Kata guru ngaji saya, memang sekarang ini jaman dan musimnya PKS dan
sejenisnya. Nanti juga mereka akan hilang sendiri sesuai dengan waktu yang
berganti.

Masa-masa idealis seperti warga PKS saat ini, pernah terjadi juga di
masa-masa pada saat ada PKI dulu di tahun 1960-an. Para pendukung PKI,
loyalitasnya tidak perlu diragukan lagi. Persis plek dengan loyalitas kader
PKS saat ini.

Memang sejarah selalu berulang, dengan tokoh dan masa yang berbeda.

Ananto W. Sembodo


On 9/26/07, Budi - Production Control <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
> Minggu, 09 September 2007 19:47:41 | 832 klik | |
>
> *PKS VS Politik "Keroyokan"
> *
> *Di kementerian pertahanan, komentar pertama yang terlontar dari Mr Teo
> Chee
> Hean (Minister for Defence of Singapore) adalah: "PKS memang terlalu cepat
> besar". Lalu seorang participant dari Myanmar juga bilang " Di Jakarta PKS
> cukup berani, melawan koalisi partai besar, PKS memang Partai masa depan"
> *
> Ini bukan tulisan kali pertama saya tentang PKS. Merasa perlu untuk
> menulis
> kembali oleh karena; pertama, didasari pada pemikiran bahwa sangat lah
> penting membawa masalah politik yang cenderung dianggap praktis, ke arena
> yang lebih dinamis yakni wacana diskursif. Semua orang boleh beropini,
> menunjukkan persetujuan atau bahkan keberatannya hanya dengan jalan
> menulis.
> Hingga budaya debat kusir digiring keluar arena karena menjadi kebiasaan
> si
> Pandir yang membahayakan. Kedua, dirundung suasana kesedihan politik
> selepas
> membaca Detik.com <http://detik.com/> tentang kekalahan Adang Darajatun -
> Dani Anwar (Calon
> Gunernur DKI Jakarta dari PKS) oleh Fauzi Bowo-Prijanto (Koalisi lebih
> kurang 19 Partai). Saya kontan mengirim pesan singkat (SMS) kepada salah
> seorang teman PKS Jakarta, dia bilang; "jangan lihat kalahnya dong, tapi
> kita maknai pesannya, kita menang, suara kita melonjak hampir 100%. Mirip
> peristiwa Pilgub Banten", katanya. Lalu jawaban SMS beliau saya balas
> dengan
> 'iya memang kita menang, Cuma nggak jadi gubenur aja'. hahahaha
>
> Dua hal penting yang dapat saya catat; benarkah PKS menargetkan Pilgub
> sebagai exercise untuk 2009, jika memang benar apakah perolehan suara PKS
> dalam Pilkada (Banten-Jakarta) pun linear dengan Pemilu 2009 nanti? Lalu
> hampir mayoritas Pilkada baik gubernur yang dimenangkan oleh PKS maupun
> PKS
> didera kekalahan melibatkan persaingan sengit antara PKS atau koalisi
> kecil
> PKS melawan Golkar, PDIP atau koalisi keduanya. Apakah ini bisa di potret
> sebagai miniatur pergulatan Pilpres atau minimal Pemilu 2009 yang akan
> datang. Saya kira ini menarik.
>
> Jika PKS memang menjadikan Pilkada sebagai latihan tentunya PKS kini
> tengah
> bersiap dengan jurus ampuh, hasil penemuan dalam leason learnt serentetan
> Pilkada. Dan logika berbanding lurusnya PKS 2009 berpotensi untuk menjadi
> partai besar, setidaknya kedua setelah Golkar. Atau bahkan membuat Golkar
> harus berada pada posisi setelahnya. Ini bisa jadi mungkin, bisa juga
> tidak
> mungkin. Politik kini mirip sepak bola.
>
> Seminggu saya di Singapura di undang makan malam di kementerian
> pertahanan,
> komentar pertama yang terlontar dari Mr Teo Chee Hean (Minister for
