--- nur iswan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Kang ucu,
tolong ceritakan padaku tentang media massa banten 
apa saja itu koran? tabloid? majalah dan radio yg
ada di banten. berpa yg di internet. Dimana basisnya,
tangerang atau serang?
 
bgmn kualitasnya? berapa oplahnya? berapa
wartawan-nya? bgmn kualitas pemberitaannya? apakah
publik banten skrg menjadikan koran sbg acuan mereka
atau bacaan mereka. Kalau saya di menes, mudahkah
saya memperoleh koran lokal semisal radar atau fajar
banten?
 
thx banget kang ucu (saya kalau nyebut Ucu ini,
ingat ibudna saya, yg namanya persis sama Utju).

--- ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Waduh, saya neh bukan pengamat pers. Dan saya bingung,
kang iswan sekarang ada dimana? 

Tapi nevermind, per-koran-an di Banten lebih dikuasai
oleh 2 grup besar koran nasional. Yaitu grup jawa pos
dan grup pikiran rakyat.(jadi sebetulnya belum ada
koran lokal Banten itu)

Dari grup pikiran rakyat, diwakili oleh fajar banten.
Sedangkan grup jawa pos lebih agresif menguasai pasar.
Ada Radar Banten, Satelit News dan Indopos (Indo pos
sebenarnya koran nasional, namun berkonsep lokal). 

Ketiga koran tsb, yang boleh dibilang stabil beredar
di Banten. Asiknya, mereka masing-masing telah
mempunyai segmen pasar sendiri-sendiri. Satelit News
anteng di Tangerang, Radar Banten lebih mencitrakan
dirinya koran rakyat Banten. Sedangkan Fajar mengikuti
fitrah bapaknya (Pikiran Rakyat) jadi koran semi plat
merah. 

Namun, bila dilihat dari sisi keuangan, Radar Banten
tampaknya menjadi leader koran di Banten. Sudah
beberapa tahun lalu, Radar Banten telah mencetak
keuntungan. Sementara saudaranya, satelitnews walau
mendapat kerjasama dari Pandeglang yang cukup besar,
laporan tahunan mereka menyebutkan masih rugi saja.

Sedangkan Fajar Banten, isunya masih simpang siur.
Tapi saya lebih condong mengatakan, fajar pun belum
memetik keuntungan.

Koran lainnya baru ada Tangerang Tribun, menurut kabar
kepunyaan Ismet dan zaki. Belum bisa dihitung sebagai
kompetitor. Namun dilihat beritanya, koran ini
mengambil posisi non Atut. 

Selebihnya, media cetak di banten mengambil bentuk
Tabloid, Buanyak sekali. Dan lebih buanyak lagi bila
menjelang pilkada. 
Seingat saya ada wacana (tidur), Banten Ekspose (2
mingguan), Komunitas, interaksi banten, pos banten,
koran banten, dan buanyak lagi. Namun rata-rata mereka
mengambil posisi tereak kalo gak kebagian.

Diperkirakan jumlah wartawan (baik wartawan bener,
bodres, wts atau ojp) yang ada di Banten berjumlah
diatas 200 orang. 

Sedangkan untuk radia, selama pemain lama, RSPD (Radio
daerah), PSB, ada HOT, TOP, Megaswara, Dimensi,
PowerHits dan banyak. Saya gak apal, soalnya gak doyan
dengerin radio (gak punya radio). Tapi menurut Edi
Lutfie, jatah FM di Banten udah habis. 

Kalo Kang Iswan menanyakan kemudahan mendptkan media,
jelas media radio mudah didapat. Itu pun dengan corak
setempat dan dangdut seperti pbs, rspd dan yang lagu
naik daun megaswara. 

Sementara berbicara tentang media cetak, beredarnya
masih disekitar ibukota kabupaten/kota saja (kecuali
tangerang). Ke pedesaan masih jauh dari mimpi.

Kitu bae kang Iswan. Hapunten ari nami abdi sami
sareung nama ibunda. Kaleuresan bae. [Archive].

  
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke