Seberapa Banyak Kita Harus Percaya pada Opini Publik Oleh: Atmadji W Soewito
Hampir tiap hari saya baca di seluruh artikel, media cetak, pemberitaan di media massa sarat isu tentang kekalahan kita disemua lini, secara khusus yang saya maksudkan disini adalah bidang teknologi. Seolah setelah beberapa dekade hidup dalam optimisme semu yang dibentuk dimasa Orde Baru, tabu rasanya untuk mengemukakan hal yang berbau keberhasilan. Selain barangkali memang begitu adanya, tetapi boleh jadi juga karena menyatakan keberhasilan kepada publik di masa ini terasa sebagai suatu bentuk manipulasi, terasa sebagai pesan titipan pemerintah, yang dimasa swasta ini citranya selalu dipandang dengan dahi mengerenyit. Publik cenderung memiliki attention-span yang sangat terbatas dalam mempersepsikan sesuatu. Penilaian obyektif kita terhadap suatu masalah, dalam banyak hal sering kali tidak perlu memilik korelasi positif dengan apa yang dipercaya oleh suatu komunitas yang kita berada didalamnya. Publik hanya mampu faham bahasa ekstrem, berhasil atau tidak, setuju atau tidak, dan media sebenarnya lebih berperan menyimpulkan apa yang disukai oleh publik, sesuatu yang dibawah sadar ingin didengar oleh publik dibandingkan dengan realitas. Analogi Saya ingin menganalogikan pandangan terhadap pembentukan opini publik dengan pandangan terhadap para marketers menurut Seth Godin dalam bukunya 'All marketers are liars', yang mengatakan bahwa fungsi marketers adalah menceritakan apa yang sebenarnya ingin didengar oleh konsumen, dan bukan sebaliknya, yaitu mempersuasi konsumennya seperti yang selama ini dibayangkan. Saya melihat bahwa pembentukan opini publik melalui media didalam banyak hal juga tidak jauh berbeda. Media memang mengedukasi masyarakat, tetapi lebih banyak disetir kearah yang masyarakat kehendaki sendiri. Lebih lengkap klik :http://www.netsains.com
