http://www.suarapembaruan.com/News/2007/09/29/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Aidit dan G30S
Oleh Iwan Gardono Sujatmiko
Peristiwa G30S yang telah terjadi lebih dari 40 tahun lalu masih menarik
dianalisis. Peristiwa tersebut dapat dilihat dari perspektif makro sebagai
pembunuhan anggota PKI, penghancuran organisasi PKI, kudeta dan perebutan
kekuasaan, revolusi sosial yang gagal, atau ideologi yang gagal.
Sementara itu, secara mikro atau peran aktor, dikelompokkan menjadi enam pola:
PKI dan Biro Khususnya, Klik AD, CIA/AS, Inggris-CIA, Presiden Sukarno, dan tak
ada pelaku tunggal (Bayang-Bayang PKI ; ISAI, 1995). Terdapat pula analisis
yang menyatakan keterlibatan Soeharto (Wertheim; Latief, Hanafi). Pembahasan
berikut akan mengaitkan faktor mikro, khususnya Aidit, dengan strategi PKI dan
partai-partai komunis.
Strategi Komunis dan PKI
Mayoritas upaya perebutan kekuasaan oleh partai komunis dilakukan dengan
kekerasan dan dikategorikan menjadi empat pola (Cyril Black, 1964): "revolusi
domestik" (Albania, RRT, Vietnam Utara, Yugoslavia, Rusia; namun gagal antara
lain di Jerman dan Hongaria 1919); "revolusi dari luar (negeri)" (Bulgaria,
Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Mongolia, Korea Utara, Polandia, Rumania;
namun gagal di Polandia/ 1920, Gilan/Iran, Finlandia/1939, Korea Selatan/1950);
"revolusi dari atas" (Kuba); dan "revolusi melalui pemilu" (Kerala/India, San
Marino/Italia, bukan tingkat nasional).
Selain itu partai komunis juga ikut dalam koalisi di Spanyol, Prancis, Italia,
Islandia, Cile, dan Guatemala. Setelah tahun 1964 terdapat beberapa negara yang
(sempat) menjadi komunis seperti Afghanistan, Vietnam Selatan, dan Laos (dari
luar dan dalam), dan Kamboja (kombinasi atas/Sihanouk dan dari luar/RRT).
Saat itu PKI menerapkan strategi radikal dari dalam, yang mencakup buruh, tani
dan infiltasi tentara (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan/MKTBP) dan
mendapat tantangan dari pihak non-PKI. Upaya melalui pemilu juga terhambat
karena ditundanya pemilu. Sementara itu revolusi dari luar agak sulit karena
adanya "perang dingin" dan Indonesia terpisah dari negara komunis walaupun ada
tawaran bantuan (senjata) dari RRT. Akhirnya, Aidit memilih "konflik elite"
atau revolusi dari atas, dengan membonceng Sukarno (Nasakom) setelah
mempelajari kasus Kuba dan Aljazair (Olle Tornquist, Dilemmas of Third World
Communism: The Destruction of the PKI in Indonesia, 1984).
Kasus Kuba menunjukkan bagaimana Castro yang awalnya bukan komunis menggunakan
partai komunis. Dalam kasus Aljazair, partai komunisnya sebenarnya
berkesempatan mengubah kudeta yang progresif (dari atas) menjadi revolusi (dari
bawah).
Peran Aidit
John Roosa dalam bukunya, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement
and Suharto's Coup d'Etat in Indonesia, 2006, menunjukkan bahwa peran Aidit
bukan hanya pasif namun sangat dominan. Tesis ini sebenarnya telah dikemukakan
dalam Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh; "Buku Putih Orde baru", Tornquist;
Brackman; dan pernyataan Sudisman, Subekti, dan Munir di Mahmilub.
Demikian pula Sukarno dalam pidato "Pelengkap Nawaksara" menyatakan Peristiwa
G30S ditimbulkan oleh "keblingeran pimpinan PKI", selain subversi "nekolim" dan
"oknum-oknum yang tidak benar". Namun Roosa mendukung tesisnya dengan berbagai
sumber yang baru, yakni wawancara dengan "Hasan" (nama samaran pimpinan PKI
yang mengetahui Biro Khusus), Iskandar Subekti (sekretaris pribadi Aidit),
serta 30 informan termasuk beberapa rekan Aidit serta Syam. Selain itu Roosa
menggunakan sumber tertulis yakni "Tiga Faktor Penyebab G30S" oleh A Karim DP
(1999); Otobiografi "Hasan" (1998), dan "Dokumen Suparjo" yang menurutnya dapat
dipercaya karena telah dicek silang dengan beberapa sumber.
