“BELAJAR DARI DESAS-DESUS”

Saya ingin berbagi dengan kawan-kawan, mudah-mudahan berguna. Jika
tidak ya buang saja di tong sampah hehehe... Jika ada salah duga,
kata, dan tanda baca saya mohon maaf sebelumnya.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin, Saut dan kawan-kawan secara
langsung menyatakan rasa memiliki terhadap Komunitas Utan Kayu (KUK)  
sebagai
wadah yang bisa membangun kesenian, sastra khususnya bagi kasus ini,
menjadi lebih baik di Indonesia ini atau bahkan di luar Indonesia.
Karenanya dia melontarkan kritik dengan begitu keras yang kemudian
ditanggapi dengan riuh. [Saya rasa Saut senang dengan keriuhan ini,
setidaknya isu yang dilemparkan kemudian diperbincangkan].

Saya ingin membandingkannya dengan yang terjadi di dunia senirupa.

PERBANDINGAN PERTAMA

Desas-desus tentang KUK yang belakangan ini muncul mirip dengan desas-
desus tentang Cemeti Gallery (yang sekarang bernama Cemeti Art House)—
sebuah galeri senirupa kontemporer yang paling stabil staminanya.

Beberapa tahun yang lalu beredar desas-desus kalau seniman belum
dipilih galeri Cemeti, maka dia bukan seniman [perupa] kontemporer.
Saya sebut desas-desus, karena tidak pernah dinyatakan secara formal
ataupun terbuka, dan sulit dibuktikan dengan fakta-fakta.

Saya kira desas-desus itu bisa dipahami, karena pada saat itu perupa-
perupa di sini begitu sulit mengembangkan jejaring di luar indonesia.
Belum banyak jalan alternatif. Cemeti, saat itu, seperti sebuah
jembatan baru yang terbuka bagi estetika-estetika yang pada saat itu
sulit diterima oleh galeri-galeri lain. Sulit berpameran. Maka
menjadi mungkin desas-desus itu benar. Karena ada harapan yang begitu
besar tergantung di sana. Mungkin juga ada kebanggaan yang diam-diam
dirasakan perupa, karena Cemeti menjadi pintu yang terbuka dari, ke,
dan di negara ini, bagi dunia senirupa. Ada dukungan [dorongan,
permintaan, harapan] agar pintunya dibuka lebih lebar lagi. Agar
lebih banyak lagi perupa yang masuk ke pintu ini. Maju ke medan laga.
Bertarung di dunia seni rupa yang luas ini. Ada rasa memiliki. Rasa
terlibat. Merasa berhak. Menjadi bagian di dalamnya.

Rasa itu menjadi sah bagi setiap perupa. Karena Cemeti telah
menempatkan dirinya dalam arena senirupa yang didiami para perupa.
Lontaran kritik ataupun saran harus diterima dengan terbuka. Walau
belum tentu bisa dilaksanakan. Karena seperti juga sebuah jurnal,
Cemeti memiliki editorial atau standar atau pilihan estetikanya
sendiri, yang mungkin berbeda dengan para pelontar.

Sebagai lembaga independen, yang mendanai sendiri atau mencari dana
bantuan dengan upayanya sendiri. Cemeti berhak menerima ataupun
menolak kritik, saran ataupun proposal. Cemeti berhak menentukan
sendiri perupa ataupun estetika yang ditampilkan di galerinya ataupun
dipamerkannya di luar Cemeti. Ataupun mempromosikan seni dan perupa-
perupa tsb. Semua perupa rasanya mahfum dengan itu.

Tetapi, tentu saja Cemeti tidak berhak mengukuhkan diri sebagai satu-
satunya tempat pentasbihan seni ataupun perupa kontemporer Indonesia.
Cemeti juga tidak berhak mengatasnamakan diri sebagai satu-satunya
lembaga yang mewakili seni atau perupa kontemporer Indonesia. [sejauh
saya tahu, mereka belum pernah menyatakan hal tersebut baik secara
terang-terangan ataupun diam-diam].

