Jemaah Ahmadiyah Aktif Lagi
(26 Sep 2007, 63 x , Komentar)

http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=41340

BULUKUMBA -- Setelah sempat vakum lebih dari setahun, jemaah aliran
Ahmadiyah di Bulukumba mulai aktif lagi. Hal itu ditandai dengan adanya
aktivitas jemaah sejak awal Ramadan di Masjid At Thahir di Desa Garanta
Ujungloe. Di masjid inilah, para jemaah Ahmadiyah memusatkan segala
aktivitasnya.Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum mencabut fatwa
yang melarang aliran ini. Pengikut Ahmadiyah meyakini setelah Muhammad saw,
akan turun rasul pada akhir zaman. Bagi Ahmadiyah, rasul itu diyakni adalah
Mirza Ghulam Ahmad as dari India yang juga pendiri alira ini.

Warga Desa Garanta sendiri dilaporkan sudah lama merasa resah dengan
aktivitas jemaah ahmadiyah di masjid ini. Dilaporkan, setiap malam jemaahnya
juga mengadakan salat tarawih. Sedikitnya, tujuh lelaki dan tiga wanita
terlihat di masjid ini setiap malam sejak awal Ramadan lalu.

Jika tidak ada tindakan tegas dari pemerintah, warga mengancam bersiap
melakukan
tindakan sendiri. "Mereka tidak punya izin untuk operasi kembali. Setiap
malam saya memang melihat ada kegiatan ibadah di masjid itu. Masyarakat
sekarang resah," kata Camat Ujungloe, Ali Saleng, Selasa, 25 September.

Ali menambahkan, pihaknya sudah beberapa kali melarang kegiatannya namun
tidak digubris.

Pada akhir tahun 2005 lalu, seribuan aktivis muslim di Bulukumba, menyerang
dan
menyegel paksa Masjid At Thahir. Masjid yang merupakan pusat kegiatan
Ahmadiyah ini memang berbeda dengan tempat ibadah muslim lainnya. Arahnya
tidak menghadap ke kiblat.

Saat disegel, pemimpin jemaah Ahmadiyah Bulukumba, Colleng, juga diamankan
petugas keamanan. Sementara imam Ahmadiyah, Murtiono, asal Jawa Tengah, juga
diungsikan ke kecamatan lainnya.

Aktivis muslim meminta agar kegiatan Ahmadiyah di Ujungloe, segera
dihentikan. Setelah aksi tersebut, kegiatan Ahmadiyah sempat vakum setahun
lebih.

Saat ingin dikonfirmasi, Colleng, tidak di rumahnya. "Bapak dan ibu pergi ke
sawah," kata salah seorang anak perempuan yang mengaku putri Colleng.
Sehari-hari Colleng berprofesi sebagai permbuat gigi palsu di samping
bekerja di sawah.

Colleng dilaporkan mulai mengenal aliran ini saat berkenalan dengan
Murtiono,
lelaki asal Jawa Tengah yang juga dikenal sebagai pemimpin wilayah
Ahmadiyah.

Kepala Kantor Departemen Agama Bulukumba, Syafruddin, yang ditemui
mengatakan, fatwa MUI menegaskan bahwa aliran ini termasuk sesat dan
dilarang. Hanya saja, kata dia, yang punya kewenangan memberi izin atau
tidak untuk beroperasi kembali adalah bupati.

"Saya kira kita perlu duduk bersama untuk membicarakan hal ini. Yang pasti
Ahmadiyah
adalah aliran sesat sesuai fatwa MUI," tandasnya. (adn)KPPSI: Segera Tutup
(26 Sep 2007, 27 x , Komentar)

http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=41335

AKTIFNYA kembali aliran Ahmadiyah di Ujungloe, memantik reaksi dari Ketua
Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Bulukumba, Andi Mappewali.
Dia berharap pemerintah bisa mengambil langkah tegas terhadap kehadiran
aliran ini karena dianggap menyimpang dari ajaran agama Islam."Perlu
ditelusuri dari mana mereka mendapat izin untuk beraktivitas kembali. Saya
kira pemerintah harus berani mengambil tindakan tegas dengan menutup
masjidnya," kata Mappewali, Selasa, 25 September.

