Tulisan, dan judul, yang menarik. Sebagai haluan negara, atau apalah 
definisinya,
Pancasila (PS) tentu bersifat ideologis, juga world outlook, dan ini juga tentu 
dapat
dilihat dan dipraktikan menurut berbagai penafsiran. Dikenal juga bahwa 
kebenaran
(truth) juga sering diperkosa. Karena apa? Karena konon ia selalu bugil! (Maaf).

Kita tahu misalnya Marxisme mempunyai interpretasi yang sekian banyaknya.
Demikian juga dalam berbagai agama telah terjadi banyak sekali schism.
Juga demokrasi dalam pelaksanaan, dan mutunya, mempunyai corak yang cukup
berbeda. Barat condong mengatakan Rusia sekarang demokrasinya "timpang".
Apakah di AS semua okey dengan demokrasinya?
Mengapa oleh sebuah survey belum lama ini oleh Financial Time, diputuskan bahwa
Sweden kini yg paling demokratis sedunia? AS "hanya" nomor 17, diikuti Ceko 
(18).

Bung Sadewa, namun kalau tidak salah juga mungkin semua pakar atau politisi 
Indonesia, belum ada yang mau jelas mengatakan: Kalau PS tidak boleh menjadi
azas parpol, atau yg mereka bilang "azas tunggal", lalu azas-azas lain apa yang
akan sah secara UU boleh dipegang oleh sebuah parpol? Azas-azas, yang berbeda
dengan PS, mungkin akan membuat RI berkeping-keping. Apa yang lain itu seperti
azas agamis, Stalinisme, neoliberalisme, Kejawen, neoconservatism, scientology?

Sebuah perekat selalu diperlukan sebagai conditio sine qua non untuk lestarinya 
kebersamaan dalam kemajemukan.

Tidak sabar menunggu pencerahan dari manapun,
wassalam, Bismo DG, Praha



  ----- Original Message ----- 
  From: semar samiaji 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, September 26, 2007 6:03 AM
  Subject: Re: [HKSIS] Fw: Nasib Malang Pancasila++Bung Sadewa



  ha..ha..ha..menarik apa yang Bung sampaikan..ijinkan beri warna atas apa yang 
Bung sampaikan...

  Apa yang Bung sampaikan sesunguhnya adalah satu "kenyataan" dan bisa menjadi 
satu "hipotesa" bahwa walau pun Pancasila sudah ada, namun bagaimana bentuk dan 
cara mengisinya masih mengalami jatuh dan bangun. 

  Di saat bersamaan, sebenarnya juga sebagai pembuktian bahwa dengan telah 
"diujinya" Pancasila dengan berbagai bentuk gelombang, tetap berdiri dan ada di 
Republik Indonesia tercinta, iya khan? Untuk tahapan ini, mohon jangan 
dicampuradukkan dengan kenyataan hidup saat ini, karena semuanya "masih" 
berproses menuju "kesujatian" Pancasila dalam ujud kehidupan nantinya.

  Biarlah waktu dan Demensi YMK akan tentukan ujud kehidupan ber-Pancasila yang 
sesungguhnya...dan tentunya, ini hanya berlaku bagi yang meyakininya...

  salam,
  ss

  HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

    ----- Original Message ----- 
    From: sadewa48 
    To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
    Cc: sadewa48 
    Sent: Monday, September 24, 2007 6:31 PM
    Subject: [wahana-news] Nasib Pancasila


    Nasib Malang Pancasila

    Apakah Pancasila sedang sakit keras sehingga nasibnya berada dalam 
kemalangan? Atau jatuh miskin sehingga perlu ditolong dengan program Bantuan 
Tunai Langsung seratus ribu perak setiap bulan? Atau jangan-jangan terserang 
flu burung karena lambang Pancasila selalu dikalungkan di leher seekor burung 
pendiam yang disebut Garuda? Rupanya dia tidak sakit, tidak jatuh miskin kurang 
gizi, juga tidak terserang flu burung. Ibarat wanita, sejak kelahirannya 
Pancasila selalu bernasib malang karena terus-menerus "diperkosa". 

    "Pemerkosa" pertama adalah penggalinya sendiri, Soekarno. Menurut penilaian 
Bung Hatta, Pembubaran Konstituante dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan 
"tindakan diktatur yang disetujui oleh DPR yang berdasarkan demokrasi". Tak 
lama kemudian terjadi "pemerkosaan" kedua di mana DPR yang anggotanya ditunjuk 
sendiri oleh Soekarno dibubarkan karena tidak sepaham dengan presidennya. 
Berkata Bung Hatta dalam penerimaan gelar Doktor HC dari UI: "Dua kali dalam 
waktu yang singkat ia (Soekarno-pen) berbuat bertentangan dengan Pancasila". 
(Hatta: "Menuju Negara Hukum",  Idayu 1980 hal.15-16).

    'Pemerkosaan" juga terjadi ketika DN Aidit, pimpinan PKI menyampaikan 
pidatonya berjudul "PKI Membela Pancasila". Ketika itu ada Peraturan Presiden 
No. 7 dan 9 dalam rangka "retooling" di mana semua partai harus mencantumkan 
asas "membela dan mempertahankan Pancasila". Yang tidak setuju akan dibubarkan. 
Aidit tidak kehilangan akal. Dia menggugat  agar Pancasila "jangan 
diprethel-prethel, tetap sebagai suatu kesatuan yang merupakan realitas konkrit 
yang ada dalam masyarakat". Rupanya, dengan tidak diprethel-prethel, berarti 
hanya ada Pancasila, tak perlu meributkan sila-silanya. 

    Bisa ditambah, PKI juga yang menyebut "Pancasila sebagai alat pemersatu 
bangsa". Karena itu "kalau sudah bersatu, ya tidak diperlukan lagi. Di situlah 
betulnya Pancasila ..." (Lihat: Garuda Emas Pancasila, Roeslan Abdulgani hal. 
135). Alhasil, dengan "persilatan retorika" ini PKI "lolos sensor". Ketika 
mengalami jalan buntu, negara kita berdasarkan Islam atau Pancasila, PKI 
sebagai pemenang Pemilu 1955 ranking keempat bersatu dengan PNI yang ranking 
pertama ditambah partai nasionalis lainnya memilih Pancasila. Akibatnya, suara 
pembela Pancasila lebih besar daripada suara pengusung Islam untuk dijadikan 
dasar negara. Dan "di situlah betulnya" mengapa PKI mengklaim sebagai "pembela 
Pancasila". Suatu "persilatan retorika" yang lebih meriah daripada cerita 
silatnya Kho Ping Hoo 

    Tapi "pemerkosaan" yang bertubi-tubi adalah yang dilakukan oleh pemerintah 
Orde Baru. Demi pelestarian kekuasaan, dibangunlah "demam Pancasila". Apa yang 
tidak pakai embel-embel Pancasila? Mulai Demokrasi Pancasila, Ekonomi 
Pancasila, Asas Tunggal Pancasila, sampai Sepakbola Pancasila dan P-4.  Tidak 
ketinggalan ada hari Kesaktian Pancasila. Dan Moerdiono yang Menteri Sekretaris 
Negara tak mau ketinggalan menggagas perlunya disusun "Kamus Pancasila".  Salah 
satu buku Pramudya Ananta Toer harus dibredel karena salah seorang tokohnya, 
Nyai Ontosoroh, tidak Pancasilais berhubung tidak mau mengakui bapaknya. Di 
negara Pancasila tidak ada anak tidak mengakui bapaknya.

    Di era reformasi, rupanya Pancasila sedang "diluruskan", dari slogan dan 
rompi politik kembali menjadi suatu weltanschauung sebagaimana dipidatokan oleh 
penggalinya pada 1 Juni 1945. Dan itu kebablasan sehingga Pancasila sebagai 
weltanschauung malah hilang dari peredaran (baca: pergunjingan). Rupanya 
sesudah desoekarnoisasi di era Orde Baru, kini mulai muncul pula 
depancasilaisasi. 

    Karena itu  dalam usulan ke DPR dalam rangka penyusunan UU Parpol 
belakangan ini, ada beberapa parpol yang menghendaki agar Pancasila disebut 
secara tegas sebagai asas parpol (meskipun tidak menyebut sebagai "asas 
tunggal"), sementara itu ada yang menolak karena dianggap "kembali ke Orde Baru 
dan fasisme". 

    Sebelumnya ada tokoh berpendapat Pancasila itu hanya omongan orang saja. 
Buktinya? Di Pembukaan UUD 1945 tak sekalipun disebut Pancasila secara verbal. 
Karena itu (masih kata si tokoh) dasar negara kita bukanlah Pancasila tapi 
Piagam Djakarta  yang sudah sah kedudukannya karena tercantum dalam Keppres 
Nomor 150/1959 dan Lembaran Negara Nomor 75/1959 sebagai konsideran pada Dekrit 
Presiden 5 Juli 1959. (Republika, 22-6-07). Oh Pancasila, malang nian nasibmu. 

    Sadewa 


    [Non-text portions of this message have been removed]



     
    Yahoo! Groups Links





    -- 
    No virus found in this incoming message.
    Checked by AVG Free Edition. 
    Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.28/1023 - Release Date: 2007/9/22 
¤U¤È 01:27






------------------------------------------------------------------------------
  Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
  Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

   

Kirim email ke