Mas Anton yb, Terima kasih sudah bergabung di Mediacare. Semoga kehadiran Anda dapat memberi warna baru di milis ini.
Sekalian mau tanya subyeknya, apakah yang dimaksud "gaya"? Jadi judul lengkapnya "Mencla-Mencle Gaya Taufik Ismail? Tentang sosok Pak Taufik Ismail (TI) saya tidak mau terlalu banyak komentar. Sekadar menambahkan info saja, beliau waktu duduk di bangku SMA, aktif di PII (Persatuan Pelajar Islam Indonesia?). Tepatnya di SMA Negeri 1 Pekalongan (entah dulu namanya apa). Kalau tak salah, Goenawan Mohamad dan Kartono Mohamad, Soegeng Sarjadi, juga alumnus sekolah tersebut. Mungkin beda angkatan saja. Dulu saya pernah dengar, orang tua TI, almarhum Ghofar Ismail, selain ustadz juga bisa mengobati orang sakit. Kalau tak salah, orang tua TI bukan asli Pekalongan, namun pendatang dari Sumbar. CMIIW. Kala itu banyak siswa SMA dari berbagai kota yang aktif di PII dikirim ke AS untuk program pertukaran pelajar oleh AFS (American Field Service). Salah satunya adalah Taufik Ismail. Selama setahun ia tinggal bersama host family (orang tua angkat) di Wisconsin. Tentang karyanya di dunia kesusastraan, mohon dimaklumi. TI kan memang tidak terjun tuntas di dunia itu? Dulu ia memilih berprofesi sebagai humas Unilever di Indonesia, dan entah di perusahaan mana lagi. salam, radityo djadjoeri ----- Original Message ----- From: anton_djakarta To: [email protected] Sent: Sunday, September 30, 2007 12:53 AM Subject: [mediacare] Mencla Mencle Gay Taufik Ismail Dulu gagah banget ya....Taufik jelek-jelekin rezim Sukarno, sampai bikin puisi segerobak nyerang Bung Karno. Yang ujung-ujungnya belain Suharto eh...dia bikin puisi macem beginian. Kalo diliat bahasanya MALU LAH TAUFIK ISMAIL TUH SAMA PRAM....yang biar digebuki tetap bilang saya setia pada Bung Karno karena saya tahu apa tujuan Bung Karno. Tapi itulah dunia, hanya bisa menempatkan orang oportunis ketimbang pejuang sejati...Malu Bangsa Indonesia Punya Sastrawan Macam Taufik Ismail...Ini potongan puisinya Silahkan anda menilai sendiri.... Oh ya kini dia jelek-jelekin GM, dulu Pram diserang tapi Pram santai bilang "Aku nggak kenal dia kok" Nih Puisi Mencla Mencle-nya MALU AKU JADI ORANG INDONESIA Oleh : Taufik Ismail I Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini PS. Kalo tau bangga jadi anak Revolusi kenapa dulu bilang Sukarno diktator dan bikin jelek sejarah Revolusi? "Mana Tukang Rambutanmu...?" Kenapa nulis puisi begituan nggak pas jaman Suharto jaya-jayanya tahun 80-an tapi pas Suharto jadi macan ompong. Seorang intelektual harus berani bersikap seperti Vaclav Havel atau Pram...atau GM dengan watak demokrasinya sehingga jelas watak ke Intelektualan seseorang. Benci saya dengan sikap lembek macam beginian yang akhirnya melahirkan generasi bubrah. Tapi nggak apa-apa generasi muda Indonesia harus lepas dari sikap macam beginian jangan lengket sama mau enak sendiri saja Dan tunduk pada kekuasaan. ANTON ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.33/1036 - Release Date: 28/09/2007 15:40
