Pak Irzan, terima kasih dan senang mendapat tanggapan langsung dari awak Indo Pos (Jawa Pos Group). Maaf, terlambat membalasnya.
Seperti yg saya katakan sejak awal, saya awam mengenai jurnalisme. Maka itu saya sbg orang awam, pembaca setia Jawa Pos, saya bertanya-tanya, kenapa dan apakah "layak" artikel seperti itu sampai sedemikian panjang dan ditaruh sbg "headline" setiap hari? Itulah pertanyaan dalam hati saya ketika melihat artikel tsb bersambung terus seolah tiada habisnya. Saya kemudian curiga, wah jangan2 ini karena tulisannya Bos, maka anak buah tidak berani untuk tidak memuatnya. Atau jangan2 ada semacam narsisme di JP? Dengan penjelasan yg lugas dari Pak Irzan ini saya menjadi paham. Syukurlah semua dugaan saya salah. Mohon maaf atas negative thinking dari saya. Ada orang yg salah menafsir tulisan saya (yg diungkapkan lewat japri), yg menuduh saya tidak punya perasaan kemanusiaan dgn mengecam tulisan tsb. Padahal yg saya kritisi adalah tulisan tsb dari aspek redaksional dari sudut pandang seorang pembaca yg awam. Saya tetap menaruh simpatik yg mendalam terhadap Pak Dahlan Iskan, dgn pengalaman2nya yg dari nol besar, ketika "terlunta-;lunta" di Surabaya akibat Tempo tempat beliau pertama kali kerja dibredel, sampai menjadi seperti sekarang. Ketangguhan beliau membesarkan Jawa Pos yg nyaris bangkrut sehingga menjadi raksasa media di Indonesia juga patut menjadi motivator dan teladan bagi kita semua. Bagaimana juga kegigihannya untuk bisa belajar bahasa Tionghoa, padahal usianya waktu mulai pertama belajar kalau tidak salah di usia 50 tahun? Tulisan2nya tentang Tiongkok di Jawa Pos selalu saya baca. Mungkin tulisan2-nya tentang pengalamannya di Tiongkok itu bisa dibukukan? Sebab pengalaman2-nya di sana juga sebetulnya bisa dijadikan teladan bagi pejabat2 pemerintah u/ bagaimana mengelola negara yg baik seperti yg telah Tiongkok lakukan. Gaya Jawa Pos dalam menyajikan berita harus diakui mengena di hati masyarakat Jawa Timur. Oleh karena itu beberapa media besar, termasuk Kompas gagal mengungguli Jawa Pos di kandangnya sendiri. Kalau saya tidak salah dengar, Kompas berhasil mengalahkan Pikiran Rakyat di Bandung. Tetapi hal ini sampai detik ini tidak bisa dilakukan di Surabaya / Jawa Timur. Salah satu faktornya baeangkali karena Jawa Pos yg mau merakyat, tidak menjaga jarak dgn pembacanya. Faktor lain, Jawa Pos datang lebih pagi di rumah. Sekitar jam 0500-05.30 sudah ada. Kalau terlambat dikirim, pelanggan mendapat kompensasi voucher diskon langganan. Tetap terbit di hari libur nasional (kecuali Lebaran). Tentang ini pernah saya singgung di forum Kompas, tetapi awak Kompas sepertinya ada yg tidak terima, dgn menanggapi saya dgn mengatakan apakah saya pikir orang2 di Kompas dan loper koran tidak memerlukan istirahat di hari libur? Tapi ketika saya tanggapi balik dgn mengatakan, 'kenapa Jawa Pos bisa. Tidak ada jawaban. Faktor lain: Pelopor koran berwarna dgn format yg lebih kecil daripada format koran konvensionaldi Indonesia (yg sekarang diiktui oleh semua koran), dan beberapa faktor lainnya. Semuanya itu apakah ide dari Bos juga? Demikian dari saya. Mudah2-an dapat diterima. Maaf, apabila dalam tulisan saya terdahulu ada kata2 yg tidak berkenan. Terima kasih ----- Original Message ----- From: "irzan blitz" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Monday, September 24, 2007 3:31 AM Subject: [mediacare] Re: Pengalaman Trasplantasi