> Defence
> of Singapore) adalah: "PKS memang terlalu cepat besar". Lalu minggu kedua
> saya menghadiri Asia Pacific Programe For Military Officers (APPSMO)
> Singapura menjadi tuan rumah saat itu, seorang participant dari Myanmar
> juga
> bilang " Di Jakarta PKS cukup berani, melawan koalisi partai besar, PKS
> memang Partai masa depan". Dan banyak lagi yang membuat saya berfikir
> bahwa
> PKS harus memiliki energy besar untuk mewujudkan pandangan banyak orang
> tentangnya. Karena banyak juga Thesis para senior yang mencermati PKS, dan
> mendudukkan PKS sebagai Partai yang punya peluang di Indonesia.
>
> Setidaknya Golkar dan PDIP telah membaca signal ini, buktinya pada
> beberapa
> bulan lalu mereka membangun komunikasi di Medan. Pertemuan itu memang
> misterius. Karena hampir mustahil jika pertemuan itu adalah bentuk upaya
> koalisi mereka pada pemilu 2009 nanti. Sebaliknya saya justeru curiga itu
> adalah manifest dari upaya janjian politic untuk berlaga di 2009 nanti.
> Karena harus disadari saat ini panggung Pilpres tak lagi milik mereka
> saja.
> Tapi memungkinkan partai-patai lain pun bisa ikut serta dipanggung itu.
>
> At least ada satu alasan mengapa ada pertemuan Medan. Sepertinya berembuk
> untuk membuat aturan yang merumitkan persyaratan pencalonan presiden pada
> angka yang tak terjangkau. Sehingga harus ada koalisi banyak partai, baru
> bisa mencalonkan diri. Dan yang berpeluang mereka hitung hanya PDIP dan
> Golkar. Dan partai lain hanya akan diberi kesempatan memilih koalisi
> apakah
> dengan Golkar atau PDIP. Kita lihat saja statement dua partai ini di
> Senayan
> baru-baru ini.
>
> Sebab jika situasinya seperti Pilkada sekarang, PKS berpeluang mencalonkan
> diri atau berkoalisi dengan partai lain maka mereka harus menelan pil
> pahit
> koalisi, walaupun itu mustahil sebelumnya untuk mereka lakukan. Jika tidak
> maka mereka akan dipastikan kalah. Seperti merancang panggung untuk mereka
> berdua.
>
> *Mengapa PKS dihitung
> *
> Tidak sulit menemukan alasannya. Karena partai ini cukup solid, teruji
> dengan mobilitas yang dinamis. Memiliki kemampuan menjalankan rangkaian
> mesin politik dengan optimal. Meskipun dengan bahan bakar yang minimalis.
> Kalau orang biasa pakai premium, PKS setidaknya tetap bisa berjalan dengan
> Bio diesel. Energy yang mereka ciptakan sendiri. Pada 2009 PKS berpotensi
> untuk mengusung calon pada Pilpres 2009. Kenapa tidak, mereka cukup
> berlatih
> dalam Pilkada, tinggal menjalin komunikasi dengan tokoh bangsa ini yang
> populer, saya rasa setara dengan kekuatan yang lainnya. Coba kita
> perhatikan
> dalam setiap Pilkada untuk mengalahkan PKS harus ada koalisi Golkar -
> PDIP,
> jika berpecah ceritanya menjadi lain. Padahal mungkin saja 2009 PKS
> menggandeng partai-partai seusianya atau partai baru yang mungkin muncul
> dan juga agak besar.
>
> *Apa Arti Koalisi bagi PDIP dan Golkar?
> *
> Seolah asal jangan PKS, prinsip itu yang pada akhirnya mengkondisikan peta
> perpolitikan bangsa ini berubah drastis. Cerita perhelatan Golkar-PDIP
> kini
> berganti menjadi Golkar-PDIP vs PKS. Situasi yang mendongkrang panggung
> PKS setingkat lebih terhormat. Kehadiran partai ini seolah bisa menyatukan
