Klarifikasi dari RSS: Ceramah Taufik Kiemas di Singapura

From: Evan Abelard Laksmana
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
    
Dear All,

Pertama-tama, saya sangat senang bahwa ternyata seminar Taufik Kiemas mendapat 
tanggapan dari teman-teman. ..

Kedua, saya setuju bahwa tidak selayaknya Islam diidentikkan dengan Islam, 
apalagi di Indonesia. Pandangan bahwa Islam sama dengan teroris jelas sudah 
usang dan sudah selayaknya ditinggalkan.

Ketiga, izinkan saya memberikan bbrp klarifikisi mengenai RSI:

1. Tidak ada "Indonesian Center" di sini, yang ada adalah Indonesia Programme, 
sebuah program penelitian yang dikoordinasikan oleh Associate Professor Leonard 
C. Sebastian (bukan prof dr) dan berada di bawah payung Institute of Defence 
and Strategic Studies, selaku inti (core) dari S. Rajaratnam School of 
International Studies, Nanyang Technological University. Fokus dari Indonesia 
Programme secara garis besar terkait dengan penelitian akademis mengenai 
perkembangan politik (nasional maupun lokal), keamanan, dan ekonomi di 
Indonesia. 

2. Indonesia Programme tidak ada tendensi untuk memberikan platform kepada 
salah satu pihak saja di Indonesia. kami sebelumnya juga mengundang Pak Hidayat 
Nurwahid beberapa tahun lalu, Gus Dur, Agung Laksono, Megawati juga pernah kami 
undang. kami percaya bahwa tidak ada satu pihak pun yang punya monopoli atas 
kebenaran, dalam arti kami percaya bahwa kami harus mendengarkan berbagai sudut 
pandang dari berbagai pihak yang ada di Indonesia, siapapun mereka. 

Keempat, izinkan saya memberi komentar atas tulisan saudara Suhud yang 
kebetulan saya kenal karena kami juga teman sekelas di RSIS. Saya tidak akan 
komentar soal apapun motif beliau menghadiri seminar itu. Kebetulan, saya 
terlibat sedikit dalam pelaksanaan acara tersebut, namun karena bentrok dengan 
kuliah, saya tidak bisa menghadiri acara tersebut. Seperti yang saya utarakan 
di atas, pandangan bahwa Islam identik dgn terorisme di Indonesia jelas sudah 
usang dan layak ditinggalkan. Saya hargai saudara Suhud yang tergerak untuk 
mengkoreksi pandangan ini. Orang indonesia di luar negeri, seperti kami, memang 
selalu gerah setiap kali pandangan-pandangan semacam itu dilontarkan, namun 
ketika yang melontarkan orang indonesia sendiri, dan bukan pengamat barat, 
jelas ini menjadi sebuah pertanyaan. TK adalah politisi ulung, suka atau tidak. 
Saya menduga bahwa logika di balik statement2 seperti, jika memang benar, 
mungkin tidak lebih dari logika untuk memberi citra PDI-P sebagai partai 
nasionalis yang anti sektarianisme, terorisme, dst, namun krn beliau sadar 
bahwa isu terorism adalah isu "seksi" di Singapore, maka beliau mengkaitkan hal 
tersebut dengan PKS, selaku "lawan politik" PDI-P. Dengan kata lain, nampaknya 
ini semua hanya strategi politik?

Tapi, saya kok kurang setuju dengan pandangan yang mengatakan seolah-olah 
orang-orang daerah bodoh dan hanya Jakarta yang berpendidikan sehingga lebih 
condong ke PKS. Seolah2 orang2 bodoh lah yang memihak ke partai-partai 
nasionalis. Selain itu, jika memang ada signifikansi kader2 PKS dari 
universitas sekuler, mengapa banyak orang yg masih ingat bahwa bbrp mahasiswa 
di BEM bbrp univ ini dulu yang ikut mengkompori konflik Ambon Poso, dan 
sebagian dr mereka lalu menjadi kader PKS? 

Selain itu, isu korupsi pun sekarang tak lepas dari beberapa kader PKS di DPR. 
Namun terlepas dari semua itu, terlepas dari masa lalu dan retorika, saya salut 
dengan beberapa rekan PKS yang kebetulan saya kenal secara pribadi. berbagai 
diskusi dengan mreka menunjukkan ketulusan dan idealisme mereka untuk membangun 
Indonesia. ini sebuah kualitas yang langka di kalangan muda Indonesia sekarang. 
Kualitas ini yang harus ditampilkan kepada publik. oleh karena itu, jangan 
sampai juga idealisme anak2 muda PKS ini lalu dikalahkan oleh retorika, masa 
lampau, ataupun sistem politik yang korup.

Semoga klarifikasi singkat ini membantu. Jika ada pertanyaan lebih lanjut 
silakan email saya.

terima kasih,

salam hangat,


Evan A. Laksmana
Research Analyst, Indonesia Programme
S. Rajaratnam School of International Studies
Nanyang Technological University, Singapore

mediacare
http://www.mediacare.biz

Kirim email ke