(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm)
Sekitar G30S, Suharto, PKI dan TNI-AD (2)
Berikut di bawah ini adalah lanjutan dari serangkaian tulisan Sdr Harsutejo
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan peristiwa G30S. Dalam tulisan
ini secara berturut-turut ia mengungkap kembali soal-soal yang berkaitan
dengan G30S, istilah Gestapu dan Gestok, Lubang Buaya, Gerwani, Letkol
Untung, Kolonel Abdul Latief dll.
Serangkaian tulisan ini bisa merupakan bantuan kepada banyak orang untuk
memperoleh informasi atau pandangan mengenai berbagai hal yang berkaitan
dengan peristiwa tersebut, yang berbeda dengan versi rejim militer Orde
Baru.
Tulisan bersambung ini juga disajikan berturut-turut dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm).
GESTAPU, GESTOK (2)
Oleh: Harsutejo
Gerakan 30 September merupakan nama resmi gerakan sesuai dengan apa yang
telah diumumkan oleh RRI Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965. Nama ini
untuk keperluan praktis media massa kemudian ditulis dengan G-30-S atau
G30S. Sedang Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) suatu nama yang
dipaksakan agar berkonotasi dengan Gestapo-nya Hitler yang tersohor
keganasannya itu. Rupanya sang konseptor, Brigjen Sugandhi, pimpinan koran
Angkatan Bersenjata, telah banyak belajar dari sejarah dan jargon nazi
Jerman. Jelas nama ini merupakan pemaksaan dengan memperkosa kaidah bahasa
Indonesia (dengan hukum DM), kepentingan politik menghalalkan segala cara.
Nama Gestapu digalakkan secara luas melalui media massa, sedang dalam buku
tulisan Nugroho Notosusanto maupun Buku Putih digunakan istilah G30S/PKI.
Barangkali ini merupakan standar ganda yang dengan sengaja dilakukan; yang
pertama untuk menggalakkan konotasi jahat Gestapo dengan Gestapu/PKI,
sementara buku yang ditulis oleh pakar sejarah itu bernuansa lebih ilmiah
bahwa G30S ya PKI.
Sementara itu sejumlah pakar asing dalam karya-karyanya menggunakan istilah
Gestapu ciptaan Orde Baru ini. Mungkin ada di antara mereka sekedar mengutip
istilah yang digunakan begitu luas dan gencar oleh media massa Orba secara
membebek tidak kritis. Dengan demikian dari istilah yang digunakan saja
tulisan itu sudah memulai sesuatu dengan berpihak secara politik kepada
rezim Orba yang berkuasa. Di antara pakar ini, Prof Dr Victor M Fic, seorang
sejarawan Kanada, telah menulis buku yang menghebohkan itu karena secara
murahan menuduh Bung Karno sebagai dalang G30S. Di seluruh bukunya ia
menggunakan istilah Gestapu, ketika dia menggunakan istilah netral Gerakan
30 September selalu diikuti dalam kurung (GESTAPU).
Sementara orang mengartikan penamaan Gestok (Gerakan 1 Oktober) hanya untuk
gerakan yang dilakukan oleh Mayjen Suharto pada tanggal tersebut daripada
gerakan Letkol Untung. Tetapi mungkin saja bahwa yang dimaksud Bung Karno
adalah gerakan yang dilakukan Letkol Untung menculik sejumlah jenderal dan
kemudian membunuhnya (terlepas dari adanya komplotan lain dalam gerakan yang
melakukan pembunuhan itu). Penamaan itu juga terhadap gerakan Mayjen Suharto
yang dilakukan menghadapi gerakan Untung serta mencegah kepergian Jendral
Pranoto dan Umar Wirahadikusuma menghadap Presiden ke PAU Halim, sekaligus
mengambilalih wewenang Men/Pangad Jenderal Yani yang sudah dipegang oleh
Presiden Sukarno serta membangkang terhadap perintah-perintah Presiden untuk
tidak melakukan gerakan militer.
Tentu saja penamaan Gestok tidak disukai oleh rezim Orba. Dalam pidatonya
pada 21 Oktober 1965 di depan KAMI di Istora Senayan, Presiden Sukarno
menyebutkan, ..Orang yang tersangkut pada Gestok harus diadili, harus
dihukum, kalau perlu ditembak mati... Tetapi marilah kita adili pula
terhadap pada golongan yang telah mengalami peruncingan seperti Gestok itu
tadi. Mungkin sekali ini maksudnya setelah pelaku peristiwa 1 Oktober
(Untung cs) yang hanya berumur sehari itu diadili, maka juga terhadap pelaku
yang membuat runcing persoalan sesudah itu, siapa lagi kalau bukan Jenderal
Suharto cs. Dalam pidato Pelengkap Nawaksara di Istana Merdeka pada 10
Januari 1967 Presiden Sukarno dengan jelas menyebut pembunuhan para jenderal
itu dengan Gestok lalu dilanjutkan dengan bertemunya tiga sebab (a)
keblingernya pimpinan PKI, (b) kelihaian subversi Nekolim, (c) adanya oknum
yang tidak benar.
Dalam dokumen yang disebut Dokumen Slipi yang berisi hasil pemeriksaan
Bung Karno sebagai saksi ahli dalam perkara Subandrio dan merupakan
kesaksian terakhir BK (1968), ...1 Oktober 1965 bagi saya adalah
malapetaka, karena gerakan yang melawan G30S pada 1 Oktober 1965 itu telah
melakukan pembangkangan terhadap diri saya, sejak saat itu gerakan yang
melawan G30S tidak tunduk pada perintah saya, maka saya berpendapat G30S
lawannya Gestok.... Jika dokumen ini memang benar adanya, hal itu sesuai
dengan seluruh perkembangan kejadian serta analisis BK tentang G30S tersebut
di atas. Brigjen Suparjo segera menghentikan gerakan G30S sementara Mayjen
Suharto meneruskan Gestok-nya. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa
Presiden Sukarno tidak mengambil tindakan apa pun terhadap jenderal yang
satu ini, justru melegitimasi dengan mengukuhkan kedudukannya.
Sebenarnyalah peristiwa G30S di Jakarta hanya berlangsung selama satu hari,
sementara di Jawa Tengah yang tertinggal itu berlangsung beberapa hari
(sesuatu yang aneh dan perlu dikaji lebih lanjut). Gerakan selanjutnya, yang
disebut BK Gestok, dilakukan oleh Mayjen Suharto dengan menentang dan
menantang perintah Presiden dengan menindas PKI dan gerakan kiri lainnya,
membantai rakyat dan pendukung BK, ujungnya menjatuhkan Presiden Sukarno.
Inilah tragedi sebenarnya dengan pembukaan pembunuhan enam orang jenderal
dan seorang perwira pertama oleh pihak militer sendiri. (Dari berbagai
sumber).
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 0.0.488 / Virus Database: 269.13.30/1029 - Release Date: 24/09/2007
19:09