menjadi penentu / Kepada orang tue
hendaklah hormat / Supaya hidup jadi selamat » -- demikian baris baris kata
puitis bait pertama dari sajak Dra Suryatati Manan yang adalah juga
berkedudukan sebagai Wako Tanjungpinang, dalam berita yang dilansir Harian
Batam Pos 16 April 2007. Suatu « Pertunjukan yang sangat bagus » menurut
Wakil Bupati Bintan Mastur Taher. Yang selain adanya prestasi sekaligus
prestise penyair Tatik, juga tampil para penyair Kepri lainnya seperti
Hoesnizar Hood, Teja Alhab, Mastur Taher, Jenewal Muchtar, Machzumi Dawood dan
sang bintang jadi cemerlang belakangan ini, yakni : Tusiran Suseno.
Maka tak urung, gema kegairah-gembiraan akan terselenggaranya malam
pergelaran puisi itu adalah yang datang dari penyair sekaligus budayawan yang
juga berfungsi sebagai Ketua Dewan Kesenian Kepri. Khususnya dalam memaknai
bentuk pepuisian yang disajikan. Bahwa : « Puisi itu suatu bentuk dari bahasa
kejujuran. Dalam puisi itu terlihat ada sesuatu dalam pikiran yang terluahkan
dan didedahkan. »
Ujar kata Nizar itu jelas dengan nada kebanggaan, nyaris tanpa adanya
kekhawatiran jikalau tradisi yang baik jadi pudar bahkan ditinggalkan, seperti
dalam pernyataannya tahun 2002. Pada waktu « Parade Puisi Alam Melayu » yang
memeriahkan pembukaan Kenduri Seni Melayu Sedunia (KSM) di Batam. Seperti
dilaporkan Kompas 27 Oktober 2002.
Jika pada waktu itu ada kekhawatiran Nizar, penyair Kepri lainya, Tarmizi
yang dijuluki Si Rumah Hitam itu malah dengan lugas menyatakan : « Negeri
Melayu ini akan terasa sunyi jika tak ada puisi. Puisi atau sajak bagi orang
Melayu sudah menjadi roh pembangkit kekuatan moral dan spiritual. Nilai nilai
inilah yang sekarang mulai terlupakan. »
Akan tetapi, syukurlah, bahwa sementara itu juga timbul kesedaran, seperti
tercermin dari pernyataan penyair Kepri lainnya Samson Rambah Pasir yang
menjabat Sekretair Dewan Kesenian Batam sekaligus Sekretaris Panitia KSM itu.
Bahwasanya, Parade Puisi Alam Melayu yang sengaja ditampilkan pada awal
pembukaan KSM itu adalah « Sebagai pencerahan bagi seniman Melayu tentang
pokok-pokok pikiran penyair, setidaknya akan membuka wacana baru bagi
masyarakat Melayu di mana pun berada. » ***
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail