BERITA PERS 
  
   
  Once in a life time: Puncak Peringatan 250th Puro Mangkunegaran
   
  SETELAH menggelar berbagai rangkaian acara seni, sejarah, dan budaya sejak 
Maret hingga September 2007 lalu, peringatan akbar ”250th Puro Mangkunegaran : 
A Reviving Moment” akan mencapai puncak perayaannya pada 11 November 2007 
mendatang. I’ts all about Solo Tempoe Doeloe! Tema itulah yang telah dirancang 
untuk merayakan puncak gelaran akbar peringatan tersebut. 
   
  Hari itu sejak pagi hingga menjelang petang, suasana pamedan Puro 
Mangkunegaran yang biasanya lengang akan berubah riuh dengan hadirnya pasar 
rakyat. Berbagai aneka jajanan serta kerajinan dan budaya tradisional, mulai 
toko besar sampai pedagang kerajinan dan jajanan kuliner pinggir jalan, akan 
turut ambil bagian di acara pasar rakyat ini. 
   
  Selain jamuan makan malam dengan sajian kuliner khas Puro Mangkunegaran yang 
diiringi senandung musik keroncong, pergelaran seni malam puncak patut menjadi 
acara yang tidak boleh dilewatkan. Yakni, pementasan gerak teatrikal dan 
sendratari dalam ”Gelar Tari Kolosal “Perjuangan Rakyat Mataram & Berdirinya 
Puro Mangkunegaran” . 
   
  Menurut Agus Haryo Sudarmodjo, Ketua Panitia Pelaksana ”250th Puro 
Mangkunegaran, Once in a Life Time”, acara tari kolosal itu akan melibatkan 
sekitar 250 hingga 300 orang penari yang mewakili berbagai bangsa, etnis, serta 
suku seperti Belanda, keturunan Tionghoa, suku Bali, serta Mataram. 
   
  ”Namun tarian ini hanya sebagai pencitraan kisah perjuangan R.M Said atau Sri 
Mangkoenagoro I selama 16 tahun bergerilya hingga mendirikan Puro 
Mangkunegaran,” kata Agus Haryo. Untuk itulah, menurut Agus Haryo, pergelaran 
tari kolosal ini juga akan melibatkan dua prajurit pasukan Gajah. 
   
  Diiringi Parade keluarga besar Puro Mangkunegaran bersama para Sentana Abdi 
Dalem, gelar “prajurit bergajah” itu akan menjadi simbolisasi pasukan pengawal 
R.M Said saat akan memasuki Puro Mangkunegaran, di kala berdirinya istana 
tersebut. “Ini sebagai simbol untuk menghormati keberanian dan kebesaran 
perjuangan R.M Said ketka mendirikan Mangkunegaran dan dinasitinya,” ujar Agus 
Haryo.  
   
  Puncak acara peringatan 250th Puro Mangkunegaran terselenggara berkat 
dukungan PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program ”Sampoerna Untuk 
Indonesia” yang memiliki visi sama dalam meningkatkan apresiasi masyarakat 
terhadap kesenian dan kebudayaan nasional, di antaranya seni dan budaya Jawa.  
   
  Perjalanan 16 Tahun Gerilya
  TERCATAT, selama kurun waktu 16 tahun bergerilya, R.M. Said telah melakukan 
pertempuran sebanyak 250 kali. Namun di antara ratusan pertempuran tersebut, 
ada tiga pertempuran dahsyat yang terjadi pada periode 1752 hingga diadakannya 
perjanjian Salatiga, 12 Maret 1757. 
   
  Pertama, pertempuran melawan pasukan Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I 
di Desa Kasatriyan, sebelah barat daya Ponorogo, Jawa Timur. Perang terjadi 
pada hari Jumat Kliwon, tanggal 16 Syawal “tahun Je” 1678 (Jawa) atau 1752 
Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan R.M Said setelah berhasil 
menguasai daerah Madiun, Magetan, dan Ponorogo. 
   
  Perang kedua adalah perang paling besar ketika R.M Said bertempur melawan dua 
detasemen VOC Kumpeni di bawah pimpinan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di 
sebelah selatan negeri Rembang, tepatnya di Hutan Sitakepyak (Senin Pahing, 17 
Sura, tahun Wawu 1681 J / 1756 M). 
   
  Perang ketiga adalah penyerbuan R. M Said ke benteng Vre Deburg Belanda dan 
keraton Yogya-Mataram. Peang ini terjadi pada Kamis 3 Sapar, tahun Jumakir 1682 
J/1757 M).
   
  Berkali-kali berperang, berkali-kali pul R.M. Said lolos dari sergapan 
pasukan gabungan Mataram dan Belanda. R.M Said memang dikenal sebagai panglima 
perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Berkat hal itulah ia 
dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai 
penyebar maut. 
   
  Kehebatan Pangeran Sambernyawa dalam strategi perang bukan hanya dipuji 
pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur 
Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Pangeran 
Sambernyawa. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang 
dan menghadapi kesulitan, sehingga tidak mau diajak bergabung dengan Belanda 
dan keterampilan perangnya itu diperoleh selama pengembaraan di daerah 
pedalaman,” tutur Hohendorff.
   
  Sampai akhirnya, Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 itulah yang bisa 
membuat R.M Said rela menghentikan perangnya. Dalam perjanjian yang hanya 
melibatkan Sunan Paku Buwono III, dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I dan 
Kumpeni Belanda ini, disepakati R.M said mendapatkan hak mendirikan dan 
memimpin sebuah istana dari sebuah kadipaten. 
   
  Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Sri Mangkunegoro I, R.M. Said 
kemudian membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepi Kali Pepe (Sungai 
Pepe), --tempat yang dipilihnya sendiri. Namun, walaupun hanya sebagai Adipati, 
kedudukan hukum mengenai Mangkunagoro I tidaklah sama dengan Sunan yang disebut 
sebagai Leenman atau penggaduh atau  peminjam kekuasaan dari Kumpeni. 
   
  Memang, secara sadar, sejak dini R.M Said menyadari, bahwa dirinya adalah 
seorang “raja kecil”. Bahkan tingkah lakunya pun menyiratkan, bahwa “dia adalah 
Raja di Jawa Tengah yang ke III”. Demikian, kenyataannya VOC Kumpeni pun 
memperlakukannya sebagai raja ke III di Jawa Tengah, selain Raja I (Sunan) dan 
Raja II (Sultan).
   
  Bahkan, VOC Kumpeni mengakui, Mangkoengaoro I merupakan raja Jawa pertama 
yang berani dan mampu melibatkan wanita di dalam angkatan perangnya. Prajurit 
wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran ketika memberontak melawan 
Sunan, Sultan, dan Kompeni. 
   
  Mangkunegoro berhasil mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang 
kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita untuk mencatat setiap 
kejadian di peperangan. Catatan harian itulah yang kelak kemudian dihimpun 
dalam buku Babad Lelampahan dan Babad Tutur. Jika Babad Lelampahan ditulis 
dalam bentuk tembang atau puisi Jawa, yang berikah tentang catatan perjalanan 
perang, Babad Tutur bercerita tentang kebijakan Mangkunegoro I atau R.M Said 
selama memimpin kerajaannya.
   
  Sekian dan Terima kasih, 
   
  M. Latief - Head of Public Relation 250th Puro Mangkunegaran 
   
  INFORMATION
  Idekami Communication 
  Jl Anuraga No.22 – Cilandak/ 12430 
  Phone: 021 766 9870 – Fax : 021 75904530
  Mobile: 0812 829 1263 
  Email: [EMAIL PROTECTED] – [EMAIL PROTECTED] 
  Website: http://www.mangkunegaran.org
   

       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

Kirim email ke