From: Putu Suksmanta, Sydney, Australia
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Subject: "Ratatouille" dan "Debat" Sastra 
To: [EMAIL PROTECTED] 
CC:  [EMAIL PROTECTED] 
    
Film "Rataouille" dan "Debat" Sastra

Malam Sabtu aku baru sempat nonton film "Ratatouille" di Greater Union, di 
George St., dan pulangnya aku ketemu Barata, teman yang sudah lama tidak 
kelihatan meskipun kami sama-sama TKB (Tenaga Kerja Bali) di Sydney.

Barata bekerja di satu restoran Itali di ujung jalan George St. Ia bercerita ia 
pernah dapat 
e-mail dari Indonesia yang mengatakan ada "koran Islam yang menghina agama 
Hindu Bali dengan memuat sajak yang mengejek dewa-dewa".  Ia tanya apakah aku 
pernah baca, sepertinya ia pikir aku ini sudah berpangkat sastrawan seperti 
Putu Wijaya.

Percakapan singkat dengan Barata membuat aku terperangah (betul nggak sih, kata 
ini?) tidak menyangka kalau internet dapat bekerja seperti gosip juga. Yang 
dimaksud Barata tentulah sajaknya Si Saut Situmorang yang membuat banyak orang 
Bali tersinggung.
Tetapi cerita jadi berkembang menjadi "ada koran Islam yang menghina agama 
Hindu Bali".  Karenanya meskipun aku nggak suka sajak Saut itu, tetapi aku 
katakan kepada Barata dengan gaya tenang Goenawan Mohamad: "Ah, ndak ada itu. 
Ndak ada koran Islam yang
menghina."  

Setengahnya karena aku tidak  mau orang marah-marah karena fanatisme agama 
seperti Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta itu. Setengahnya aku tidak suka 
gosip hasil dengar-dengar doang. Kepada Barata aku terangkan yang terjadi 
begini: ada satu sajak yang dimuat di ruang sastra koran Republika yang memang 
menggambarkan dewa-dewa berbuat cabul, tetapi itu cuma kerjaan orang yang mau 
sensasi.  Tetapi aku tidak sebut kata-kata Halim Hade yang mengejek orang Bali 
sebagai "minoritas yang terkaing-kaing". Aku tersinggung banget dengan kalimat 
Halim itu, tetapi aku tak mau perasaan Barata ikut terusik, kan dia sedang 
sibuk melayani tamu.

Tetapi menonton "Rataouille" (lucu,  lho) membuat aku berpikir: Kalau kita 
makan di restoran, apa perlu kita tahu siapa yang masak?  (Aku suka kepada chef 
yang di
tempat aku bekerja, dia nggak nonjol-nonjolkan diri, nggak ego maniak seperti 
penyair yang maunya diakui). 

O, ya, film animasi ini menceritakan ada satu restoran di Paris yang 
diselamatkan seekor tikus yang ternyata "seekor" chef yang jenius. Para tamu 
restoran nggak tahu itu, sebab kalau tahu bisa bangkrut itu restoran.

Beginilah. Yang aku mau katakan, kalau kita membaca sastra, apa perlu kita tahu 
siapa pengarangnya, apa agamanya, apa dia orang sopan apa nggak, dst? Menurut 
aku, (setelah menonton film tadi), nggak perlu! Jadi sajak si Saut menyinggung 
perasaan orang Bali bukan karena Saut itu orang Kristen dan Republika koran 
Islam. Tetapi karena sajak itu tidak mampu menjadi puisi, cuma menjadi deretan 
kata-kata yang cari sensasi dengan melecehkan orang lain.

Ini juga aku hubungkan dengan hebohnya Saut sendiri, mau mengetahui siapa sih 
yang menulis Manifesto Ayam Kampung. Kok nggak menanggapi isinya? Kok yang 
dihebohkan:  siapa yang mengarang? Siapa? Joko Pinurbo palsu? Arjuna siluman?  
James Bond ? Radityo Djadjoeri yang kata Saut perlu dibunuh itu? Maka aku 
setuju pada Rizka Maulana, bahwa dalam pantun tradisional, siapa yang menggubah 
tidak diketahui dan tidak perlu diketahui. Aku anggap film "Ratatouille"  dapat 
dijadikan "pelajaran" untuk perdebatan sastra yang lebih sehat dari yang 
dilakukan Saut sekarang.  Tanggapi apa yang dikatakan, dong, dan nggak 
menyerang pribadi yang mengatakan.  

Putu Suksmanta.


Catatan:
Postingan ini sudah tayang di blog ART-CULTURE INDONESIA. Sila klik:

http://artculture-indonesia.blogspot.com

Milis:

http://www.yahoogroups.com/group/artculture-indonesia

Kirim email ke