Minggu, 30 September 2007 Myanmar
Kejahatan-kejahatan Junta Militer Budi Suwarna Kejahatan junta militer
Myanmar sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Para biksu Buddha yang biasa berkata
dan bersikap santun pun memberi cap kepada junta Myanmar sebagai pengikut
setan. Sejauh mana sebenarnya kejahatan yang telah junta lakukan? Sebenarnya
para biksu di Myanmar selama ini tidak melibatkan diri dalam urusan politik
secara langsung. Mereka hanya menempatkan diri sebagai otoritas moral. Nah,
jika otoritas moral yang sangat dihormati itu sudah memberi cap setan kepada
junta, berarti kejahatan yang junta lakukan sudah melampaui batas. Selama
berkuasa 45 tahun, junta berupaya menutup serapat-rapatnya kejahatan yang
mereka lakukan. Namun, sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, baunya
tercium juga. Ada saja berita mengenai kejahatan junta yang bocor dan didengar
komunitas dunia. Kebanyakan bocoran berita itu disebarkan kelompok aktivis
prodemokrasi Myanmar yang lari ke luar negeri atau memiliki akses ke
jaringan internasional. Kelompok itu antara lain Freeburmarangers, Jaringan
Aksi Perempuan Shan, Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for
Democracy) pimpinan Aung San Suu Kyi, dan Network for Democracy and
Development. Mereka cukup rajin mengirim kabar tentang penindasan yang
dilakukan junta kepada wartawan di seluruh dunia. Tahun lalu aktivis Jaringan
Aksi Perempuan Shan, Charm Tong, membeberkan rangkaian perkosaan terhadap
perempuan etnik Shan, sebuah etnik di selatan Myanmar yang mencoba memberontak.
Dia menjelaskan, sejak tahun 2002, setidaknya ada 172 kasus perkosaan yang
melibatkan tentara junta dengan korban 625 perempuan Shan. Usia korban
terentang mulai dari 4 tahun hingga 62 tahun. Dari 625 korban, 65 persen di
antaranya diperkosa secara beramai-ramai. Sebanyak 18 persen korban kemudian
dibunuh dan 26 persen lainnya dijadikan budak seks. Yang mengerikan, kata
Charm, perkosaan itu dilakukan secara sistematis untuk meneror dan meruntuhkan
moral
etnik Shan. Umumnya, perkosaan dilakukan tentara senior dan diketahui tentara
yang lebih muda. Tentara senior seperti ingin menunjukkan bahwa perbuatan
seperti itu tidak dilarang. Sebagian laporan perkosaan yang menimpa perempuan
Shan dipublikasikan jaringan Shan tahun 2002 dengan judul Izin Memerkosa
(License to Rape). Laporan itu langsung dibantah pemerintah junta. Pada tahun
yang sama, jaringan Shan kembali memublikasikan laporan serupa dengan judul
Masih mengenai Izin Memerkosa (Still License to Rape). Selain memerkosa,
tentara junta juga dituduh terlibat dalam sejumlah pembunuhan dan penjarahan
terencana terhadap warga etnik Shan. Freeburmarangers mengatakan, tentara junta
secara berkala meminta setiap warga etnik Shan menyerahkan sapi, babi, kerbau,
ayam, dan uang pajak sebesar 20.000 kyat. Jika tidak, mereka disiksa atau
dibunuh. Kelompok aktivis Myanmar itu juga membeberkan kasus perdagangan
perempuan oleh tentara junta di Ho Mong, perbatasan
Thailand-Myanmar. Menurut data Tentara Negara Shan (Shan State Army), yang
dikutip kelompok Freeburmarangers, setidaknya 100 orang diperjualbelikan setiap
bulan. Ada 25 orang di Hi Mong yang terlibat dalam penjualan manusia itu
untuk budak seks. Salah seorang yang terlibat mengaku pernah menjual 60
perempuan. Setiap perempuan dijual rata-rata seharga 2.000 baht. Uang hasil
penjualan sebagian diserahkan kepada tentara dan polisi junta. Pelarian
Junta juga memaksa ratusan ribu orang lari dari Myanmar ke perbatasan Thailand.
