Bloknota Sekitar Melayu (5) :
Melestari Tradisi Makna Memaknai Puisi Melayu Kepri
Oleh A. Kohar Ibrahim
http://www.bekasinews.com
Melestari Tradisi Makna Memaknai Puisi Melayu Kepri
Bloknota Sekitar Melayu (5)
Oleh : A.Kohar Ibrahim
BISA saja memang demikian adanya. Seperti halnya, bisa juga pemaknaan Nizar
akan perpuisian. Yang baginya, « berpuisi bagi orang-orang Melayu merupakan
sebuah alat komunikasi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Membaca sajak atau
puisi menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan moral akan apa yang
terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, membaca sajak atau puisi menjadi
bagian tak terpisahkan bagi alam Melayu. »
Bisa saja, seperti halnya juga ummat manusia lainnya di bagian lain bola bumi
ini. Orang India mengenal puisi sejak 1200 tahun SM (3207 tahun lalu). Orang
Tionghoa sudah menikmati puisi mereka sejak1000 tahun SM. Orang Persia sejak
800 tahun SM. Orang Eropa sejak 800 SM sudah memiliki penyair besar bernama
Homere. Dunia lahir, Homere nyanyi, ungkap Victor Hugo dalam makna memaknai
sang penyair legendaris itu dalam hubungan tak terpisahkan dengan dunianya
alam dan masyarakat manusianya.
Iya, bisa saja begitu keadaannya. Kebisaan yang bisa jadi kebiasaan atau
tradisi yang baik dalam jalur jelujur perjalanan sejarah hidup kehidupan umat
manusia. Dalam perjuangan yang panjang untuk menjadi manusia yang lebih
manusiawi dengan segala variasi budi-daya-nya yang biasa dan luarbiasa serta
tanpa kenal henti sejak zaman dahulu kala. Dalam mana bentuk seni puisi adalah
pertandanya yang signifikan.
Oleh karena itu, tidaklah begitu mengherankan jikalau adanya
kegelisah-galauan sementara kalangan seniman, terutama sekali para penyairnya
yang peduli situasi-kondisi tradisi yang baik sepertinya dalam keadaan
memprihatinkan. Seperti yang antara lain diekspresikan oleh beberapa penyair
Riau Kepulauan tersebutkan di atas. Hal itu wajar-wajar saja selaras peran
kesenimanan ataupun kecendekiawanan mereka. Yang meskipun masih jauh dari
memenuhi harapan, sudah menindak-lanjuti kegelisah-galauan itu dengan iringan
aktivitas-kreativitas, bukan hanya dalam penerbitan karya tertulis melainkan
juga pementasan.
Yakni berupa Gelar Puisi di KSM dan di Teater Mini TMI Jakarta dan yang
semacamnya lagi. Yang kesemarakannya kian bertambah dari masa ke masa. Seperti
Resital Sastra dari Negeri Kata-Kata di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail
Marzuki Jakarta, 29 Januari 2007. Dengan penampilan yang layak dari para
penyair Kepri: Tarmizi, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, Machzumi Dawood,
Hoesnizar Hood dan Hasan Aspahani. Yang terakhir ini mengutarakan baris baris
kata puitis sinis, pedas tapi manis, segar tapi menggetar hati dan pikiran
pendengar. Ungkapannya, antara lain: Perahu / Saudagar / Belajar, dari Bandar
ke Bandar, rumah pecah beribu / Kamar, tengah menganga, sejarah samudera
berdarah luka / Keduanya tidak bisa lagi ditawar, tak bisa lagi diputar, tak
pula dapat ditukar / Perahu / Bandar / Bertolak belayar mencari jangkar,
saudagar tak sempat lagi menghitung dinar / Menghitung ringgit, menukar dollar.
Selanjutnya (9/3), gema yang menggugah-gairah alam budaya Indonesia umumnya,
khususnya Kepri, tentulah terselenggaranya Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ
2006. Dengan salah sebuah bintang cemerlangnya sastrawan kelahiran
Tanjungpinang 30 Juni 1957: Tusiran Suseno. Yang meraih pemenang kedua, dengan
hasil karyanya berjudul: Mutiara Karam. Suatu prestasi yang menambah prestise
budaya, bukan saja diri pribadi sang pengarang melainkan juga Kepri bahkan
Indonesia di mata dunia.
Oleh karenanya prestasi-prerstise tersebut sekaligus merupakan pertanda
penting dari rangkaian dinamika perjuangan pelestarian tradisi yang baik,
dengan bukti aktivitas-kreativitas kesusastraan di bumi Melayu yang bernama
Riau Kepulauan ini. ***
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail