"..Untuk tidak bersilat kanan kiri melainkan berterusterang bisa
dikatakan kepada yang yang beragama Nasrani ialah kalau Anda tidak
mempunyai teman beragama Islam atau tidak bisa naik pangkat sampai
menjadi presiden NKRI, janganlah repot-repot dan banyak ngoceh sebab
Allah telah tentukan demikian!"
Kalau boleh komentar: Katanya Allah Maha Adil Bijaksana Pengasih
Penyayang. Yang satu diskriminan (benci Yahudi dan Nasrani). Yang
satunya toleran (berkawan dan saling melindungi Yahudi dan Nasrani).
PANCASILA dasar baku dimana budaya peradaban manusia dapat tumbuh dan
berkembang, fundamen yang kokoh, semen beton kuat untuk orang-orang
Indonesia yang menyadari keIndonesiaannya (Indosianist), jati-
dirinya! Sejarah telah mengujinya dengan berbagai pemberontakan
Masyumi DI TII Permesta RMS dan sebagainya...
Sayang akibat tragedi kemanusiaan 1965 orang-orang 'Nasionalis dan
Komunis' yang betul-betul mewakili golongan cikal-bakal rakyat orang-
orang nurmal biasa Indonesia 'diabisi' tanpa ada penyeselesaian
secara hukum yang adil dan demokratis.
Orang-orang 'menghujat' Presiden ORBA Jendral Haji Soeharto. Betul,
namun siapa pelaku-pelakunya di desa-desa dan kota-kota? Pak Harto
hanya punya dua tangan dan dua kaki? Bagaimana sampai ratusan ribu
(300.000 kata laporan resminya) orang-orang dari berbagai desa
diangkut di truk dibunuh bahkan dikubur hidup-hidup. Siapa pelaku-
pelakunya?
Singkatnya kalau dulu jaman Bung Karno Jaya ada NASAKOM. Sejak ('NAS'
dan 'KOM') sudah diabisi tinggal 'A' saja. Ibarat dulu ada kompetisi
juara segitiga sepak bola. Sekarang golongan 'A' menang tanpa ada
saingan dan perlawanan. Atau 'kalah menang nyerik' kata Kang Kromo
Suto di desa-desa Pulau Jawa.
Ada baiknya tidak mengulangi sejarah lama di mana 'agama dominan'
selalu dipakai alat untuk 'mengalahkan' pihak-pihak yang
berseberangan. Sekarang zamannya perjuangan peradaban yang
demokratik. Gotong-royong membangun desa, kota dan ibukota serta
pusat pemerintahan yang transparan, aman dan demokratik-pluralistik!
Apakah kita tidak senang hidup aman, toleran, rukun, gotong-royong,
bebas dan merdeka?
salam bung yono (sby).
--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Tejo yang baik,
>
> Pancasila mempunya kelemahan fatal dengan sila pertamanya
yaitu "Ketuhanan yang MahaEsa" untuk demokrasi dan masyarakat
pluralistik multikultural. Silahkan lihat Al Quran 5:51.
>
> Bagi yang tidak memiliki Al Quran atau memiliki tetapi tidak pernah
membaca ayat tsb yang berbunyi:
>
> "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka
adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim".
>
> Terjemahan disahkan oleh Departemen Agama NKRI dengan surat Menteri
Agama RI No. 144 thn 1989 tang 5 Juli 1989.
>
> Terjemahan tsb berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Inggris yang
disayahkan oleh "The Supreme Suni and Shii Councils of the Republic
of Lebanon (1980). Bedanya dengan versi terjemahan Indonesia ialah
tidak ada kata "friend [s]" yang artinya kawan, teman. Untuk jelasnya
dikutip ayat tsb dalam bahasa Inggris sebagai berikut:
>
> "Believers, take neither Jews nor Christians for your friends and
protectors. They are friends and protectors of one another. Whoever
of you seeks their friendship and supports them shall become one of
their number. Allah does not guide the wrongdoers".
>
> Silahkan merenungkan dan bergumullah dengan penguasa langit nan
biru untuk keterangan lebih lanjut.
>
> Untuk tidak bersilat kanan kiri melainkan berterusterang bisa
dikatakan kepada yang yang beragama Nasrani ialah kalau Anda tidak
mempunyai teman beragama Islam atau tidak bisa naik pangkat sampai
menjadi presiden NKRI, janganlah repot-repot dan banyak ngoceh sebab
Allah telah tentukan demikian!
>
> Wassalam,
> ----- Original Message -----
> From: Tejo Sulaksono
> To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; media care ; nasional-
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Sunday, September 23, 2007 7:26 AM
> Subject: Re: [HKSIS] Pancasila sebagai Asas Tunggal Parpol
Dipersoalkan
>
>
> Pancasila yang dijalankan menurut satu dari silanya, yaitu
demokrasi, akan dapat mengawal pemberlakuan semua silanya. Pancasila
dengan aplikasinya semacam itu dapat mengawal NKRI, juga sila yang
sangat penting - keadilan sosial, dan
> pluralisme juga multikulturalisme. Pluralitas (kemajemukan) yang
ada dengan Pancasila akan sukar ditelikung jadi monolitisme ideologi
dan budaya. Jelas, kan?
