Mungkin perlu lebih cerdas mensikapi masalah ini. Kalau toh sentimen keagamaan
lebih dominan dalam masalah ini, mestinya bisa dikaji apakah sentimen agama
ekspresinya melulu demikian? Apakah menjadi seorang beragama harus dibuktikan
dengan sikap menolak yang lain tanpa reserve, atau sebaliknya menerima yang
lain juga tanpa reserve?
Saya memang melihat bahwa lebih banyak hubungan dengan Israel itu (sependapat
dengan Siauw) bersifat prejudice. Sifat prejudice sangat berbahaya dalam
hubungan antar manusia dan antar kelompok. Apalagi kalau prejudice jadi mitos
yang diyakini demikian adanya.
Orang-orang seperti saudara Unik nampaknya terjebak pada mitologi mengenai
Israel (?) Mungkin sekali-sekali Unik perlu belajar dari mereka yang anda
klasifikasikan sebagai kaum liberal untuk melakukan proses demitologisasi dalam
masalah ini supaya kritik anda terhadap kelompok lain seperi Israel misalnya
lebih proporsional dan terutama rasional.
Bagimana?
Salam,
Wedekabe
Unik Ihsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
untuk Indonesia, saya katakan bahwa Indonesia beruntung sudah
diperingatkan oleh mayoritas muslimnya. Segelintir liberalism dalam Islam
sedikit memberi peluang bagi israel untuk di "maklumi" tindak tanduknya. Tapi
pada akhirnya , semua orang akan tahu, semua akan sadar akan yang sebenarnya,
jika memang mereka mencari tahu.
Mau pakai alasan apapun sekarang ini, untuk membenci israel sangatlah bisa
diterima, dari yang masuk akal hingga yang tak masuk akal. dari sudut agama,
maupun dari sudut ateis...dari sisi kemanusiaan hingga sisi politis. Buat saya,
seluruh lorong sudah menempatkan dia menjadi negara yang WAJIB di WASPADAI
dalam skala tertinggi. Akui saja, Indonesia belum mampu untuk "bersahabat"
dengan israel, wong dengan malaysia aja masi berantam. Bersahabat dengan
israel, sama dengan menggiring kita tidak pada posisi setara, tapi
direndahkan...lihat saja amerika.
saya juga "tidak menyukai" negara kawasan arab lainnya, tapi kalau
ditempatkan dalam skala 1-10, israel tetap no 1. No 1 the most bastard nation
is the world!
insudira <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
untuk di indonesia, secara objektif dan real alasan dari sdr.
siauwlah yang paling tepat dan jitu, kalau ada yang mngingkari itu
karena kemunafikan belaka. ini berdasarkan fakta-fakta yang tidak
terbantahkan seperti misalnya pada peristiwa teror peledakan bom di
bali, peristiwa penghancuran gedung wtc new york, para tokoh di
indonesia ataupun di ln yang sealiran selalu saja mencoba
mengalihkan opini, menyangkal dsb-nya melalui berbagai media dan
saya amati anehnya mayoritas orang-orang indonesia kok percaya, hayo
kenapa...
produk-produk hasil pemikiran orang yahudi, atau yang didevelop di
israel kenapa tidak di benci sekalian, kenapa enjoy aja makainya
lagi-lagi itu karena kemunafikan
damai untuk semua makhluk
insudira
--- In [email protected], siauw ve <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalo di Indonesia ini aku kok ga percaya kalo ada orang yg
membenci israel bukan krn alasan agama, apalagi kalo ada yg sok
bicara dari segi politik dan keamanan, wong secara politik banyak
rezim yg lebih brengsek dari israel tp para pembenci israel ini juga
diam aja. Dari segi HAM msh banyak yg layak dikutuk dari sekedar
israel. Kemana aja kalian selama ini shg diam aja melihat
pelanggaran HAM di arab saudi dan negara arab lain. Kenapa kalian
diam aja ketika melihat bom al qaeda tiap hari merenggut nyawa
penduduk sipil tidak berdosa.Bagi saya apapun alasannya entah
pembebasan, perjuangan kemerdekaan, ketertindasan ataupun alasan
lain tdk membuat seseorang boleh membunuhi orang lain. Bahkan kadar
kebencian kita terhadap israel mungkin lbh tinggi dari kadar
kebencian orang arab ataupun palestina thd israel, buktinya msh
banyk kok orang palestina yg kerja di israel tiap hari. Penduduk
israel juga ada yg beretnis arab. Untuk para pembenci israel, gimana
> kalo kalian jalan2 dulu ke israel, lihat kehidupan sosial disana
dan baru bikin postingan lagi.
> FYI, aku bukan fansnya israel tapi juga tidak termasuk pembenci
israel. Kalo harus membenci, Aku lebih benci malaysia, he he he.....
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Unik Ihsan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, September 20, 2007 2:11:53 AM
> Subject: Re: [mediacare] KOMPAS Promosikan Israel
>
> TIDAK. they are truly bastards! (saya bicara Israel, bukan yahudi)
> saya bersikekeh tetap tidak membela Israel dalam bentuk apapun.
