http://www.sinarharapan.co.id/berita/0709/21/sh03.html
Beras Bantuan untuk Korban Gempa Dijual Padang - Beras bantuan untuk korban gempa di Sumatera Barat sebanyak 1,5 ton dijual di Siberut Utara, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Beras itu terpaksa dijual karena minimnya dana operasional untuk distribusi logistik. Koordinator Distribusi Logistik Kecamatan Siberut Utara, Andom, ketika dihubungi SH, Jumat (21/9) pagi, mengatakan pihaknya terpaksa menjual beras karena distribusi logistik terganggu. Lagipula, dijualnya beras itu setelah ada kesepakatan antara masyarakat setempat dengan pihak pendistribusi. "Jumlahnya 1,5 ton, diambil dari bantuan sebanyak 5 ton. Bagaimana lagi, uang untuk bongkar muat beras dari kapal tidak ada. Lalu, distribusi sampai ke kecamatan semuanya butuh biaya," ungkapnya. Beras itu dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 100 ribu per karung. Setiap satu karung berisi 50 Kg. Setidaknya, pihaknya sudah menjual 30 karung beras untuk membayar ongkos bongkar muat dan membawanya ke kecamatan. "Sudah kami minta ke Pemkab Mentawai, namun mereka juga tidak memiliki uang," tutur Andom. Yang terjadi di Kecamatan Siberut Selatan juga demikian. Tapi, setelah masyarakat diberi pengertian, akhirnya beras yang masuk sebanyak 40 ton tidak dimintai upah bongkar muat oleh masyarakat. Namun biaya untuk membawa ke kecamatan, pihak pemerintah setempat terpaksa berhutang dulu. Sementara itu Camat Pagai Utara Selatan, Eliza Murti, mengungkapkan kondisi pengungsi di wilayahnya sangat memperihatinkan. "Penyakit mulai menghinggapi mereka. Tenaga kesehatan yang ada sebanyak lima orang tidak sanggup menangani pengungsi sebanyak 25 ribu jiwa," tuturnya. Sejak gempa terjadi di Mentawai, lima warga di Kecamatan Pagai Utara Selatan meninggal dan satu anak hilang saat berada di pengungsian. Dari Bengkulu dilaporkan, pascagempa di Provinsi Bengkulu pekan lalu, distribusi bantuan kepada warga korban gempa berlangsung lancar. Hanya saja, stok bantuan yang tersedia sudah menipis. Sementara itu, penyetopan truk-truk pengangkut bantuan oleh warga di sepanjang jalan kawasan Kabupaten Arga Makmur, Kecamatan Lais masih terus berlangsung. Oleh karena itu, Camat Lais, Siti Qoriah, menjelaskan kendaraan pengangkut bantuan dikawal oleh aparat kepolisian dan Brimob. Bahkan bantuan juga diangkut dengan truk aparat keamanan. Saat ini, di Kecamatan Lais, dari 457 rumah yang rusak total dan sekitar 1.500 rumah rusak berat, baru mendapatkan bantuan tenda keluarga sebanyak 49 buah. "Jumlah tenda keluarga yang dimaksudkan untuk keluarga yang rumahnya rusak total, tentu saja masih kurang," ujarnya. Pendataan ulang juga terus dilakukan oleh pihak kecamatan maupun tim gabungan provinsi-kabupaten. "Hasil pendataan sementara, ada data yang berubah. Ada yang jumlahnya bertambah dan ada yang berkurang. Karena memang data awal dulu dilakukan tergesa-gesa. Tetapi, umumnya perubahan yang ada tidak begitu mencolok," jelas Siti Qoriah. Sedangkan warga Argamakmur, Desa Karanganyar 2, Kecamatan Kota, Bengkulu Utara, Warsiman, yang rumahnya rusak berat, mengakui bantuan yang diterimanya baru sikat gigi, odol, dan mie instan dua bungkus. Bantuan beras belum diterimanya. Begitupun tenda yang digunakan saat ini, merupakan tenda milik sendiri yang kondisinya sangat tidak memadai. "Bisa dibayangkan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan perut dengan mie instan dua bungkus. Beruntung persediaan beras kami masih ada dan kondisi juga sudah berangsur normal. Sudah ada toko dan warung yang buka. Kalau tidak, mungkin ada warga yang mati kelaparan bukan karena gempa," jelas Warsiman. Versi Bakornas Di lain pihak, Deputi Penanganan Bidang Darurat Bakornas, Thabrani, menjelaskan bahwa semua titik kerusakan akibat bencana di Sumatera Barat dan Bengkulu sudah dapat dijangkau oleh jalur distribusi bantuan. "Beberapa anggota Bakornas masih di lokasi bencana, melaporkan bahwa dampak bencana tidak separah yang digambarkan beberapa media. Daerah terparah di Sumatera Barat adalah di Mentawai dan Pesisir Barat," katanya, Jumat ini. Thabrani mengungkapkan sejak hari petama pengiriman bantuan berupa sembako, obat-obatan dilakukan dengan hercules yang membawa tenaga dokter. Bantuan juga dikerahkan dari Lampung dan Palembang. "Namun karena pemerintah setempat di Bengkulu dan Sumatera Barat belum bisa berfungsi maka jalur distribusi ke beberapa titik akibat korban bencana tidak tersalurkan dengan baik. Sementara itu Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo sedang mendata jumlah sekolah yang rusak dan harus segera diperbaiki. "Untuk sementara pendidikan dilakukan di tenda-tenda dulu. Kita butuh 6 bulan untuk memperbaiki sekolah-sekolah itu," jelasnya ketika dihubungi SH. Sedangkan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) akan segera mengirimkan Mobile Training Unit (MTU) ke permukiman transmigrasi yang terkena gempa bumi di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Muko-muko, Provinsi Bengkulu. MTU tersebut diperbantukan dari kabupaten-kabupaten terdekat dan Jakarta, kata Menakertrans Erman Suparno usai menyerahan bantuan dari Depnakertrans dan PT Jamsostek (Persero), Kamis (20/9), di Kantor Gubernur Bengkulu. Erman menggaris bawahi pentingnya MTU untuk mendidik pemilik rumah, memperbaiki rumahnya sendiri, mengingat sulitnya jika mendatangkan tukang untuk memperbaiki 220 ribu rumah yang rusak. "Masyarakat diajak mendaur ulang bangunan rumah mereka, sekaligus mengajari cara memasang beton yang baik," ujarnya. Gubernur Bengkulu Agustin M Najamuddin, mengakui bahwa daerah permukiman transmigran di Bengkulu Utara dan Muko-muko paling parah terkena dampak gempa. "Sembilan puluh persen kawasan yang rusak merupakan kawasan permukiman transmigran, dimana rumah-rumah banyak yang kondisinya sudah hancur. Kalaupun tidak ambruk, sudah tidak ada dindingnya lagi," katanya. (purwandi/muhamad nasir/ web warouw/ danang murdono)
