Gamang untuk mengkomentari Mas GM, saya pikir liberalisme dalam praktiknya
yang tidak fanatik bisa saja tercampur dengan metode pemikiran Marxian, juga 
dengan
para atribut New Left (ekologi, dll). Juga Eropa, underdogs nya,  pernah 
menerima
Marxisme, namun yang "menjalar" kemana-mana sudah tercampur dengan Leninisme,
Stalinisme, Ajaran Ketua Mao, Enver Hoxa (Albania), maaf lupa Trotskyisme, dan 
lain
sebagainya. Masih banyak partai-partai sosialis didunia yang masih memeluk 
metode
analisis Marxis, meski kalau tak salah gerakan sosdem sudah meninggalkannya.

Memang sangat elok bahwa "Marxisme merayakan dinamika dan perubahan", seperti
yang ditulis oleh Mas Gun. Namun kita juga bisa tertegun oleh temuan  Milan 
Kundera:
"... orang itu maunya terus menerus saja mengubah dunia, namun toch selalu
menjadi antusias saat ia temukan sesuatu yang ternyata tetap tak terubah" (dalam
sebuah cerpennya tahun 1963 sebelum eksil ke Prancis pasca Prague Spring 1968).

Saya setuju bahwa Habernas harus kita kaji.
Anehnya guru yg satu ini nampaknya kurang terkenal di Eropa. Saya "berkenalan"
setelah bukunya dipakai adik saya saat meraih PhD di UI sekait ekologi pada 
2005.
Juga sangat setuju agar kita tinggalkan saja cara-cara durch Blut und Eisen, dan
marilah bangsa kita bangun dengan otak dan hati nurani.

Selamat ber Puasa, Mas Gun. Kapan mampir Praha nih?
Wassalam, Bismo DG, Praha 

  ----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: mediacare yahoogroups 
  Sent: Monday, September 24, 2007 9:14 AM
  Subject: [mediacare] Goenawan Mohamad: "Liberalisme adalah suatu skandal"



  Pengantar

  "Liberalisme adalah suatu skandal," tulis Goenawan Mohamad dalam mengenang 
G30S. Ini saya kutip dari Catatan Pinggir bertajuk 'Gestapu' dalam Majalah 
TEMPO yang terbit pekan ini.  Silakan Anda nikmati tulisannya:

  _________________________________________


  Tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat pembunuhan. Di tahun 1965-1966 
itu, mula-mula sejumlah jenderal, kemudian berpuluh ribu orang Indonesia yang 
bukan jenderal dan tak bersalah bergelimpangan dibantai. Atau disiksa.

  Sejak itu, di tanah tumpah darah ini, kita begitu takut, pedih, dan malu 
mengaku bersalah oleh keganasan itu. Semuanya kita masukkan ke dalam sebuah 
kata, "Gestapu", seperti kita menyembunyikan sesuatu di dalam kotak. Kita gagap 
bila kita harus mengenangnya.

  Maka tiap 30 September dan 1 Oktober ada keinginan yang saya kira terpendam 
di hati orang banyak:  keinginan untuk mampu mengenang horor itu, tapi juga 
berharap ia tak akan berulang. Indonesia tak boleh lagi mengelola konflik lewat 
darah dan besi.

  Keinginan itu tampak mudah dipenuhi setelah "Orde Baru" runtuh, setelah 
sebuah pemerintahan yang stabil -- tapi bersandar pada kapasitasnya membangun 
rasa takut - ambruk.  Tapi segera terbukti kita gampang terbuai ilusi. 
Prasangka rasial, rasa curiga antar kelompok, kebencian, paranoia dan waswas 
yang diperkuat oleh agama, seakan-akan malah bergelombang datang. Indonesia 
nyaris habis harapan. Semuanya seakakan-akan mesti berakhir dengan membunuh.

  Tapi mungkinkah ada sebuah lingkungan hidup bersama - bisa disebut 
"masyarakat", "komunitas", atau "bangsa" --  yang akan memilih khaos dan 
kekerasan sebagai satu-satunya cara bersaing dan bersengketa? Para optimis 
mengatakan, tak mungkin.  Sengketa dan kekerasan bukanlah pola dalam sejarah.  
Tiap kehidupan bersama selalu mengandung keinginan bersama untuk "masyarakat 
yang baik" dan kapasitas untuk mencapai mufakat. Bahkan binatang buas berdamai 
dalam puaknya.

  Tapi benarkah "selalu"? Benarkah kita senantiasa begerak untuk mufakat? 
Katakanlah tiap orang, tiap kelompok, memang menghendaki "masyarakat yang 
baik", tapi apa gerangan yang "baik"?  Selalukah yang "baik" bagi kami juga 
"baik" bagi mereka?