Dahulu mungkin pernah saya "mencoba" bersikap objektif...tetapi
Tidak Sekarang...kenyataa n sudah sangat jelas...
>
> Ingat, Pengakuan sangat penting dalam kancah politik dunia.
Indonesia merdeka salah satunya melalui proses "pengakuan". Dan kita
semua tahu bahwa "Pengakuan Negara Lain" adalah jawaban atas politik
PBB dan negara adikuasa (mereka "asli"nya siapa? saya piker semua
tahu siapa).
>
> Mohon KOMPAS memperhatikan bahwa hal ini adalah hal yang sangat
PENTING & TIDAK ETIS, tidak hanya untuk umat beragama, tapi juga
secara politik dan keamanan.
>
>
> Unik Sultan
> ------------ --------- -----
> OMG! I ve never realized Indonesia is sooo beautiful... Like Me!
>
> Priyo Husodo <priyohusodo@ gmail.com> wrote:
> Bung kayaknya kalo ngga ada bangsa israel, agama samawi juga ngga
ada tuh...
> dulu Indonesia juga banyak yang ngga ngakui kok... politik luar
negari itu sebaiknya dilihat pada hubungan timbal balik, bukan dalam
kacamata agama.
>
> makanya indonesia ngga pernah pinter-pinter hubungan politik luar
negeri dengan timur tengah kok cuman sama arab saja.
>
> capee deeh...
>
> cheers,
> rph
>
>
> On 9/19/07, axmals <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> Assalamu`alaikum Wr. Wb.
>
> imagePemuatan advertorial tentang pariwisata Israel pada rubrik
> perjalanan (Klasifikasi Iklan) harian KOMPAS dinilai sarat
kepentingan
> mendukung negara zionis itu.
>
> "Halaman 44 yang paling tidak saya catat pada tiga edisi KOMPAS (6
> September 07, 13 Sept 07 tentang Eilat, dan satu lagi tentang
Kibbutz)
> bersama ini saya mengajukan protes keras atas pemuatan advertorial
> tersebut," ujar pengamat hukum Universitas Indonesia (UI) Heru
> Susetyo. Menurutnya, kebebasan berpendapat boleh, tapi, hak
mayoritas
> umat Islam jangan diabaikan. "Saya menghargai hak setiap orang atas
> kebebasan berekspresi (freedom of expression) melalui media massa,
> sayapun menghargai hak setiap orang untuk berpergian ke manapun ia
> suka (freedom of movement), namun saya harap KOMPAS juga
menghargai
> sikap politik, politik luar negeri, dan hak bangsa dan negara
> Indonesia untuk tidak mengakui eksistensi negara Israel," paparnya.
>
> Sejak berdirinya negara Israel sejak tahun 1948, tegasnya,
Indonesia
> tidak pernah mengakui eksistensi negara Israel secara yuridis,
formal,
> maupun politis, pun kini pada pemerintahan Presiden SBY.
>
> "Dasar utama penolakan ini adalah berdirinya negara Israel terjadi
> melalui penjajahan dan kekerasan yang menyejarah dan melegenda
dengan
> mengorbankan hak bangsa Palestina untuk hidup bebas dari penjajahan
> dan kekerasan."
>
> Sikap anti penjajahan bangsa dan Negara Indonesia terefleksi secara
> jelas dalam alinea pertama Pembukaan UUD 45, juga dalam politik
luar
> negeri Bebas Aktif Negara Indonesia. Salah satu implementasi sikap
> tersebut adalah dengan tidak membuka hubungan diplomatik dengan
> Israel, negara yang berdiri di atas darah dan air mata bangsa
> Palestina (dan juga Lebanon).
>
> Pemuatan advertorial pariwisata Israel pada tiga edisi KOMPAS
adalah
> suatu `pengakuan diam-diam' terhadap Israel. Secara diplomatik dan
> praktek konsuler, inipun mengherankan, karena bagaimana bisa
> masyarakat Indonesia mengunjungi Israel ketika Israel tidak
memiliki
> perwakilan di Indonesia? Bagaimana calon turis Indonesia
mendapatkan
> visa Israel? Apakah mereka harus ke negara ketiga dahulu yang
memiliki
> Perwakilan Israel? Maka secara tidak langsung advertorial tersebut
> mengajarkan turis Indonesia untuk menjadi "penyelundup visa."
>
> "Saya berharap, KOMPAS lebih sensitif dan lebih tanggap terhadap
isu
> ini. Janganlah membuat cedera hati sebagian rakyat Indonesia yang
anti
> kekerasan dan penjajahan di Asia Barat dan di semua penjuru bumi.
> Apalagi KOMPAS adalah media publik yang selama ini cukup terpercaya
> dan dikenal cukup hati-hati dalam pemberitaan, " tandas Heru.
> (rz/dina/m3©092007)
>
> image
> camel
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pinpoint customers who are looking for what you sell.
>
>
>
>
__________________________________________________________
_______________
> Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with
Yahoo! Autos.
> http://autos.yahoo.com/index.html
>
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.