Liver Dahlan Iskan > > Tanggapan untuk Pak Daniel// > > Pak Daniel yang baik, > Terima kasih atas kritik Anda terhadap tulisan > bersambung Dahlan Iskan yang dimuat di Jawa Pos, Indo > Pos dan grup se-Jawa Pos News Network. Sebagai kru > Indo Pos Jakarta, tak ada salahnya kan kalau saya ikut > urun rembug, mungkin bisa bercerita sedikit tentang > kisah di balik ganti liver di Tiongkok itu. Tanggapan > ini sebagai saya pribadi. > > Yang saya tahu, ke depannya, tulisan tersebut memang > akan dibukukan. Rencananya, tulisan bersambung itu > akan terus berseri hingga 50 edisi (saat ini baru 29 > edisi). > Meskipun belum dibukukan, ternyata banyak sekali > pembaca Indo Pos di Jakarta yang meminta tulisan > tersebut dari awal. Beberapa di antara mereka memang > sudah tak sabar untuk melihat "ending"-nya seperti > apa. > > Kok tulisan itu disimpan di halaman 1 setiap hari? > Saya pikir setiap media punya hak sendiri-sendiri. > Asalkan humanis dan unik, kenapa tidak? Ini sekaligus > mendekatkan hubungan batin antara awak redaksi dengan > para pembacanya. Apalagi, kami juga menyediakan > jembatan interaktif bagi pembaca dari E-Mail hingga > nomor ponsel Dahlan secara langsung. Mungkin, ini > jarang dilakukan bos media lainnya. Ya kan? > > Saya pikir, tulisan seperti ini bukanlah kali pertama > di media. Saya pernah membaca Pikiran Rakyat (di > Bandung), pada 1990-an, bagaimana Atang Ruswita (salah > seorang pendiri PR) menulis kisah-kisah kesehariannya > setiap hari. (Dan, tulisan itupun pada akhirnya > dibukukan). > > Setiap hari, entah sudah berapa banyak Email yang > masuk ke redaksi. Di Jawa Pos sendiri, tanggapan dari > pembacanya dimuat dalam satu halaman khusus setiap > minggunya. Tanggapannya pun beragam. Saya pikir inilah > konsep "chatting printed media". Inilah konsep di mana > media cetak juga dapat berinteraksi lebih cair dengan > pembacanya. Gak harus serius dalam satu diskusi yang > menjemukan. > > Toh, bahasan yang diulas oleh Dahlan, tak melulu soal > operasi liver dan semacamnya. Misalnya,ketika > menjelang operasi dia masih ditawari sebuah harian > berbahasa Inggris di Jakarta yang akan dijual > kepadanya. Malah, saya sebagai karyawan sendiri baru > tahu, kenapa WC bos dan anak buah satu pintu > (Jawabannya: supaya para bos bisa mengontrol > kebersihan WC itu sekaligus ajang interaksi nonformal > dengan bawahannya). Dan, masih banyak lagi. > > Kami-kami yang di belakang meja redaksi memang > penasaran juga dengan reaksi pelanggan kami. Test > case-nya, kami sengaja menyambangi beberapa pelanggan > kami. Ternyata, dari tulisan itu ada yang merasa > seperti mendapatkan nilai-nilai kehidupan baru. Ada > yang merasa sudah putus asa, kemudian bangkit kembali. > Ada juga yang blak-blakan keluar air mata saat membaca > tulisan Dahlan. Macam-macam memang... > > Anggota milis mediacare bisa mengirimkan tanggapan > tulisan Dahlan Iskan itu ke email: > [EMAIL PROTECTED] atau SMS: 081 331 313 373 > > Terima kasih, semoga sukses untuk Pak Daniel dan semua > anggota milis Mediacare. Thanks, juga Pak Moderator. > > > --------------------------------------------- > Irzan Aslam > Wartawan Indo Pos > Gedung Graha Pena Lantai 10 > Jalan Kebayoran Lama No. 12 Jakarta > [EMAIL PROTECTED] > Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Blog: http://mediacare.blogspot.com http://www.mediacare.biz Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
