Saya bukan karyawan bank atau penerbit kartu kredit.. tapi dari pengalaman
saya,
paling banter kena denda telat dan bunga kalo telat bayar.. seringnya sih
lupa atau
tagihan gak datang ke rumah.. Nah kalau tagihan tidak datang ke rumah, saya
komplain ke pihak bank agar dibebaskan dari semua biaya tersebut dan mereka
setujui (kebetulan itu kesalahan pihak kurir, misalnya)..

Beberapa kali menutup kartu karena saya tidak mau membayar annual fee..
Hasilnya ada yang ditutup (karena tidak disetujui pihak bank), tapi ada juga
yang
memberikan pembebasan. Kenapa gak mau bayar? Lah wong biasanya bikin
kartu juga ditawarin yang 'bebas iuran tahun pertama'.. Namanya juga minta..
dikasih syukur, gak dikasih ya maksa.. Hehehe..

Cuma emang yang penting pembayaran sebisa mungkin sebesar penggunaan/
tagihan.. Kalau ada tagihan, gimana bisa nutup kartu.. kalau saya kadang
saya lebihkan saldonya.. biar gak ada alasan nyusah"in kita..
Alhamdulillah, sejauh ini paling banter ya ditelp aja.. plus denda.. tapi
gak sampe
diteror atau gimana.. masih dalam batas wajar.. Mungkin karena catatan
pembayaran
yang lumayan rapih kali ya..

Supaya gak terlalu berat, bisa pakai yang namanya 'balance transfer' (dari
kartu lain)..
atau semacam 'cash from card'..  prinsipnya nyicil tagihan gitu.. jadi gak
terlalu berat..
dengan bunga yang relatif lebih kecil..

Oia, ada yang bisa sharing soal 'bea meterai' dari kartu kredit, apa benar
itu bisa
kita klaim? Kalau sudah tahunan pake kartu kan lumayan tuh.. 3000 atau 6000
(tergantung tagihan) dikalikan berapa bulan.. dikali berapa kartu.. :-P

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K
~yang masih suka berhutang.. :D

