http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007093001025615

      Minggu, 30 September 2007 
     
      BURAS 
     
     
     
Pengkhianatan G-30-S/PKI! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      "JUTAAN buku sejarah sekolah lanjutan dimusnahkan Kejaksaan Agung di 
seantero Tanah Air! Pasalnya, di dalamnya peristiwa pengkhianatan G-30-S tanpa 
menyebutkan PKI--Partai Komunis Indonesia--sebagai pelakunya!" ujar Umar. 
"Padahal, dalam setiap proses sejarah, pelaku atau aktornya merupakan faktor 
sentral!"

      "Di sisi lain, justru mengalir deras dorongan untuk mengungkap 
pembantaian terhadap jutaan anggota PKI dan organisasi-organisasi mantelnya!" 
sambut Amir. "Terkesan kuat usaha mendiskredit penguasa zaman itu dan 
pendukungnya telah melakukan holocaust!"

      "Pokoknya sejarah mau dibuat seperti balon!" tukas Umar. "Satu pihak 
memencet satu sisi untuk menggelembungkan sisi yang lain, pihak lain memencet 
sisi sebelah pula untuk menggelembungkan sisi lainnya!"

      "Kecenderungan seperti itu tak boleh terjadi karena dengan demikian 
sejarah hanya akan menjadi produk manipulasi demi kepentingan pihak-pihak 
tertentu saja! Sekaligus, sejarah akan kehilangan makna esensialnya, yakni 
kebenaran!" timpal Amir. "Sebab itu, perlu kesepakatan baru untuk menulis 
sejarah secara benar dan komprehensif dari semua sisinya! Hanya dengan 
demikian, generasi muda penerus bangsa ini bisa mempelajari sejarah secara 
benar, sehingga bisa menarik pelajaran agar peristiwa serupa tak terulang!"

      "Dengan pengkhianatan G-30-S/PKI itu ditulis secara benar, generasi muda 
akan dapat mengetahui betapa buruknya partai politik yang menghalalkan segala 
cara untuk mencapai tujuan seperti PKI!" tegas Umar. "Sebaliknya, jika ditulis 
secara benar pula, pembantaian terhadap anggota PKI itu bisa membuat generasi 
muda mawas diri bahwa hanya mengumbar nafsu membalas dendam manusia bisa lebih 
buas dari binatang!"

      "Itu menunjukkan sejarah yang benar sarat nilai yang jika dalam proses 
belajar mendapat pengarahan berorientasi pada keluhuran budi manusia, akan bisa 
membentuk kepribadian manusia makin beradab!" sambut Amir. "Nilai-nilai sejarah 
juga menjadi cermin bagi generasi penerus untuk melihat dirinya agar mengetahui 
kelemahan historis warga masyarakatnya, guna memperkokoh tekad untuk menjadi 
manusia yang lebih baik!"

      "Hanya kebenaran yang bisa memunculkan penilaian tentang baik dan buruk 
sebagai modal untuk bersikap benar menurut ajaran etika-moral!" tegas Umar. 
"Tanpa kebenaran sejarah, orang bisa terperosok mengagung-agungkan yang 
sesungguhnya salah! Jika itu terjadi, kesalahan masa lalu akan terus berlanjut, 
sehingga mencapai suatu posisi point of no return dalam kesalahan! Ini bisa 
menjerumuskan bangsa dalam kondisi serbasalah, tak mudah mencari 
ujung-pangkalnya untuk keluar dari situasi serbarunyam!"

      "Hal itu bisa terjadi karena beralas sejarah yang dimanipulasi, penjahat 
besar malah tampil sebagai pahlawan yang dipuja-puji, sedang pahlawan 
sesungguhnya malah tergilas!" timpal Amir. "Pengkhianatan G-30-S/PKI harus 
dipelajari secara komprehensif betapa buruk kejadian dan akibatnya, telah 
menjadi noktah hitam berkepanjangan dalam kehidupan bernegara-bangsa!" 
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke