Apa-apaan ini?

Saya memang bukan sastrawan besar. Tapi saya
berkecimpung di dunia sastra telah lebih dari 30
tahun. Ontran-ontran desakan dibubarkannya KUK kok
jadi terasa aneh, meski saya sendiri tak pernah
"bersentuhan" dengan komunitas itu.

Orang-orang spt Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge,
adalah teman seperjuangan di masa-masa awal dulu,
meski kini sudah tidak terlalu akrab lagi.

Pelarangan dan usulan penggantian sejumlah redaktur,
penggusuran teater, radio FM, sungguh lucu dan
"apa-apaan" ini?

Beda pendapat oke aja, tapi memaksakan kehendak,
weleh-weleh. Sayab yakin, orang agamis tak akan
tertular dengan isme lain kalau dia kuat di dalam.
Jadi percayalah.

Cuma, yang perlu dikritisi dari KUK memang harus
dikritisi. Komunitas Utan Kayu sekarang ini nampak
mencipta kelas sosial sastra tersendiri. Eksklusif,
sektarian dan membentuk sel-sel radikal di kalangan
pengidolanyna sendiri.

Sebagai pribadi, saya kurang begitu respek dengan KUK
(suka-suka gue, nggak respek boleh juga kan?). Mereka
adalah sekumpulan para Dewa yang tak ingin disentuh
oleh rakyat sastra yang sedang mencari. Mungkin memang
bukan bidang dia. Makanya, ketika ada desas-desus
hendak berlangsung Munas Komunitas Sastra Indonesia di
Kudus, yang konon ingin membahas tentang isme KUK yang
melahirkan Sastra Kelamin, saya tertawa. Ngapain itu
dibahas? Kita bukan sedang menghadapi gerombolan para
kafir yang bakal meruntuhkan dunia. Tapi perlu kritis,
karena dalam label eksklusifitas mereka, ada arogansi
tersendiri orang-orang KUK dalam menyihir kekuatan
media.

KUK perlu perlawanan, itu pasti. Agar mereka tidak
menjadi menara gading dan mapan. Tapi secara gagasan,
bukan gusuran.

Jika benar sinyalemen banyak kantong-kantong sastra
gerah dengan kemapanan KUK, perlu kita ingat pula
kemapanan kelompok Komite Sastra Dewan Kesenian
Jakarta era 1978-1980, dimana trio masketer Abdul HAdi
WM, Leon AGusta dan Sutardji Calzoum Bachri mampu
menjadi pembaptis bagi gagasan-gagasan sastra
Indonesia. Orang yang tidak mengabdi kepada trio itu
tak bis ambil bagian.

Keberhasilan KUK adalah masalah manajemen dan
jaringan. Sementara ini, kantong-kantong sastra kita
cuma berkutat pada wacana, tanpa menghasilkan karya.
Gerahlah kita saat melilhat KUK dibentengi tokoh kaya
yang punya media, halaman sastra dan kaum profesional
yang "dingin" terhadap generasi di bawahnya.

Saya sangat menikmati polemik ini. Di Semarang, saya
sebagai penulis dengan karya kecil tapi banyak baca
tentang Jakarta, cuma bisa nyenhgir kuda. Kalian bukan
bagian dari kehidupan saya. Ha ha ha ... 



Handry TM
penulis
pelaku home industri


--- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Siapa itu Mudzakir dan Elisia Purba?
>    
> 
> 
> Garda Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
>  Bubarkan Komunitas Utan Kayu! 
> 
> 
> (1) Seniman Garda Depan Pembebasan (GDP) dengan ini
> mendesak kepada Pemerintah untuk membubarkan
> Komunitas Utan Kayu (KUK). 
> 
> (2) Kami mengimbau pihak kepolisian supaya menutup
> areal di jalan Utan Kayu 68H itu agar tidak
> digunakan bagi kegiatan kesenian yang mengancam
> martabat bangsa. 
> 
> Telah diketahui luas, bahwa KUK adalah tempat
> penyebaran ide-ide liberalisme yang mengutamakan
> humanisme universil dengan mendatangkan
> seniman-seniman asing secara besar-besaran. 
> 
> KUK juga menjadi tempat berkumpulnya kelompok Islam
> Liberal dan bekas-bekas tapol G30S/PKI yang ateis
> dan Marxis. 
> 
> (3) Kami menuntut agar dominasi KUK dalam bidang
> sastra harus diakhiri. 
> 
> (4) Kami menunut agar Goenawan Muhammad diusut. 
> 
> (5) Kami menuntut agar Harian Kompas memecat Hasif
> Amini sebagai redaktur budaya dan diganti oleh Saut
> Situmorang yang jelas-jelas berprinsip “sastra
> untuk rakyat tertindas”.. 
> 
> (6) Kami menuntut agar Koran Tempo memecat Nirwan
> Dewanto sebagai redaktur budaya dan diganti oleh
> sastrawan yang ditunjuk oleh Saut Situmorang serta
> DEWAN penandatangan Manifesto Ode Kampung. 
> 
> (7) Kami menuntut agar jurnal Kalam dilarang terbit.
> 
> 
> 
> 
> Bersama ini pila kami menyerukan apabila Polisi
> gagal bertindak, para seniman boemipoetera yang
> progresif mengambil alih areal Jalan Utan Kayu 6H,
> termasuk stasiun radio dan teater, dan membuang
> jauh-jauh buku-buku liberalisme dan
> marxisme-leninismE dari perpustakaannnya. 
> 
> . 
> SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!!! 
> 
> 
> GARDA DEPAN PEMBEBASAN 
> 
> Mudzakir H.S. 
> Ketua 
> 
> Elisia Purba 
> Sekretaris I 

Kirim email ke