Pengantar

"Liberalisme adalah suatu skandal," tulis Goenawan Mohamad dalam mengenang 
G30S. Ini saya kutip dari Catatan Pinggir bertajuk 'Gestapu' dalam Majalah 
TEMPO yang terbit pekan ini.  Silakan Anda nikmati tulisannya:

_________________________________________


Tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat pembunuhan. Di tahun 1965-1966 
itu, mula-mula sejumlah jenderal, kemudian berpuluh ribu orang Indonesia yang 
bukan jenderal dan tak bersalah bergelimpangan dibantai. Atau disiksa.

Sejak itu, di tanah tumpah darah ini, kita begitu takut, pedih, dan malu 
mengaku bersalah oleh keganasan itu. Semuanya kita masukkan ke dalam sebuah 
kata, "Gestapu", seperti kita menyembunyikan sesuatu di dalam kotak. Kita gagap 
bila kita harus mengenangnya.

Maka tiap 30 September dan 1 Oktober ada keinginan yang saya kira terpendam di 
hati orang banyak:  keinginan untuk mampu mengenang horor itu, tapi juga 
berharap ia tak akan berulang. Indonesia tak boleh lagi mengelola konflik lewat 
darah dan besi.

Keinginan itu tampak mudah dipenuhi setelah "Orde Baru" runtuh, setelah sebuah 
pemerintahan yang stabil -- tapi bersandar pada kapasitasnya membangun rasa 
takut - ambruk.  Tapi segera terbukti kita gampang terbuai ilusi. Prasangka 
rasial, rasa curiga antar kelompok, kebencian, paranoia dan waswas yang 
diperkuat oleh agama, seakan-akan malah bergelombang datang. Indonesia nyaris 
habis harapan. Semuanya seakakan-akan mesti berakhir dengan membunuh.

Tapi mungkinkah ada sebuah lingkungan hidup bersama - bisa disebut 
"masyarakat", "komunitas", atau "bangsa" --  yang akan memilih khaos dan 
kekerasan sebagai satu-satunya cara bersaing dan bersengketa? Para optimis 
mengatakan, tak mungkin.  Sengketa dan kekerasan bukanlah pola dalam sejarah.  
Tiap kehidupan bersama selalu mengandung keinginan bersama untuk "masyarakat 
yang baik" dan kapasitas untuk mencapai mufakat. Bahkan binatang buas berdamai 
dalam puaknya.

Tapi benarkah "selalu"? Benarkah kita senantiasa begerak untuk mufakat? 
Katakanlah tiap orang, tiap kelompok, memang menghendaki "masyarakat yang 
baik", tapi apa gerangan yang "baik"?  Selalukah yang "baik" bagi kami juga 
"baik" bagi mereka?

Zaman ini yang berbeda dan ganjil berduyun-duyun masuk ke dalam pengalaman - 
dan kita ragu adakah nilai yang universal. Kondisi "pasca-modernis" datang.  
Seorang pemikir seperti Richard Rorty bahkan menunjukkan, nilai-nilai selamanya 
contigent, tergantung, kepada waktu dan tempat. Apa yang "baik" selamanya 
dipengaruhi konteks.  Sebab itu jangan dipaksakan. Bahkan keyakinan kita 
sendiri tentang "baik" dan "buruk" perlu dicampur dengan satu dosis besar ironi.

Pandangan seperti ini memang membuka ruang luas toleransi. Kita tak bisa jadi 
fanatik memeluk ide-ide besar.  Tapi ada yang boyak; ia tak cukup memberi dasar 
bagi langkah politik untuk membangun kebaikan bagi sesama. Tentu, Rorty tak 
menganggap kita bisa selamanya  berdiri di tepi dengan senyum ironis. Baginya,  
tak ada alasan untuk berpangku tangan ketika kekejaman terjadi. 

Rorty memang tak menampik tumbuhnya rasa solidaritas antar manusia. Tapi 
bagaimana rasa solidaritas itu mungkin? Bagamana ia bisa memadai untuk 
membentuk sebuah kekuatan pembebas,  jika keyakinan tentang nilai-nilai yang 
universal, yang menggerakkan siapa saja, cair oleh ironi?

Memang, liberalisme Rorty bukan formula untuk bunuh membunuh. Tapi ia tak bisa 
memberi jawab bagi keadaan yang mungkin tak dialaminya. Rorty begitu betah 
dengan hidup nyaman Amerika-nya. Tapi ada kondisi lain, di mana politik 
bergerak bukan karena keinginan, melainkan oleh kemestian, di mana gagasan 
tentang "masyarakat yang baik" bukan imajinasi waktu senggang, melainkan karena 
rasa lapar yang akut akan keadilan.

Di sini liberalisme ala Rorty bisa semacam skandal.  Tak mengherankan dalam 
latar umum Afrika, Asia, dan merika Latin,  orang pernah dengan bahagia 
mendapatkan analisa dan inspirasi dari yang lain: Marxisme. Marxisme punya satu 
imbauan universal: cita-cita tentang masyarakat tanpa kelas. Tapi juga Marxisme 
 bisa ampuh karena melihat nilai-nilai sebagai sesuatu yang tak datang dari 
luar sejarah.  Marxisme merayakan dinamika dan perubahan. 

Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan miskin, 
dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme - sebuah alat diagnostik 
yang cemerlang  -- ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina murtad. Apa 
yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan ekonomi yang 
membuat orang terkesima?  Hanya sebuah partai komunis yang tak percaya kepada 
imannya sendiri.

Maka pada suatu saat orang pun membaca Habermas. Ia meyakinkan kita bahwa ada 
rasionalitas yang bisa membawa apa yang "baik" melintasi batas ruang-dan-waktu. 
Komunikasi adalah laku yang tak asing. Dalam situasinya  yang ideal, komunikasi 
dapat menghasilkan mufakat tentang "masyarakat yang baik".

Tapi tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat bahwa dorongan untuk 
bermufakat berakhir dengan pembunuhan. Indonesia adalah sebuah republik yang 
luka ketika besikeras membentuk konsensus. Kini kita takut berilusi: bisakah 
kita sepakat tentang "masyarakat yang baik"? Akan adakah situasi percakapan 
yang ideal?

Siapa yang takut mimpi perlu memanggil mambang Marxisme. Kita akan bisa melihat 
- seperti Laclau memanggil roh Gramci - bahwa mufakat tak datang dengan 
sendirinya. Ia hasil pergulatan hegemoni. Dan dengan Marxisme yang radikal yang 
memandang sejarah sebagai perubahan, kita akan mengakui bahwa hegemoni itu tak 
akan abadi. Pengertian dan konsensus tentang "masyarakat yang baik" tak akan 
kekal. Kekuasaan yang menjaga konsensus itu tak akan selamanya bisa memenuhi 
cita-cita.

Itu sebabnya kita memilih demokrasi sebagai sistem yang mengakui kekurangan 
manusia. Kita lebih berendah hati. Maka sambil mengakui pergulatan politik akan 
berlangsung terus menerus, kita tak perlu bersiap dengan darah dan besi.  
Ongkos akan terlalu mahal - seperti 30 September dan 1 Oktober 1965 - untuk 
sesuatu yang tak akan sempurna dan selama-lamanya.

Sumber: TEMPO

Kirim email ke