> Minyak dan air. Persoalannya apa yang akan terjadi pada pemilu 2009 jika
> koalisi didaerah-daerah terus digalang PDIP- Golkar, partai ini akan
> semakin
> terlihat pragmatis. Seolah kekuasaan menjadi energi satu-satunya. Anggapan
> bahwa Golkar tak akan nyaman tanpa kekuasaan seperti mendapat pembenaran.
> Lihat saja saat Jusuf Kalla akan dikeluarkan dari Golkar, tetapi saat
> menang
> pada Pilpres karirnya bisa menjadi gemilang, menjadi Ketua DPP, aneh
> bukan?
> Cerita bahwa setiap partai mengusung ideologi kini terbantah sudah. Semua
> ideologi akhirya sama, "kekuasaan".
>
> *PKS dan Contra Isu
> *
> PKS fenomenal dengan jati diri kaum muda masjid kampus, tak pernah ada
> yang
> menyangka ini bisa menjadi rahim lahirnya partai sebesar PKS. Sehingga
> kelahiran partai yang dikenal religius ini meruntuhkan teori bahwa partai
> Islam tidak laku lagi. Nyatanya kini ada PKS. Maka cara yang dianggap
> efektif untuk mengkerdilkannya adalah menghubung-hubungkan PKS dengan Isu
> agama dan fundamentalisme (anti pluralism - dan pemrakarsa perda islami).
> Isu ini awalnya manjur, tetapi saat PKS mampu mengejawantahkan nilai-nilai
> universalitas Islam maka tak ada cara pintas yang dapat dilakukan kecuali
> mengeroyok.
>
> Mendemarketisasi PKS sebagai partai bersih dan peduli, ini juga upaya yang
> telah dilakukan. Dalam sebuah diskusi di salah satu harian di Banten
> seorang
> politisi kita bilang "saya dipeloroti oleh partai dakwah", akan tetapi
> setelah saya cek pernyataan tersebut sangat tidak benar. Tapi entah berapa
> kali dan diberapa banyak forum politisi ini mendemarketisasi PKS. Jurus
> itu
> setidaknya manjur, karena benteng moral PKS makin digerogoti. Namun bisa
> menjadi sia-sia apabila Politisi PKS mampu membuktikan Kebersihan dan
> kepeduliannya, tanpa pura-pura atau bias politik. Bahasa qur'annya Ikhlas.
> Jika tidak, maka habislah .
>
> Banyak partai kini membuat simpul pengajian keislaman serupa PKS yang
> lebih
> Nasionalis, kita bisa lihat hal itu begitu marak dilakukan dan digalang
> oleh
> partai-partai lain. Tak ada pretensi untuk menyebutkan satu persatu. Lalu
> saya berkonsultasi dengan dewan syari'ah, saya menjadi malu saat beliau
> menjawab; "*jangan jadikan munculnya pengajian Islam dipartai lain sebagai
> saingan". Bahkan kata beliau kalau semua politisi sudah seperti yang kita
> harapkan, kita (baca: PKS) tak perlu ada. Artinya biarlah kita percayakan
> bangsa ini pada mereka. Karena kita juga partai manusia (berpotensi untuk
> melakukan kesalahan*). Sungguh dibuat malu, karena hampir saja saya
> memasukkan aroma politik murni kedalam jati diri saya, dengan melupakan
> bahwasanya tugas kita adalah menyemai kebaikan dan melakukannya, Itu saja.
> Kekuasaan adalah alat, bukanlah tujuan, wah.saya hampir saja lupa. Semoga
> kawan-kawan saya juga tidak lupa.
>
> (Sekretaris umum DPW Gema Keadilan Banten)
>
> Pos Graduate Student, Strategic Studies RSIS Nanyang Techological
> University
> (NTU) Singapore
>
> Source : http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi
> <http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=3561> &id=3561
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

Kirim email ke