>
> HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> SUARA PEMBARUAN DAILY
> --------------------------------------------------------------------
--------
>
> Pancasila sebagai Asas Tunggal Parpol Dipersoalkan
>
>
> SP/Charles Ulag
> Pengamat politik LIPI, Fachry Ali (kanan), bersama anggota
Fraksi Partai Amanat Nasional DPR, AM Fatwa (tengah), dan anggota
Fraksi Partai Golkar DPR, Idrus Marham, berbicara dalam
diskusi "Wacana Asas Tunggal Pancasila" di Gedung MPR/DPR, Senayan,
Jakarta, Jumat (21/9).
> [JAKARTA] Usulan penerapan asas tunggal Pancasila bagi partai
politik (parpol) dalam daftar inventarisasi masalah (DIM) RUU Parpol
oleh Partai Golkar, PDI-P, dan Partai Demokrat mendapat tanggapan
beragam.
> Pengamat dan politisi di DPR berbeda pendapat soal usulan
tersebut. Mereka mempersoalkan, penerapan asas tunggal Pancasila bagi
parpol sarat dengan kepentingan partai sekuler.
> Ketua DPP Partai Golkar (PG), Idrus Marham mengatakan,
Pancasila harus menjadi asas bersama partai politik atau common
ideology. Dan ia membantah anggapan bahwa partainya ingin menerapkan
asas tunggal Pancasila seperti pada zaman Orde Baru. "Kami ingin
menerapkan Pancasila sebagai asas bersama parpol atau common
ideology," katanya saat diskusi Dialektika Demokrasi di Gedung DPR,
Jakarta, Jumat (21/9).
> Idrus menjelaskan, fungsi Pancasila adalah merangkai ideologi
yang ada termasuk Islam. Bukan seperti Orde Baru yang
memberangusnya. "Tapi ideologi politik tidak boleh bertentangan
dengan ideologi bersama," tegas dia.
> Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN), AM Fatwa
menyatakan kalau ada partai yang ingin mengkampanyekan asas tunggal
sah-sah saja, namun dia meminta agar tidak memaksa partai yang lain.
> Meskipun Idrus mengatakan tidak akan menerapkan asas tunggal
seperti Orde Baru, tetapi kata Fatwa, masyarakat akan tetap melihat
sebagai upaya penerapan asas tunggal. "Ini dampak politik yang ada di
masyarakat," tuturnya. Sementara itu, Sekretaris Fraksi PDI-P, Ganjar
Pranowo mengatakan, partainya hanya bermaksud ingin merevitalisasi
ideologi Pancasila. "Kita ingin merevitalisasi Pancasila karena
bangsa ini belum selesai. Bhinneka Tunggal Ika belum diterima
sepenuhnya," ungkapnya.
> Ketua Pansus RUU Parpol ini menjelaskan wacana tersebut muncul
saat fraksi membacakan pengantar DIM. Kemudian usulan tiga fraksi
atas asas Pancasila memicu tudingan penerapan kembali asas
tunggal. "Sepertinya perdebatan ini akan panjang," tandasnya.
> Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Fachry Ali menilai hal itu merupakan bentuk ketakutan mereka terhadap
kekuatan partai Islam. "Gagasan ini jelas sekali merupakan ketakutan
munculnya partai-partai Islam. Makanya muncul dari PDI-P dan Golkar,"
kata Fachry.
> Fachry mengatakan, kekuatan Islam saat ini memang patut
diperhitungkan oleh partai sekuler. Dia juga menduga ada political
game di parlemen atas hal itu. Apapun alasannya, Fachry menyayangkan
usulan tersebut. "Membuat asas tunggal itu antidemokrasi dan
cenderung militeristik," tegasnya.
> Usulan
> Usulan asas tunggal disampaikan oleh FPDI-P dengan pemahaman
bahwa dasar negara adalah Pancasila, sehingga diharapkan dasar semua
parpol pun juga sama, yakni berasaskan Pancasila. Sebagai contoh,
ketika parpol menggunakan asas Islam, maka ketika menjadi kepala
daerah seringkali lahir peraturan daerah yang bernuansa syariat.
> Namun, PDI-P menolak kalau langkah mereka diartikan sebagai
upaya kembali ke asas tunggal seperti masa Orde Baru, karena asas
Pancasila diberlakukan pada semua parpol, tapi ciri khas setiap
parpol dipersilakan memilih sendiri. Selain FPDI-P, FPG, dan Fraksi
Partai Demokrat juga mengusulkan adanya penyeragaman asas partai
politik tersebut.
> Usulan adanya asas tunggal itu, mendapat tentangan di antaranya
oleh Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP). Sebelumnya, Sekjen
DPP PPP Irgan Chairul Mahfiz menilai bahwa adanya usulan kembali
menggunakan Pancasila sebagai satu-satunya asas partai politik dalam
UU Parpol oleh sejumlah pihak menunjukkan bahwa amanat reformasi
kembali memperoleh tantangan.
> Bagi PPP dan sejumlah partai Islam lainnya, isu Islam dan
Pancasila sudah selesai, butir-butir dan substansi Pancasila telah
terakomodasi dan diadopsi sebagai mission statement dan dirumuskan
dalam khitah perjuangannya.
> "Karena itu sebaiknya biarkan saja rumusan asas partai dalam UU
Parpol seperti sekarang ini, tidak usah dikutak-katik lagi, biar
rakyat menentukan dalam pemilu," ujarnya. [L-8]
>
> --------------------------------------------------------------------
--------
> Last modified: 21/9/07
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------
----------
> Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Try
it now.
>
>
> --------------------------------------------------------------------
----------
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.28/1021 - Release Date:
9/21/2007 2:02 PM
>