Dalam buku tersebut Aidit dikatakan pernah membahas kudeta di Aljazair di mana
Kolonel Harri Boumediene menggulingkan Presiden Ben Bella pada 19 Juni 1965.
Saat itu Aidit menyarankan agar partai komunis Aljazair mendukung kudeta
progresif tersebut menjadi revolusi.
Adanya "Dewan Revolusi" di Aljazair itu bahkan menjadi inspirasi Aidit untuk
diterapkan dalam kasus Indonesia. Sebenarnya inspirasi Kuba dan Aljazair itu
pernah dibahas secara singkat oleh buku Tornquist (1984) namun tidak menjadi
rujukan buku Roosa.
Dalam buku Roosa, Aidit dan kelompok kecilnya (Sudisman, Oloan Hutapea, Lukman
dan Rewang) sangat terlibat dalam rencana gerakan. Dalam pertemuan mereka Aidit
menyarankan pembentukan "Dewan Revolusi" sebagai upaya Nasakomisasi yang
terdiri dari militer dan tidak mencerminkan PKI. Aidit menyatakan kudeta
seperti di Aljazair tidak akan mengubah perimbangan kekuasaan, namun hal itu
akan dapat meradikalisasi massa serta meningkatkan tuntutan (buku Tornquist).
Dalam rencananya, strategi Aidit tersebut membonceng Sukarno dan akhirnya PKI
diharapkan dapat berkuasa.
Peristiwa G30S
Berdasarkan berbagai data baru (Roosa) dan sumber lainnya dapat direkronstruksi
peran Aidit, strategi PKI, dan partai komunis. Pada awalnya Aidit dan kelompok
kecilnya membuat gerakan dari atas untuk melumpuhkan pimpinan AD yang akan
diikuti Dewan Revolusi guna Nasakomisasi. Gerakan tersebut bersifat terbatas
dan diharapkan seperti "penyulut sumbu" (istilah Suparjo) yang akan
menghasilkan "bola salju" berupa Dewan Revolusi.
Lalu Syam melakukan kontak dengan kelompok militer di Jakarta dan juga mengirim
kurir ke daerah. Menjelang G30S, Latief mengontak Soeharto dan menyatakan akan
melakukan gerakan sehingga Soeharto dianggap terlibat (Wertheim; Latief,
Hanafi). Demikian pula Heru Atmojo mencari informasi mengenai keadaan itu dan
bertemu dengan Mayor Sujono dan melaporkan pada pimpinan AURI sehingga mereka
juga dianggap terlibat (Atmojo). Selanjutnya terdapat upaya yang mencoba
menyatakan Sukarno juga sebenarnya mengetahui gerakan itu (Dake) pada 30
September malam, karena mendapat surat dari Untung melalui Sersan Sogol
(Cakrabirawa). Namun Sogol dan Wakil Komandan Cakrabirawa Saelan membantahnya
(Saelan, 2001). Kehadiran Sukarno di Halim memang kebetulan karena Suparjo dan
kedua komandan batalyon justru mencarinya di Istana untuk meminta dukungan.
Setelah gerakan penculikan dan pengumuman di RRI, Suparjo mengadakan kontak
dengan Sukarno dan pimpinan AURI untuk memperoleh surat dukungan. Sukarno tidak
mendukung gerakan bahkan memintanya menghentikan konflik dan Suparjo diminta
pendapat mengenai calon pengganti Achmad Yani.
Namun, dalam pengumuman berikutnya Dekrit 1 (diketik Iskandar Subekti, buku
Roosa dan Atmojo) Aidit dan Syam yang berada di Halim mendemisionerkan kabinet
dan Dewan Revolusi menjadi pemegang kekuasaan. Hal itu membuat Sukarno marah
ketika di Halim dan pada sidang Kabinet 6 Oktober di Bogor Sukarno membubarkan
Dewan Revolusi di daerah-daerah dan perintah itu disiarkan media tanggal 7
Oktober.
Aidit telah berupaya melakukan terobosan dan "berjudi" untuk merebut kekuasaan
("revolusi dari atas") namun gagal. Kudeta dari atas yang diharapkan akan
diikuti revolusi dari bawah justru gagal dan hal itu akhirnya menggagalkan juga
upaya revolusi dari bawah.
Keadaan itu menjadi peluang emas bagi non-PKI yang bereaksi untuk menghancurkan
PKI yang telah memulai aksi "senam revolusi". Strategi revolusi PKI yakni
"polarisasi-kontradiksi-negasi" untuk menang total akhirnya berubah menjadi
kalah total.
Penulis adalah sosiolog FISIP-UI, Depok
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 29/9/07