Secara tegas Mappewali mengatakan, sebelum terjadi reaksi dari masyarakat,
pemerintah mesti cepat mengambil sikap, dengan menutup tempat aktivitas
Ahmadiyah. Sejak awal kehadiran aliran ini di Bulukumba, kata Mappiwali,
tidak memiliki izin.

"Fatwa MUI, aliran ini sesat. Tidak ada alasan untuk tetap membiarkan
kegiatannya. Pemerintah harus tegas," kata Mappewali yang juga mantan Camat
Ujungloe. (adn)


Tanggapan Ahmadiyah
(28 Sep 2007, 17 x ,
Komentar<http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=41547#bacakomen>
)

http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=41547

Hak Jawab

Assalamu'alaikum Warahmatullah, SEHUBUNGAN dengan pemberitaan mengenai
"Jemaah Ahmadiyah Kembali Beraktivitas" (Fajar, 26/09) yang lalu, kami
mengucapkan terima kasih jazakumullah ahsanal jasa. Karena memang sesuai
perintah Allah Ta'ala yang artinya: "Taatlah kepada Allah dan rasul dan
perintah yang sah", maka kami sebagai ormas Islam yang berbadan hukum legal
formal dengan No.SK Menteri Kehakiman RI No.JA 5/23/13 Tgl.13-3-1953.

Bahkan Jama'ah Ahmadiyah Indonesia sudah terdaftar dalam inventarisasi
nama-nama organisasi yang dilindungi di Indonesia dengan nomor
suratpendaftaran/tanggal 0422/SJ/PB/87 - 23 05 1987 dengan nomor urut
297 dan
secara tuntutan Syari'at kami melaksanakan kelima Rukun Islam dan keenam
Rukun Iman sebagai wujud keta'atan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, dalam tanggapan ini, kami pertegas kembali apa yang difirmankan
Allah Ta'ala dalam Alquran Suci Surah Al-Hujurat 49:6 yang artinya, "Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang pendurhaka dengan
membawa suatu kabar selidikilah dengan teliti, agar kamu tidak mendatangkan
musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan, dan kemudian kamu menyesal atas
apa yang telah kamu kerjakan".

Selaras dengan sabda Rasulullah SAW, "Laisa al-Khabaaru ka al-mu'ayyanah".
Artinya: (hati-hati) karena kabar atau berita itu belum tentu sama dengan
penglihatan/kenyataannya.

Apalagi jika kita sadar firman Allah Ta'ala, bahwasanya: "Dan jika Tuhan
engkau menghendaki, niscaya Dia telah menjadikan manusia satu ummat; tetapi
mereka senantiasa berselisih". (Al Hud:118).

Oleh karena itu, kami sangat yakin masyarakat Bulukumba mampu membuktikan
dirinya sebagai salah satu daerah penegakan Syariat Islam dalam arti
sebenarnya. Sebab realita yang ada, Jama'ah Ahmadiyah toh melakukan salat
lima waktu di masjid, salat tarawih, puasa, ta'limul Alquran, dan lain
sebagainya yang ini merupakan sendi-sendi dari syariat Islam itu sendiri.

Berkenaan dengan arah kiblat, justru kami bingung, mau kemana lagi kalau
bukan ke arah Baitullah (Kakbah).

Adapun berkenaan dengan masalah kenabian Jama'ah Ahmadiyah meyakini bahwa
Imam Mahdi/Isa Ibnu Maryam yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah SAW
(Bukhari Bab.Nuzulu Isa), telah datang dalam wujud pendiri Jama'ah
Ahmadiyah.

Maka kami sangat sepaham dengan apa yang disampaikan oleh Kakan Depag
Bulukumba bahwa, "Kita perlu duduk bersama untuk membicarakan sekaligus bisa
membuktikannya".Wassalamu'alaikum Wa rahmatullah.

Kirim email ke