  Zaman ini yang berbeda dan ganjil berduyun-duyun masuk ke dalam pengalaman - 
dan kita ragu adakah nilai yang universal. Kondisi "pasca-modernis" datang.  
Seorang pemikir seperti Richard Rorty bahkan menunjukkan, nilai-nilai selamanya 
contigent, tergantung, kepada waktu dan tempat. Apa yang "baik" selamanya 
dipengaruhi konteks.  Sebab itu jangan dipaksakan. Bahkan keyakinan kita 
sendiri tentang "baik" dan "buruk" perlu dicampur dengan satu dosis besar ironi.

  Pandangan seperti ini memang membuka ruang luas toleransi. Kita tak bisa jadi 
fanatik memeluk ide-ide besar.  Tapi ada yang boyak; ia tak cukup memberi dasar 
bagi langkah politik untuk membangun kebaikan bagi sesama. Tentu, Rorty tak 
menganggap kita bisa selamanya  berdiri di tepi dengan senyum ironis. Baginya,  
tak ada alasan untuk berpangku tangan ketika kekejaman terjadi. 

  Rorty memang tak menampik tumbuhnya rasa solidaritas antar manusia. Tapi 
bagaimana rasa solidaritas itu mungkin? Bagamana ia bisa memadai untuk 
membentuk sebuah kekuatan pembebas,  jika keyakinan tentang nilai-nilai yang 
universal, yang menggerakkan siapa saja, cair oleh ironi?

  Memang, liberalisme Rorty bukan formula untuk bunuh membunuh. Tapi ia tak 
bisa memberi jawab bagi keadaan yang mungkin tak dialaminya. Rorty begitu betah 
dengan hidup nyaman Amerika-nya. Tapi ada kondisi lain, di mana politik 
bergerak bukan karena keinginan, melainkan oleh kemestian, di mana gagasan 
tentang "masyarakat yang baik" bukan imajinasi waktu senggang, melainkan karena 
rasa lapar yang akut akan keadilan.

  Di sini liberalisme ala Rorty bisa semacam skandal.  Tak mengherankan dalam 
latar umum Afrika, Asia, dan merika Latin,  orang pernah dengan bahagia 
mendapatkan analisa dan inspirasi dari yang lain: Marxisme. Marxisme punya satu 
imbauan universal: cita-cita tentang masyarakat tanpa kelas. Tapi juga Marxisme 
 bisa ampuh karena melihat nilai-nilai sebagai sesuatu yang tak datang dari 
luar sejarah.  Marxisme merayakan dinamika dan perubahan. 

  Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan 
miskin, dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme - sebuah alat 
diagnostik yang cemerlang  -- ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina 
murtad. Apa yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan 
ekonomi yang membuat orang terkesima?  Hanya sebuah partai komunis yang tak 
percaya kepada imannya sendiri.

  Maka pada suatu saat orang pun membaca Habermas. Ia meyakinkan kita bahwa ada 
rasionalitas yang bisa membawa apa yang "baik" melintasi batas ruang-dan-waktu. 
Komunikasi adalah laku yang tak asing. Dalam situasinya  yang ideal, komunikasi 
dapat menghasilkan mufakat tentang "masyarakat yang baik".

  Tapi tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat bahwa dorongan untuk 
bermufakat berakhir dengan pembunuhan. Indonesia adalah sebuah republik yang 
luka ketika besikeras membentuk konsensus. Kini kita takut berilusi: bisakah 
kita sepakat tentang "masyarakat yang baik"? Akan adakah situasi percakapan 
yang ideal?

  Siapa yang takut mimpi perlu memanggil mambang Marxisme. Kita akan bisa 
melihat - seperti Laclau memanggil roh Gramci - bahwa mufakat tak datang dengan 
sendirinya. Ia hasil pergulatan hegemoni. Dan dengan Marxisme yang radikal yang 
memandang sejarah sebagai perubahan, kita akan mengakui bahwa hegemoni itu tak 
akan abadi. Pengertian dan konsensus tentang "masyarakat yang baik" tak akan 
kekal. Kekuasaan yang menjaga konsensus itu tak akan selamanya bisa memenuhi 
cita-cita.

  Itu sebabnya kita memilih demokrasi sebagai sistem yang mengakui kekurangan 
manusia. Kita lebih berendah hati. Maka sambil mengakui pergulatan politik akan 
berlangsung terus menerus, kita tak perlu bersiap dengan darah dan besi.  
Ongkos akan terlalu mahal - seperti 30 September dan 1 Oktober 1965 - untuk 
sesuatu yang tak akan sempurna dan selama-lamanya.

  Sumber: TEMPO

   

Kirim email ke