Oleh: Asnawin
email : [EMAIL PROTECTED]
Sepasang suami isteri bersama dua anaknya yang masih bocah,
berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah berbelanja di sebuah
supermarket, sang isteri mengajak suami dan anak-anaknya ke toko
pakaian.
Dari luar toko terpampang tulisan besar Diskon 50%+20%. Ada juga
yang tertulis langsung Diskon 70%.
Setelah melihat-lihat, ternyata memang banyak pakaian yang diskon,
mulai dari 10% hingga 70%. Tetapi setelah diteliti, ternyata harga
pakaian sudah dilipatgandakan dari harga normal.
Pakaian yang sebelum Ramadan harganya paling tinggi Rp 35.000, kini
harganya menjadi Rp 133.000, kemudian di atasnya ada kertas
bertuliskan diskon s/d 70%. Itu artinya, diskon pakaian belum tentu
70%, melainkan paling tinggi 70%. Tulisan 's/d' yang artinya 'sampai
dengan', juga ditulis dengan huruf kecil, sehingga banyak orang
terkecoh.
Masih di toko pakaian yang sama, ada tulisan "harga mulai dari Rp 15.
000", tetapi tulisan "mulai dari" sangat kecil sehingga nyaris tidak
terbaca oleh pengunjung.
Dengan berbagai bentuk penipuan itu, akhirnya banyak pengunjung yang
terkecoh sehingga ada beberapa kejadian lucu.
Ada pengunjung yang tersenyum-senyum, ada pengunjung yang mengejek
penjaga toko, ada pengunjung yang mengumpat, dan ada juga pengunjung
yang batal membayar pakaian yang sudah dipilih, karena ternyata
harganya tidak sesuai yang disangka sebelumnya.
"Sungguh terlalu!," kata sang isteri kepada suaminya.
***
Pada hari Sabtu, sang isteri mengajak suaminya ke pasar untuk
persiapan buka puasa dan makan sahur. Suasana hati sang isteri sedang
bagus, karena suaminya memberikan uang yang cukup untuk berbelanja,
dan sepanjang jalan menuju pasar, keduanya asyik bercanda ria.
Di pasar, sang isteri masuk ke pasar, sedangkan suaminya menunggu
sambil membaca koran di tempat parkir. Sekitar satu jam kemudian,
sang isteri muncul dengan wajah yang kurang ceria.
Sebelum ditanya, sang isteri langsung 'memberitakan' bahwa harga
ikan, sayur, dan rempah-rempah naik drastis, sehingga sisa uangnya
tinggal sedikit.
"Sungguh terlalu!," kata sang isteri kepada suaminya.
***
Pulang dari pasar dan sebelum berbelok masuk ke halaman rumah
kontrakannya, pasangan suami isteri itu berpapasan dengan ibu paruh
baya tetangganya yang kaya raya dan rumahnya besar tetapi tertutupi
oleh pagar dan tembok tinggi.
Sang isteri tersenyum dan suaminya pun menunduk, tetapi tetangganya
hanya memandang mereka dengan tatapan mata kosong, tanpa tegur sapa,
dan tanpa senyum sama sekali.
"Sungguh terlalu!," kata sang isteri kepada suaminya.
***
Sambil memasak, sang isteri mengajak suaminya ngobrol-ngobrol.
Obrolan santai terjadi, tetapi keduanya tidak saling memandang,
karena sang isteri sambil memasak dan suaminya sambil membaca koran.
Suaminya kemudian membacakan sebuah berita aksi unjuk rasa sejumlah
karyawan di sebuah perusahaan. Para karyawan itu protes karena
perusahaan memberlakukan berbagai aturan yang ketat, tetapi tidak
dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan, padahal perusahaan
mendapatkan keuntungan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Para karyawan juga menuntut pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR)
sesuai aturan yakni dibayarkan paling lambat satu minggu sebelum
lebaran, dan besarnya minimal sama dengan gaji sebulan.
Tahun lalu, perusahaan itu terlambat membayarkan THR dan besarnya
pun hanya 70% dari gaji.
"Sungguh terlalu!," kata sang isteri kepada suaminya.
***
Seusai buka puasa dan salat magrib, sang isteri mengambilkan
suaminya kue dan teh hangat. Bersama kedua anaknya, mereka pun makan
kue sambil ngobrol.
Ketika sang isteri sedang mengangkat gelas yang berisi teh hangat,
tiba-tiba terdengar suara petasan yang cukup besar. Sang isteri kaget
dan gelasnya terlepas jatuh. Gelas pecah dan tentu saja air tehnya
tumpah.
"Sungguh terlalu!," kata sang isteri kepada suaminya.
Makassar, 22 September 2007
(dimuat di harian Pedoman Rakyat, Makassar, 24 September 2007)