Dan sejauh saya tahu, Cemeti tidak pernah membuat perhelatan besar
tanpa namanya. Selalu menggunakan nama lembaga itu. Ketika membuat
pameran yang cukup besar maka nama Cemeti selalu menyertai perhelatan
tersebut. Bisa dibaca, "ini versi Cemeti". Orang bisa tidak setuju
dengan pilihan Cemeti. Tetapi orang tidak bisa menghindar ketika
Cemeti mengatakan ini pilihan kami, ini hasil kurasi kami, ini yang
paling tepat berada dalam pameran ini. Yang paling penting, Cemeti
bersedia menjelaskannya baik dalam katalog ataupun dialog. Isinya
"ini versi Cemeti", tetap itu sebuah bentuk pertanggung jawaban
kepada publik.

Orang yang tidak setuju boleh melontarkan argumennya dan Cemeti
memiliki argumen sendiri atas atau dalam kurasi mereka. Dan orang-
orang paham, sebagai lembaga independen mereka berhak menentukan
kurasi mereka. Mereka memiliki argumen atas pilihan estetika dan
perupa. Artinya, ini hanya sebuah versi. Hanya salah satu. Dari
begitu banyak.

Pemahaman "salah satu dari begitu banyak" lahir dari dialog. Dari
argumen-argumen yang dilontarkan. Dari perdebatan-perdebatan. Diskusi-
diskusi. Obrolan. Surat. Tulisan. Langsung ataupun tidak langsung.
Berteriak atau bisik-bisik. Terang-terangan atau diam-diam.

"Yang begitu banyak" sebenarnya sudah atau kemudian bertumbuhan.
Ruang alternatif-alternatif diciptakan, ruang-ruang kemungkinan
dibuka. Dari tempat parkir di pelataran pasar, warung-warung, di atas
sepeda keliling, kamar tidur, rumah petak, rumah sewaan, di sawah-
sawah, pos ronda, dst. Estetika-estetika. Pandangan-pandangan.
Pameran-pameran.Tanpa atau dengan dukungan Cemeti. Dengan atau
disebabkan Cemeti. Sebelum atau sesudah Cemeti, "yang begitu banyak"
itu memang ada. Diakui publik sebesar atau sekecil Cemeti, bukan atau
juga memang sebagai tujuan. Yang pasti, memang begitu banyak.

Desas-desus tentang Cemeti rasanya menyepi. Tetapi tidak kepedulian.
Rasa memiliki itu tidak hilang. karena masih ada kritik yang
dilontarkan. Atau protes atas pilihan. Atau komentar atas pameran.
Apalagi dukungan. Hal itu adalah isyarat merasa jadi bagian. Salah
satu bagian dari seni rupa kontemporer Indonesia. Salah satu dari
yang banyak. Satu sisi [bisa kecil ataupun besar] dari keseluruhan
yang ada. Bagaimanapun, dia diakui keberadaannya. Semakin keras
kritik dilontarkan maka semakin besar rasa memiliki dan pengakuan
orang tersebut atas Cemeti. Bisa juga dianggap, semakin mengharapkan
Cemeti lebih baik lagi.


PERBANDINGAN KEDUA

Di dunia senirupa Indonesia, Biennale regional, nasional atau
internasional hampir tidak pernah diselenggarakan atas nama lembaga
independen. Lembaga-lembaga independen biasanya menjadi organisasi
penyelenggara atau lembaga pendukung. Hanya ada satu Biennale atas
nama lembaga Independen, yakni CP Biennalle dengan dua kali
penyelenggaraan yakni tahun 2003 dan 2005.

Tetapi lembaga-lembaga ini bukan penentu peserta. Ada kurator atau
Tim kurator yang punya wewenang menentukan tema, estetika dan perupa.
Mereka itulah yang punya argumen atas keputusan-keputusannya.
Bertanggung jawab atas pilihannya. Bersedia menjelaskan pikirannya.
Hal tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan kuratorial yang
dimuat di katalog. Umumnya membeberkan dasar pikiran tentang tema dan
pengulasan karya seniman. Dan dialog yang biasanya berupa diskusi.