On 9/27/07, Basri Adhi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Salam,
>
> Sekedar ingin share pengalaman tentang administrasi BII card center yang
> amburadul, terutama bagian collection-nya.
>
> Sehubungan dengan "virus bebas yang hutang kartu kredit" yang menulari
> saya dan istri, maka satu demi satu kartu kredit yang kami miliki kami
> lunasi, baik itu dengan mencicil secara bertahap (kalau hutangnya gede), ada
> juga yang kami lunasin jreng.  Walaupun rata-rata penerbit kartu kredit
> "tidak menyambut dengan baik" upaya kita melunasi dengan berbagai alasan
> seperti kartu tidak bermasalah, kartu jarang dipakai belum bisa ditutup atau
> pelunasan tidak ada pengurangan bunga atau diskon; tapi dengan semangat baja
> kami ngotot tetap minta kartu dimakan gunting alias ditutup dan dipotong.
>
> Seiring dengan berjalannya waktu, tiba giliran kami ingin melunasi kartu
> kredit BII no 5452-9867-1578 <javascript:void(0)>-xxxx (oya kartu krdit
> ini kami peroleh bukan karena kami apply, tapi otomatis dikirim karena kami
> memakai fasilitas kredit mobil-nya ACC).  Lalu muncullah problem itu ...
>
> 1. Kami mencoba menghubungi ke BII Card Center, dan diberi nomor telepon 021
> 26508500 <javascript:void(0)>.  Nomor telepon ini sulit sekali dihubungi,
> karena operator memberikan ekstension yang tidak pernah diangkat.  Dari
> keterangan si operator, katanya kami harus menghubungi yang namanya Ibu xxxx
> (lupa, sang supervisor).
>
> 2.  Sampai akhirnya, pucuk dicinta ulam tiba.  Ketika kami berada di
> Semarang, ada petugas desk collector BII (wanita, tak sebut nama) menepon
> saya mengingatkan akan jatuh tempo; dan lalu langsung saya sergap dengan
> pertanyaan "bagaimana caranya saya melunasi tagihan kartu kredit BII saya".
> Walaupun jawabannya cukup berbelit dan berbelok (karena mungkin kapasitasnya
> cuma nagih, gak ditraining menjawab pertanyaan soal pelunasan+penutupan
> kartu), akhirnya saya mendapat jawaban agar saya datang ke kantor mereka di
> kawasan Mangga Dua.
>
> 3.  Sepulang dari Semarang Juni 2007), saya dan istri bergegas pergi ke
> kantor tersebut dan ditemui seorang staf bernama yang mengaku bernama WAWAN
> (saya gak tau ini nama beneran atau nama alias) dari bagian collection.
> Dengan negosiasi yang cukup alot, permohonan diskon saya (sebagaimana yang
> saya peroleh dari kartu kredit GE dan Citybank yang sudah saya lunasin
> duluan) akhirnya tidak disetujui, kecuali saya melunasi langsung jreng.
> Akhirnya saya membayar Rp 500.000,- dan setelah menghitung pakai
> kalkulator, si Wawan ini menyampaikan cicilan saya "sekitar Rp 275.000 per
> bulan"  (oya, saldo hutang saya terakhir sebelum dikurangi Dp yang 500rb itu
> Rp 3 juta).  Dan dengan tegas (setelah menghitung dan menyetorkan uang saya)
> mengatakan bahwa perjanjian akan dikirim dalam waktu 1 minggu serta abaikan
> bila menerima billing statement.  Oke saya anggap clear, dan dari dia saya
> menerima secarik kertas (slip) berwarna merah yang merupakan tindasan/copy
> dari Formulir Pembayaran.  Dalam slip itu dicap BII, unsecured products
> collection.
>
> 4.  Waktu berjalan,  sampai tiba billing statement ke rumah saya.
> Karena dipesan supaya diabaikan, maka saya abaikan : sambil menunggu
> perjanjian yang belum datang juga.  Sampai kemudian saya iseng telepon ke
> Wawan ini (no telepon 26508500 <javascript:void(0)> ext 7807).  Buat saya
> yang tinggal di bogor, interlokal ke eksntension itu cukup "membuat
> miskin", kalau tidak sibuk dan oleh mesin kita disuruh menekan tanda bintang
> untuk menunggu; oleh suara wanita mesin itu juga saya diminta telepon ke
> ekstension lain karena ekstension 7807 tidak merespon.  Dengan susah payah,
> akhirnya saya bisa terhubung dengan Wawan, yang saat saya desak soal surat
> perjanjian, dia lagi-lagi bilang oke segera dikirim.
>
> 5.  Tunggu punya tunggu, si surat tak kunjung tiba.  Dalam hati saya,
> barangkali BII card Center lagi gak butuh uang.  Silih berganti collector
> menelpon soal pembayaran, dan selalu saya jawab saya menunggu surat
> perjanjian/konfirmasi (yang seperti bank lain punya, sebagai bukti sahnya
> negosisasi, jumlah dan jangka waktu pembayaran).  Dan dengan sigap, biasanya
> para kolektor yang menelpon itu akan bilang, baik pak saya nanti urus surat
> perjanjian bapak, besok saya telepon.  Dan esok serta hari-hari selanjutnya
> tak ada lagi kabar...
>
> 6. Puncaknya, hari ini.  Saya mendapat SMS dari ibu saya di Semarang (yg
> sdh janda tinggal sendiri di rumah, usia sudah 60 tahun lebih), bahwa ada
> kolektor BII dengan nada membentak menanyakan data2 saya.  Mendengar itu,
> saya langsung murka...saya telpon saudara Wawan (lagi-lagi dengan susah
> payah dan membuang banyak pulsa).  Saya tumpahkan kemaran saya soal tidak
> becusnya BII mengurus ini semua, dengan terbata-bata Wawan mengelak bahwa
> 1. Program setlement saya sudah disetujui (lha, dari awal kan dia sudah
> bilang, makanya saya bisa bayar DP) ,
> 2. Surat perjanjian untuk saya sudah sudah dikirim akhir minggu ini (dan
> surat belum juga bisa saya terima dan tiba2 ada kolektor gebleg dan banci
> membentak-bentak via telepon ibu saya yang sudah tua dan tidak tahu apa2)
> 3. Akan cek lagi surat perjanjian sampai di mana...
>
> Jadi...
>
> Berhati-hatilah dengan kartu kredit BII anda, kelihatannya dministrasinya
> amburadul dan turn over desk kolektornya tinggi (sehingga info gak pernah
> nyambung).  Untuk melunasi aja sulit dan bikin jengkel.  Mending saldonya
> gede sekalian kali ya...biar sebanding sama puyengnya ngurusin kartu ini.
> Buat yang belum terlanjur bikin, mendingan jangan bikin kartu kredit (apa
> aja), pengalaman saya : rayuan sales kartu kredit adalah jebakan buat kita,
> sampai2 untuk menutupnya susahnya setengah mati...itu ada dananya lho,
> apalagi gak ada dananya.
>
> Wassalam,
>
> Basri Adhi
> Yang mencoba insaf dari sedotan kartu kredit.
>

Kirim email ke