Minggu, 09 September 2007 19:47:41 | 832 klik | | 

PKS VS Politik "Keroyokan"

Di kementerian pertahanan, komentar pertama yang terlontar dari Mr Teo Chee
Hean (Minister for Defence of Singapore) adalah: "PKS memang terlalu cepat
besar". Lalu seorang participant dari Myanmar juga bilang " Di Jakarta PKS
cukup berani, melawan koalisi partai besar, PKS memang Partai masa depan"

Ini bukan tulisan kali pertama saya tentang PKS. Merasa perlu untuk menulis
kembali oleh karena; pertama, didasari pada pemikiran bahwa sangat lah
penting membawa masalah politik yang cenderung dianggap praktis, ke arena
yang lebih dinamis yakni wacana diskursif. Semua orang boleh beropini,
menunjukkan persetujuan atau bahkan keberatannya hanya dengan jalan menulis.
Hingga budaya debat kusir digiring keluar arena karena menjadi kebiasaan si
Pandir yang membahayakan. Kedua, dirundung suasana kesedihan politik selepas
membaca Detik.com tentang kekalahan Adang Darajatun - Dani Anwar (Calon
Gunernur DKI Jakarta dari PKS) oleh Fauzi Bowo-Prijanto (Koalisi lebih
kurang 19 Partai). Saya kontan mengirim pesan singkat (SMS) kepada salah
seorang teman PKS Jakarta, dia bilang; "jangan lihat kalahnya dong, tapi
kita maknai pesannya, kita menang, suara kita melonjak hampir 100%. Mirip
peristiwa Pilgub Banten", katanya. Lalu jawaban SMS beliau saya balas dengan
'iya memang kita menang, Cuma nggak jadi gubenur aja'. hahahaha

Dua hal penting yang dapat saya catat; benarkah PKS menargetkan Pilgub
sebagai exercise untuk 2009, jika memang benar apakah perolehan suara PKS
dalam Pilkada (Banten-Jakarta) pun linear dengan Pemilu 2009 nanti? Lalu
hampir mayoritas Pilkada baik gubernur yang dimenangkan oleh PKS maupun PKS
didera kekalahan melibatkan persaingan sengit antara PKS atau koalisi kecil
PKS melawan Golkar, PDIP atau koalisi keduanya. Apakah ini bisa di potret
sebagai miniatur pergulatan Pilpres atau minimal Pemilu 2009 yang akan
datang. Saya kira ini menarik. 

Jika PKS memang menjadikan Pilkada sebagai latihan tentunya PKS kini tengah
bersiap dengan jurus ampuh, hasil penemuan dalam leason learnt serentetan
Pilkada. Dan logika berbanding lurusnya PKS 2009 berpotensi untuk menjadi
partai besar, setidaknya kedua setelah Golkar. Atau bahkan membuat Golkar
harus berada pada posisi setelahnya. Ini bisa jadi mungkin, bisa juga tidak
mungkin. Politik kini mirip sepak bola.

Seminggu saya di Singapura di undang makan malam di kementerian pertahanan,
komentar pertama yang terlontar dari Mr Teo Chee Hean (Minister for Defence
of Singapore) adalah: "PKS memang terlalu cepat besar". Lalu minggu kedua
saya menghadiri Asia Pacific Programe For Military Officers (APPSMO)
Singapura menjadi tuan rumah saat itu, seorang participant dari Myanmar juga
bilang " Di Jakarta PKS cukup berani, melawan koalisi partai besar, PKS
memang Partai masa depan". Dan banyak lagi yang membuat saya berfikir bahwa
PKS harus memiliki energy besar untuk mewujudkan pandangan banyak orang
tentangnya. Karena banyak juga Thesis para senior yang mencermati PKS, dan
mendudukkan PKS sebagai Partai yang punya peluang di Indonesia.

Setidaknya Golkar dan PDIP telah membaca signal ini, buktinya pada beberapa
bulan lalu mereka membangun komunikasi di Medan. Pertemuan itu memang
misterius. Karena hampir mustahil jika pertemuan itu adalah bentuk upaya
koalisi mereka pada pemilu 2009 nanti. Sebaliknya saya justeru curiga itu
adalah manifest dari upaya janjian politic untuk berlaga di 2009 nanti.
Karena harus disadari saat ini panggung Pilpres tak lagi milik mereka saja.
Tapi memungkinkan partai-patai lain pun bisa ikut serta dipanggung itu.

At least ada satu alasan mengapa ada pertemuan Medan. Sepertinya berembuk
untuk membuat aturan yang merumitkan persyaratan pencalonan presiden pada
angka yang tak terjangkau. Sehingga harus ada koalisi banyak partai, baru
bisa mencalonkan diri. Dan yang berpeluang mereka hitung hanya PDIP dan
Golkar. Dan partai lain hanya akan diberi kesempatan memilih koalisi apakah
dengan Golkar atau PDIP. Kita lihat saja statement dua partai ini di Senayan
baru-baru ini.

Sebab jika situasinya seperti Pilkada sekarang, PKS berpeluang mencalonkan
diri atau berkoalisi dengan partai lain maka mereka harus menelan pil pahit
koalisi, walaupun itu mustahil sebelumnya untuk mereka lakukan. Jika tidak
maka mereka akan dipastikan kalah. Seperti merancang panggung untuk mereka 
berdua. 

Mengapa PKS dihitung

Tidak sulit menemukan alasannya. Karena partai ini cukup solid, teruji
dengan mobilitas yang dinamis. Memiliki kemampuan menjalankan rangkaian
mesin politik dengan optimal. Meskipun dengan bahan bakar yang minimalis.
Kalau orang biasa pakai premium, PKS setidaknya tetap bisa berjalan dengan
Bio diesel. Energy yang mereka ciptakan sendiri. Pada 2009 PKS berpotensi
untuk mengusung calon pada Pilpres 2009. Kenapa tidak, mereka cukup berlatih
dalam Pilkada, tinggal menjalin komunikasi dengan tokoh bangsa ini yang
populer, saya rasa setara dengan kekuatan yang lainnya. Coba kita perhatikan
dalam setiap Pilkada untuk mengalahkan PKS harus ada koalisi Golkar - PDIP,
jika berpecah ceritanya menjadi lain. Padahal mungkin saja 2009 PKS
menggandeng partai-partai seusianya atau partai baru yang mungkin muncul dan 
juga agak besar. 

Apa Arti Koalisi bagi PDIP dan Golkar? 

Seolah asal jangan PKS, prinsip itu yang pada akhirnya mengkondisikan peta
perpolitikan bangsa ini berubah drastis. Cerita perhelatan Golkar-PDIP kini
berganti menjadi Golkar-PDIP vs PKS. Situasi yang mendongkrang panggung PKS 
setingkat lebih terhormat. Kehadiran partai ini seolah bisa menyatukan
Minyak dan air. Persoalannya apa yang akan terjadi pada pemilu 2009 jika
koalisi didaerah-daerah terus digalang PDIP- Golkar, partai ini akan semakin
terlihat pragmatis. Seolah kekuasaan menjadi energi satu-satunya. Anggapan
bahwa Golkar tak akan nyaman tanpa kekuasaan seperti mendapat pembenaran.
Lihat saja saat Jusuf Kalla akan dikeluarkan dari Golkar, tetapi saat menang
pada Pilpres karirnya bisa menjadi gemilang, menjadi Ketua DPP, aneh bukan?
Cerita bahwa setiap partai mengusung ideologi kini terbantah sudah. Semua
ideologi akhirya sama, "kekuasaan". 

PKS dan Contra Isu 

PKS fenomenal dengan jati diri kaum muda masjid kampus, tak pernah ada yang
menyangka ini bisa menjadi rahim lahirnya partai sebesar PKS. Sehingga
kelahiran partai yang dikenal religius ini meruntuhkan teori bahwa partai
Islam tidak laku lagi. Nyatanya kini ada PKS. Maka cara yang dianggap
efektif untuk mengkerdilkannya adalah menghubung-hubungkan PKS dengan Isu agama 
dan fundamentalisme (anti pluralism - dan pemrakarsa perda islami).
Isu ini awalnya manjur, tetapi saat PKS mampu mengejawantahkan nilai-nilai
universalitas Islam maka tak ada cara pintas yang dapat dilakukan kecuali
mengeroyok. 

Mendemarketisasi PKS sebagai partai bersih dan peduli, ini juga upaya yang
telah dilakukan. Dalam sebuah diskusi di salah satu harian di Banten seorang
politisi kita bilang "saya dipeloroti oleh partai dakwah", akan tetapi
setelah saya cek pernyataan tersebut sangat tidak benar. Tapi entah berapa
kali dan diberapa banyak forum politisi ini mendemarketisasi PKS. Jurus itu
setidaknya manjur, karena benteng moral PKS makin digerogoti. Namun bisa
menjadi sia-sia apabila Politisi PKS mampu membuktikan Kebersihan dan
kepeduliannya, tanpa pura-pura atau bias politik. Bahasa qur'annya Ikhlas.
Jika tidak, maka habislah . 

Banyak partai kini membuat simpul pengajian keislaman serupa PKS yang lebih
Nasionalis, kita bisa lihat hal itu begitu marak dilakukan dan digalang oleh
partai-partai lain. Tak ada pretensi untuk menyebutkan satu persatu. Lalu
saya berkonsultasi dengan dewan syari'ah, saya menjadi malu saat beliau
menjawab; "jangan jadikan munculnya pengajian Islam dipartai lain sebagai
saingan". Bahkan kata beliau kalau semua politisi sudah seperti yang kita
harapkan, kita (baca: PKS) tak perlu ada. Artinya biarlah kita percayakan
bangsa ini pada mereka. Karena kita juga partai manusia (berpotensi untuk
melakukan kesalahan). Sungguh dibuat malu, karena hampir saja saya
memasukkan aroma politik murni kedalam jati diri saya, dengan melupakan
bahwasanya tugas kita adalah menyemai kebaikan dan melakukannya, Itu saja.
Kekuasaan adalah alat, bukanlah tujuan, wah.saya hampir saja lupa. Semoga
kawan-kawan saya juga tidak lupa.

(Sekretaris umum DPW Gema Keadilan Banten)

Pos Graduate Student, Strategic Studies RSIS Nanyang Techological University
(NTU) Singapore

Source : http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi
<http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=3561> &id=3561

[Non-text portions of this message have been removed]



 

Kirim email ke