Cerita ini dituturkan dua aktivis Myanmar yang dua tahun lalu menghimpun
dukungan di Jakarta, Daw San San (73) dan Khin Ohmar (38). San San
mengatakan, dia lari dari Myanmar bersama 29 anggota parlemen yang terpilih
dalam pemilu 1990 ke Thailand tahun 2003. Sebelum lari, dua kali San San
dijebloskan ke penjara karena mengkritik junta. Dia baru dibebaskan tahun 2001
karena kesehatannya memburuk. Namun, junta mengancam akan memenjarakannya lagi
jika
masih terlibat dalam aktivitas politik. "Saya memilih lari dari negara saya.
Saya tidak ingin mati di tahanan," katanya (Kompas, 7 Juni 2005). San San
menambahkan, setidaknya ada tiga rekannya sesama anggota parlemen terpilih
meninggal di penjara. Tiga lainnya meninggal tidak lama setelah bebas dari
tahanan. Dia mengatakan masih ada 14 anggota parlemen lainnya yang dipenjara
(tahun 2005) dan hukumannya terus diperpanjang. Lari dari tanah air juga
terpaksa dilakukan Khin Ohmar. Setelah terlibat dalam pemberontakan tahun 1988,
dia kabur ke Mae Sot, daerah perbatasan Thailand-Myanmar, bersama sekitar
10.000 warga Myanmar lainnya untuk menghindari pembantaian. Bersama ribuan
orang itu, Khin tinggal sekitar 1,5 tahun di dalam hutan. Sebagian dari mereka,
ujarnya, mati karena kelaparan atau malaria. Khin mengatakan, junta memang
sengaja mendorong orang- orang yang tidak sejalan dengan mereka melarikan diri
ke perbatasan. Jumlah warga Myanmar yang kabur ke berbatasan
diperkirakan mencapai satu juta orang. "Saya tidak mengerti kehidupan macam
apa yang sedang berlangsung, semua menakutkan," ujar Khin, dua tahun lalu,
kepada Kompas di Jakarta. Dia menuturkan sebagian pengalaman pahitnya dengan
suara tercekat seperti menahan tangis. Kisah-kisah tersebut hampir semuanya
tidak bisa dikonfirmasikan kepada junta militer yang menutup diri. Artinya,
berita itu sifatnya sepihak. Namun, sifat brutal dan kejam junta dengan
sendirinya terkonfirmasi melalui peristiwa- peristiwa lainnya. Sebut saja,
pembantaian sekitar 3.000 demonstran pada tahun 1988, penahanan Aung San Suu
Kyi yang hingga sekarang belum juga berakhir. Hari Jumat (28/9), para
peneliti AS menguak kebrutalan junta melalui citra satelit April lalu. Citra
satelit yang dianalisis American Association for the Advancement of Science
(AAAS) itu menunjukkan desa-desa yang baru saja dihancurkan junta. Bangunan di
desa-desa itu seluruhnya dihancurkan. Pernyataan AAAS menyebutkan,
gambar satelit itu membuktikan adanya penghancuran desa, relokasi paksa, dan
peningkatan kehadiran militer di 25 tempat di sepanjang timur Myanmar. Di
tempat itulah para saksi mata melaporkan adanya pelanggaran HAM. Dari sekian
peristiwa yang terungkap, kekerasan junta terhadap para biksu beberapa hari
terakhir ini merupakan peristiwa paling mencengangkan rakyat Myanmar. Hingga
Jumat malam, setidaknya tiga biksu tewas ditembak tentara dalam unjuk rasa Rabu
lalu. Mereka juga memukuli para biksu dan menahan lebih dari 100 biksu di
Yangon. Perlakuan mereka terhadap para biksu benar-benar membuat rakyat
Myanmar marah. Bagi mereka, melukai biksu adalah kejahatan dan dosa yang sangat
berat. Tindakan itu setara dengan menganiaya orangtua sendiri. Tidak heran
jika rakyat Myanmar mencaci dan menghamburkan sumpah serapah kepada junta.
"Tentara yang menembak biksu semoga disambar petir," teriak mereka. Hampir
semua komponen masyarakat di Myanmar tampaknya tidak bisa lagi
menoleransi kejahatan-kejahatan junta. Sampai-sampai para biksu, penjaga moral
rakyat Myanmar yang amat santun, pun menjuluki mereka sebagai penguasa lalim
dan pengikut setan.
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.