Karena Biennale adalah perhelatan akbar. Bisa dianggap sebuah pameran
yang mewakili perkembangan senirupa saat ini. Maka para perupa sangat
berkepetingan atas perhelatan ini. Dan karenanya selalu terjadi
ketidaksepakatan yang dilontarkan orang-orang senirupa sendiri. Ada
yang protes, kenapa tidak memilih si A dan kenapa memilih si Z.
Kenapa estetika yang ini dan bukan yang itu. Jika tema berganti-
ganti, kenapa seniman yang itu-itu juga yang dipilih. Dan seterusnya.
Hingga pernah lahir Biennale Tandingan pada saat sebuah Biennale
diselenggarakan. [Di luar negri sana juga ada yang seperti ini, yang
biasa disebut Off Biennale]

Untuk menampung keluhan tersebut maka beberapa Biennale senirupa di
Indonesia berusaha menampilkan lebih banyak seniman. Ini menjadi
masalah baru karena terlihat tidak fokus lagi sebagai pameran yang
memiliki tema. Apalagi jika tidak ada dana yang cukup, maka
pembengkakan jumlah seniman dan karya menyulitkan panitia untuk
menyelenggarakan pameran dengan baik. Tapi tetap, tidak semua perupa
bisa ditampung. Tetap ada protes.

Kemelut itu coba dipecahkan dalam CP Open Biennale I tahun 2003 dan
Bali Biennale 2005. Ada perupa pilihan kurator dan ada aplikasi yang
terbuka bagi perupa seluruh Indonesia jika ingin berpartisipasi. Para
kurator CP pernah road show ke beberapa kota di Indonesia untuk
membeberkan dasar kurasi bagi partisipan. Mengumumkan secara terbuka
melalui berbagai media. Tetap, seluruh pengajuan akan dipilih kurator
berdasarkan tema dan standar lainnya yang ditetapkan oleh Tim Kurator
tsb. Sebuah cara yang menuntut energi lebih bagi pelaksanaan sebuah
perhelatan besar. Cara terbuka juga sekarang dilakukan oleh Yogja
Biennalle IX 2008 yang akan diselenggarakan pada akhir tahun ini.
(Sebagai informasi: The 3rd Beijing International Art Biennale 2008
menyelenggarakan juga partisipasi terbuka bagi perupa, silahkan
mengunduh formulir di website mereka:
http://www.bjbiennale.com.cn/english/regulations.asp)

Peran kurator demikian penting dalam biennale, karena ia membuat
seleksi. Pemilihan kurator bukan tidak menimbulkan pertanyaan atau
perdebatan. Misalnya, siapakah yang berhak memilih kurator? Bagaimana
kok bisa si F jadi kurator dan bukannya si X? Kenapa si Z kok bisa-
bisanya jadi kurator?. Ada usulan bagaimana jika pemilihan kurator
dimulai dari pengajuan proposal secara terbuka dan diselenggarakan
uji gagasan? Lalu siapa yang berhak menguji gagasan-gagasan tersebut?
dst.

Ada yang berbeda antar CP Biennale dengan biennale lainnya di
Indonesia. CP Biennale menyandang nama lembaga independen. Circle
Point Foundation penyelenggara Biennale ini, mereka mengupayakan
pendanaan dan penyelenggaraan secara mandiri. Karenanya tidak ada
protes  atas siapa yang menjadi kurator yang ditentukan oleh lembaga
tersebut maupun pilihan kurator atas karya dan seniman. Suara
ketidakpuasan atas pilihan estetika maupun seniman masih ada.
Walaupun tidak terlalu nyaring. Selain karena ada upaya partisipasi
secara terbuka juga ada penjelasan kuratorial yang bisa dianggap
menggambarkan bahwa ini "versi CP dan versi Kuratornya". Setuju versi
ini ikut, kalau tidak setuju ya gak usah ikut.

