SUARA PEMBARUAN DAILY   
---------------------------------
    Cakrawala Politik PDI-P      Boni Hargens   inggu kedua September 2007, 
Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) mengadakan Rapat Kerja Nasional 
(Rakernas) II dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas). Tepatnya 8-10 September 
2007. Ada 22 butir rekomendasi yang dihasilkan, selisih satu dari 23 butir 
Rakernas I di Bali 9 Januari 2007. Namun demikian, substansi dua Rakernas ini 
sama.   Pertama, kritik atas Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla 
yang dinilai gagal. Kedua, tuntutan agar Megawati Soekarnoputri dicalonkan pada 
Pemilihan Presiden 2009 dengan maksud mengawal komitmen PDI-P terhadap 
Pancasila 1 Juni 1945, UUD 1945, serta kebinekaan dan keutuhan Negara Kesatuan 
Republik Indonesia.   Tentang yang pertama, sudah lagu lama. Semua tahu bahwa 
pemerintahan ini gagal. Maka efektif atau tidak kritik PDI-P ditentukan oleh 
apakah, dalam kapasitas sebagai partai oposan, PDI-P mampu menggerakkan bandul 
politik di parlemen ke arah yang lebih kritis (terhadap
 pemerintah) atau malah sebaliknya.   Lalu kedua, perihal pencalonan Megawati. 
Logis bahwa komentar miring datang dari berbagai arah. Soalnya Mega, meski 
dibilang tak laku lagi, masih menjadi pesaing berat bagi figur seperti Susilo 
Bambang Yudhoyono. Apalagi kalau bersaing dengan Jusuf Kalla, Wiranto, Akbar 
Tandjung, Sutiyoso, Amien Rais. Di antara para "kuda tua" itu, jelas Mega masih 
lebih unggul walau keunggulan minus malum.   Bahkan jika pencapaian politik SBY 
tidak melampaui pemerintahan Megawati dulu, otomatis tergusur di pemilu 
berikutnya. Mega barangkali layak was-was kalau pesaing nanti adalah 
figur-figur baru yang punya reputasi tinggi. Untungnya, hingga kini belum ada 
yang layak menyandang predikat itu.   Dua kemungkinan lain yang menjadi alasan 
bakal saingan Mega ketakutan adalah, pertama, oposisi politik di parlemen 
sukses, dan kedua, komunikasi politik PDI-P, terutama Mega, dibenahi secara 
komprehensif. Dua hal itu melayakkan PDI-P bermimpi indah.     Pemimpin
   Dalam orasi politik, Ketua Umum PDI-P Hj Megawati Soekarnoputri menegaskan, 
Pemilu 2009 bukan sekadar menghasilkan presiden, melainkan seorang pemimpin. 
Pemimpin, mengutip Megawati, adalah orang yang terus berpikir untuk bangsa. 
Apakah Rakernas ini upaya mencari "pemimpin" di 2009?   Ini tantangan bagi 
Moncong Putih. Sebagai partai tua, ia tentu pantas angkat kepala. Tapi politik 
adalah ketidakpastian sehingga syarat dasar adalah bagaimana mensinergikan visi 
partai dengan kepentingan bangsa. Sebab meluasnya basis dukungan berbanding 
lurus dengan keberpihakan partai pada nasib rakyat.   Kalau dalam pidato 
peringatan kelahiran Pancasila, 1 Juni 2007, di Ende, Flores, Megawati 
Soekarnoputri mengutip Soekarno tentang pentingnya menjadi bangsa mandiri yang 
berdiri di atas kaki sendiri, maka tugas pemimpin adalah bagaimana mengokohkan 
hakikat Indonesia sebagai bangsa mandiri, bermartabat, dan yang kedaulatannya 
tak digadai ke tetangga atau otonominya relatif karena tekanan
 lembaga dunia (IMF, Bank Dunia, dan lain-lain) yang sering kali menyembunyikan 
tabiat kolonial di balik slogan globalisasi dan pembangunan mondial. 
Seolah-olah dunia sebagai desa buana (global village) dengan sendirinya 
memberadabkan negara-negara kaya yang gandrung memperlakukan secara tidak adil 
negara-negara satelit di Dunia Ketiga.   Pada konteks inilah, tampak sekali 
Indonesia memerlukan pemimpin yang negarawan. Maka tantangan bagi partai 
nasionalis seperti PDI-P, bagaimana membendakan ide pemimpin-negarawan sehingga 
bukan sekadar utopia. Sudah seharusnya Rakernas kali ini mengupas siasat-siasat 
realistis dalam mencari pemimpin-negarawan itu. Sebab cakrawala politik 
Indonesia mesti menjadi cakrawala politik PDI-P. Implikasinya, PDI-P turut 
bertanggung jawab atas hilangnya negarawan dari cakrawala Indonesia.   Rakernas 
boleh saja merekomendasikan pencalonan Megawati Soekarnoputri, tapi itu 
kepentingan partai, bukan kepentingan publik. Kepentingan publik adalah
 merasakan kontribusi PDI-P dalam mewujudkan pemerintahan yang berpihak pada 
mustadzáfin atau the disinheritted dalam bahasa Frantz Fanon (1925-1961).   Pil 
pahit yang ditelan PDI-P pada Pemilu 2004 lalu kiranya menjadi pelajaran, bahwa 
ketika partai tidak memberikan konstribusi nyata, rakyat-pemilih bakal 
mencampakkannya. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran bahwa tugas partai bukan 
sekadar merekrut elite tetapi bagaimana melakukan konsien-tisasi politik agar 
rakyat dimerdekakan dari belengu-belenggu multidimensi.   Itu "utang bersama" 
partai politik dalam sejarah kita, termasuk PDI-P, karena hampir pasti tidak 
ada partai yang peduli dengan agenda penyadaran politik. Makanya jajak pendapat 
Kompas (10/9) representatif, bahwa parpol cenderung mementingkan kekuasaan 
daripada kesejahteraan rakyat (63,9 persen responden).     Dua Syarat   Secara 
sederhana, ada dua utang pokok partai nasionalis seperti PDI-P. Pertama, 
melahirkan pemimpin-negarawan yang masih absen dari sejarah
 kita. Kedua, proyek penyadaran bagi masyarakat-politik (the polity). Pada dua 
aras ini, PDI-P harus membuktikan diri layak diharapkan.   Implementasi 
konkretnya, diperlukan dua syarat. Pertama, menggalang oposisi politik yang 
produktif di parlemen, setidaknya hingga 2009 minimal satu kebijakan 
kontroversial pemerintah yang berhasil dibatalkan atau direvisi atas desakan 
oposisi. Dulu pengajuan hak angket impor beras di awal 2005 kandas di jalan. 
Begitu pula nasib interpelasi lain dalam kasus pencabutan subsidi bahan bakar 
minyak (BBM), nuklir Iran terkait Resolusi PBB No 1747, dan terakhir 
interpelasi lumpur Lapindo. Andai satu saja yang sukses, PDI-P barangkali tak 
perlu berkampanye untuk memenangkan Pemilu 2009.   Kedua, hubungan dua partai 
besar, PDIP-Golkar, perlu diatur dalam jarak yang strategis. Silaturahmi atau 
apa pun yang menyerupai koalisi di Medan dan Palembang perlu dikawal supaya 
"arus bawah" tidak berkesimpulan, partai hanya milik elitenya dan supaya tidak
 meremehkan oposisi.   Sadar atau tidak, kemerosotan citra parpol belakangan 
berkorelasi signifikan dengan kecenderungan elitisasi parpol, di mana partai 
direduksi sebagai privilese kelompok elitis.   Sejumlah parameter sudah jelas, 
mulai dari mekanisme pengambilan keputusan, penentuan isu yang menjadi 
kepedulian partai, sampai pada penentuan kandidat pemimpin. Isu partai lokal 
yang sempat semarak mau mendobrak elitisme yang kaku di tubuh partai nasional. 
Secara organisatoris, partai mencakup pusat hingga daerah. Namun secara 
pragmatis, gasing partai berkisar di pusat, menggauli isu-isu elitis yang 
jarang bersentuhan dengan nasib rakyat jelata.   Partai apa pun yang mampu 
mengubah gasing partai yang sentrifugal bakal mendulang dukungan luas dari 
publik. Sebab partai harus bergerak sentripetal, menjangkau masyarakat luas 
dalam pengabdiannya. Dalam hal ini, PDI-P amat berpotensi menjadi partai 
terbuka yang akomodatif. Dan justru karena potensi itulah, PDI-P berpeluang 
besar
 untuk memenangkan Pemilu 2009 mendatang.   Apalagi Golkar sebagai partai besar 
lain, yang ideologinya sama-sama nasionalis, mengalami persoalan. Posisi 
politiknya sebagai partai pro-pemerintah menyempitkan peluang untuk kembali 
mengungguli partai-partai lain di Pemilu 2009. Aura kemenangan sudah terpancar 
pada PDI-P, hanya apakah aura itu akan tetap bersinar ataukah sebaliknya, semua 
berpulang pada kiprah Moncong Putih hingga detik- detik menentukan di 2009.   
Variabel paling signifikan adalah kinerja partai. Sebab ukuran kemenangan di 
pemilu berikutnya adalah apakah partai committed memunculkan negarawan dalam 
suksesi politik ataukah uang masih menjadi determinan utama.     Penulis adalah 
pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia; Direktur Riset Parrhesia 
Institute, Jakarta     
---------------------------------
  Last modified: 25/9/07 
       
---------------------------------
 Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Tryit now.

Kirim email ke