Lha? Kok saya jadi geli yah hehehe.
Pada tanggal 24/09/07, Ferry Wardiman <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > Saya yakin banyak yang menunggu dengan antusiasme - berharap akan ada > penjelasan yang lebih lengkap dan menyeluruh tentang SUBSTANSI > serangan serangan terhadap Komunitas Utan Kayu. > > Yang pasti bukan berupa celetukan singkat, makian sepatah dua, puisi > sebait dua, atau komentar sektarian yang tak jelas asal usulnya. > Bila semua terang, enak rasanya kami, para orang lewat ini, hendak > memutuskan untuk bersependapat dengan yang mana. > > Rezim raksasa saja bisa terbongkar bila melawan kebenaran, apalagi > hanya sebuah Komunitas Utan Kayu. > Tapi sebaliknya juga, bila ternyata ia yang benar, sekecil dan > seremeh apapun komunitas itu, akan menjadi bagai suluh yang mengawali > pencerahan, menularkannya kepada kesadaran orang-orang yang nampaknya > cuma "lewat" itu. > > Yang cuma lewat akan berhenti dan bersimpati. > Saat itu rezim seraksasa apapun tak mampu mencegah sinar itu > menerangi... > Dan abad pencerahan mulai dengan babak kedua. > > Saya tak berpihak. Belum > Hanya menunggu uraian yang lebih rinci tentang apa yang diributkan. > > Ferry Wardiman > > > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, Handry > Utomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Apa-apaan ini? > > > > Saya memang bukan sastrawan besar. Tapi saya > > berkecimpung di dunia sastra telah lebih dari 30 > > tahun. Ontran-ontran desakan dibubarkannya KUK kok > > jadi terasa aneh, meski saya sendiri tak pernah > > "bersentuhan" dengan komunitas itu. > > > > Orang-orang spt Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, > > adalah teman seperjuangan di masa-masa awal dulu, > > meski kini sudah tidak terlalu akrab lagi. > > > > Pelarangan dan usulan penggantian sejumlah redaktur, > > penggusuran teater, radio FM, sungguh lucu dan > > "apa-apaan" ini? > > > > Beda pendapat oke aja, tapi memaksakan kehendak, > > weleh-weleh. Sayab yakin, orang agamis tak akan > > tertular dengan isme lain kalau dia kuat di dalam. > > Jadi percayalah. > > > > Cuma, yang perlu dikritisi dari KUK memang harus > > dikritisi. Komunitas Utan Kayu sekarang ini nampak > > mencipta kelas sosial sastra tersendiri. Eksklusif, > > sektarian dan membentuk sel-sel radikal di kalangan > > pengidolanyna sendiri. > > > > Sebagai pribadi, saya kurang begitu respek dengan KUK > > (suka-suka gue, nggak respek boleh juga kan?). Mereka > > adalah sekumpulan para Dewa yang tak ingin disentuh > > oleh rakyat sastra yang sedang mencari. Mungkin memang > > bukan bidang dia. Makanya, ketika ada desas-desus > > hendak berlangsung Munas Komunitas Sastra Indonesia di > > Kudus, yang konon ingin membahas tentang isme KUK yang > > melahirkan Sastra Kelamin, saya tertawa. Ngapain itu > > dibahas? Kita bukan sedang menghadapi gerombolan para > > kafir yang bakal meruntuhkan dunia. Tapi perlu kritis, > > karena dalam label eksklusifitas mereka, ada arogansi > > tersendiri orang-orang KUK dalam menyihir kekuatan > > media. > > > > KUK perlu perlawanan, itu pasti. Agar mereka tidak > > menjadi menara gading dan mapan. Tapi secara gagasan, > > bukan gusuran. > > > > Jika benar sinyalemen banyak kantong-kantong sastra > > gerah dengan kemapanan KUK, perlu kita ingat pula > > kemapanan kelompok Komite Sastra Dewan Kesenian > > Jakarta era 1978-1980, dimana trio masketer Abdul HAdi > > WM, Leon AGusta dan Sutardji Calzoum Bachri mampu > > menjadi pembaptis bagi gagasan-gagasan sastra > > Indonesia. Orang yang tidak mengabdi kepada trio itu > > tak bis ambil bagian. > > > > Keberhasilan KUK adalah masalah manajemen dan > > jaringan. Sementara ini, kantong-kantong sastra kita > > cuma berkutat pada wacana, tanpa menghasilkan karya. > > Gerahlah kita saat melilhat KUK dibentengi tokoh kaya > > yang punya media, halaman sastra dan kaum profesional > > yang "dingin" terhadap generasi di bawahnya. > > > > Saya sangat menikmati polemik ini. Di Semarang, saya > > sebagai penulis dengan karya kecil tapi banyak baca > > tentang Jakarta, cuma bisa nyenhgir kuda. Kalian bukan > > bagian dari kehidupan saya. Ha ha ha ... > > > > > > > > Handry TM > > penulis > > pelaku home industri > > > > > > --- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Siapa itu Mudzakir dan Elisia Purba? > > > > > > > > > > > > Garda Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Bubarkan Komunitas Utan Kayu! > > > > > > > > > (1) Seniman Garda Depan Pembebasan (GDP) dengan ini > > > mendesak kepada Pemerintah untuk membubarkan > > > Komunitas Utan Kayu (KUK). > > > > > > (2) Kami mengimbau pihak kepolisian supaya menutup > > > areal di jalan Utan Kayu 68H itu agar tidak > > > digunakan bagi kegiatan kesenian yang mengancam > > > martabat bangsa. > > > > > > Telah diketahui luas, bahwa KUK adalah tempat > > > penyebaran ide-ide liberalisme yang mengutamakan > > > humanisme universil dengan mendatangkan > > > seniman-seniman asing secara besar-besaran. > > > > > > KUK juga menjadi tempat berkumpulnya kelompok Islam > > > Liberal dan bekas-bekas tapol G30S/PKI yang ateis > > > dan Marxis. > > > > > > (3) Kami menuntut agar dominasi KUK dalam bidang > > > sastra harus diakhiri. > > > > > > (4) Kami menunut agar Goenawan Muhammad diusut. > > > > > > (5) Kami menuntut agar Harian Kompas memecat Hasif > > > Amini sebagai redaktur budaya dan diganti oleh Saut > > > Situmorang yang jelas-jelas berprinsip "sastra > > > untuk rakyat tertindas".. > > > > > > (6) Kami menuntut agar Koran Tempo memecat Nirwan > > > Dewanto sebagai redaktur budaya dan diganti oleh > > > sastrawan yang ditunjuk oleh Saut Situmorang serta > > > DEWAN penandatangan Manifesto Ode Kampung. > > > > > > (7) Kami menuntut agar jurnal Kalam dilarang terbit. > > > > > > > > > > > > > > > Bersama ini pila kami menyerukan apabila Polisi > > > gagal bertindak, para seniman boemipoetera yang > > > progresif mengambil alih areal Jalan Utan Kayu 6H, > > > termasuk stasiun radio dan teater, dan membuang > > > jauh-jauh buku-buku liberalisme dan > > > marxisme-leninismE dari perpustakaannnya. > > > > > > . > > > SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!!! > > > > > > > > > GARDA DEPAN PEMBEBASAN > > > > > > Mudzakir H.S. > > > Ketua > > > > > > Elisia Purba > > > Sekretaris I > > > > >