Mirip dengan persoalan ketidakpuasan pada biennale di senirupa, saya
rasa  terjadi pada Utan Kayu International Literary Biennale [UKILB].
Lebih-lebih, sejauh saya tahu,  ini adalah satu-satunya biennale
sastra di Indonesia. Saya kira sastrawan lebih banyak jumlahnya dari
perupa. Tentu perhelatan ini menjadi penting untuk dunia sastra
Indonesia dan karenanya wajar jika banyak seniman menjadi peduli atas
perhelatan ini. Menjadi kepentingan bersama, sastra Indonesia dan
para sastrawannya.

Saya tidak paham dunia sastra, karenanya saya tidak akan lancang
menilai karya atau penyelenggaraan terbaik bagi perhelatan sastra.
Ini hanya sekedar perbandingan.

Dalam buku dan katalog "Utan Kayu International Literary Biennale,
2007" tidak ada tulisan para kurator. Sehingga orang menjadi sulit
menulusuri dasar pemikiran kurasi. Sebagai buku kumpulan tidak ada
pengantar editorial, sebagai katalog tidak ada pengantar kutarorial.
Kita hanya bisa menduga-duga hal itu dari prolog yang disampaikan
oleh Direktur Komite UKILB 2007, susunan yang ditata berdasarkan
huruf awal nama-nama senimannya dan dari karya-karya yang dipilih
(entah oleh siapa) juga dari CV seniman-senimannya.

Dalam sebuah katalog dalam perhelatan besar seperti Biennale yang
memiliki banyak kurator biasanya penulisan dibagi-bagi. Kurator Ketua
(jika menggunakan istilah Tim Kurator) atau Kurator (jika kurator
lainnya bekerja sebagai Ko-Kurator) akan menjelaskan pemikiran umum
tentang gagasan tema biennale tsb. Para Kurator atau Ko-Kurator akan
menulis bagi sub-tema, tentang para perupa dan karya-karya yang
dipilihnya. Katalog seperti ini bahkan lebih memperjelas lagi sampai
pada "versi masing-masing kurator". Maka setidaknya publik bisa
mengetahui dasar pijakan atas seleksi tersebut.

Dalam katalog UKILB 2007 saya melihat tidak adanya pengantar
editorial maupun kuratorial membuat publik jadi sulit mendapat
kesimpulan seperti apakah "versi Komunitas Utan Kayu" atau "versi
masing-masing kurator" dalam biennale tsb. Jika pun ada dasar kurasi,
maka hal itu harus publik pikirkan sendiri dengan membaca penataan,
prolog, karya-karya dan riwayat seniman yang mereka pilih. Yang
paling mungkin terjadi, menurut saya, hanya akan timbul dugaan-
dugaan. Tentunya sebuah dugaan belum tentu tepat seperti yang maksudkan.


* * *

Lembaga Komunitas Utan Kayu mungkin mirip dengan Cemeti, bahkan
Komunitas Utan Kayu mencakup lebih banyak ragam seni dibanding
Cemeti, komunitas ini berada ditengah-tengah kita. Begitupun Utan
Kayu International Literary Biennale mirip CP Biennale, merupakan
sebuah perhelatan akbar yang diselenggarakan sebuah lembaga
independen, dalam dunia seni yang digelutinya.

Sampai batas tertentu, lembaga atau perhelatan itu milik publik
karena diselenggarakan dari dan untuk publik. Sudah sewajarnya jika
ada publik yang peduli sewajar yang tidak peduli. Jika ada yang
peduli, itu menunjukan rasa memiliki, rasa terlibat, setidaknya
mengakui keberadaannya. Atau bisa kita anggap "agar dunia seni ini
menjadi lebih baik lagi".


salam,
Titarubi,
Perupa tinggal di Yogyakarta.



Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Blog: 
http://mediacare.blogspot.com

http://www.mediacare.biz


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke