Refleksi: Alangkah hebatnya dalam pertemuan selama 30 menit bisa banyak hal 
dibicarakan dan disetujui. Apakah dalam pembicaraan tsb ini juga dinyatakan 
keinginan penyitaan segala simpanan harta korupsi Pak Harto yang berada di mana 
pun di pelosok dunia ini?


HARIAN ANALISA
Edisi Kamis, 27 September 2007 

Pemerintah RI Nyatakan Keinginan Berpartisipasi dalam StAR 

New York, (Analisa) 

Pemerintah Indonesia menyatakan keinginan untuk berpartisipasi dalam inisiatif 
StAR/Stolen Asset Recovery guna lebih memperkuat kemampuannya melaksanakan 
ketentuan Bab V Konvensi PBB mengenai pemberantasan korupsi (United Nations 
Convention Against Corruption/UNCAC) 2003 mengenai pengembalian aset, khususnya 
dalam hal melacak, membekukan dan mengembalikan aset yang berada di luar 
wilayah yuridiksinya. 

Hal tersebut dikemukakan dalam suatu pertemuan dwipihak antara Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dan Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick di sela-sela sidang 
umum ke-62 PBB, di New York, Selasa sore waktu setempat atau dini hari waktu 
Indonesia. 

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan kedua belah pihak, disebutkan kedua 
belah pihak menggarisbawahi StAR sebagai sebuah program unik dan inovatif yang 
memungkinkan negara berkembang dan negara maju mendapatkan manfaat dalam 
konteks implementasi UNCAC 2003. 

Disebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah mengambil 
langkah-langkah penting dan mendasar dalam upaya memberantas korupsi. 

Oleh karena itu, sebagai negara pihak dari Konvensi UNCAC 2003 dan tuan rumah 
penyelenggaraan pertemuan ke-2 negara-negara pihak dari UNCAC 2003 di Bali, 28 
Januari-1 Febuari 2008, Indonesia menyatakan keinginan untuk berpartisipasi 
dalam inisiatif StAR. 

Sebagai tindak lanjut maka misi bersama Bank Dunia dan UNODC akan berkunjung ke 
Indonesia guna mengembangkan lebih lanjut program bantuan teknis spesifik di 
bawah inisiatif StAR. 

Kedua pemimpin juga mendesak negara-negara maju untuk mengambil langkah-langkah 
yang diperlukan guna memastikan bahwa pusat-pusat keuangan dunia tidak menjadi 
tempat penyimpanan dana hasil korupsi yang dilarikan dari negara berkembang. 

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit itu kedua belah pihak juga 
bertekad melakukan kerja sama dalam bentuk suatu strategi baru kemitraan negara 
untuk mendukung pencapaian prioritas-prioritas pembangunan Indonesia di 
tahun-tahun mendatang. 

Hal itu berlaku khususnya di bidang pengentasan kemiskinan, reformasi 
pemerintahan, keberlanjutan lingkungan, investasi pembangunan infrastruktur dan 
pengembangan sektor swasta. 

Secara umum, pertemuan itu membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan 
bersama, termasuk kemitraan strategis Bank Dunia di Indonesia, inisiatif StAR 
yang baru diluncurkan bersama oleh kantor PBB untuk masalah obat terlarang dan 
kriminal (United Nations Office on Drugs and Crima) dan Bank Dunia serta peran 
kepemimpinan Indonesia di bidang lingkungan dan perubahan iklim. 

Sementara beberapa hari terakhir di Indonesia marak berkembang pro-kontra 
mengenai inisiatif StAR yang menempatkan mantan presiden kedua RI Soeharto di 
peringkat pertama mantan penguasa yang melakukan pencurian aset negara 
terbesar. 

Sejumlah pihak mendukung upaya baik yang diusulkan oleh Bank Dunia namun tidak 
sedikit juga yang mempertanyakan maksud dibalik semua keputusan yang terkesan 
mendadak itu. (Ant) 

Kirim email ke