kOMPAS
      Senin, 01 Oktober 2007  
     


  
Tebal/Tipis Argumen Moral 


BUDIARTO DANUJAYA 

Urutan wahid Soeharto dalam daftar mantan pemimpin negara yang korup dari StAR 
Initiative menimbulkan wayuh rasa. Ada yang mensyukuri sebagai momentum baru 
membongkar kejahatan sublim ini lewat terbukanya akses jejaring keuangan 
internasional. Ada yang merutukinya sebagai ikut campur urusan rumah tangga 
orang lain, bahkan menyinggung "harga diri bangsa". 

Persoalannya, masih perlukah dalam kedewasaan peradaban humanisme-demokratis 
dewasa ini kita bersikukuh mengambil posisi ekstrem dalam dikotomi diametral 
antara politik internasional versus nasional, budaya global versus lokal, atau 
nilai-nilai universal versus partikular. 

Nasionalisme politik dengan limit kedaulatannya dan humanisme moralitas dengan 
universalisme nilainya bukan pilihan dikotomis saling meniadakan bak zero sum 
game. Kompleksitas demokrasi humanistik lebih menempatkan keduanya sebagai 
komplementaritas sebuah paradoks. 

Nasionalisme memberi pijakan lewat sebuah kedaulatan agar utopia universalisme 
pada humanisme tak mengawang-awang. Adapun humanisme memberi transendensi agar 
lokalitas kedaulatan pada nasionalisme tidak menjadi tribalisme. 

Ketegangan dimensional 

Ketegangan "internasionalisasi" perkara keadilan, pun perkara berdimensi moral 
lain seperti kemanusiaan, bukan kabar baru. Belum lekang keberangan Soeharto 
atas Belanda yang "sok mengajari kita perkara kemanusiaan", bak lupa pernah 
menjajah kita. Peristiwa ini berbuntut pada pembubaran Inter-Governmental Group 
on Indonesia (IGGI). 

Michael Walzer dalam Thick and Thin: Moral Argument at Home and Abroad (1994) 
menyebutnya sebagai ketegangan antara "tebal" dan "tipis" dalam moralitas. 
Maksudnya, antara maksimalisme moral dan minimalisme moral. 

Dimensi lokal moralitas bersifat maksimal. Kesamaan orientasi (sejarah, budaya, 
agama, dan politik) memudahkan "persamaan" perasaan moral. Kesamaan 
idiomatiknya mengandaikan baku appropriasi konseptual lebih meruang dan mewaktu 
sehingga lebih mendalam. Ketebalan titik singgung ini lebih memudahkan-dalam 
jargon Harmoko-"sambung rasa" antarpengembannya. 

Sementara itu, dimensi global moralitas cenderung minimal. Betapapun gradual 
dan berbeda-beda, terjadi diskursivitas relatif orientasi sosiohistoris 
antarpengemban. Keragaman proses appropriasi dalam menghirup partikel-partikel 
sosiohistoris moralitas mengakibatkan titik singgungnya tipis, yakni pada 
konteks krisis personal, sosial atau politik "tertentu" saja. 

Utopia Esperanto 

Dari konteks praksis politik global, kegelisahan nasionalistik itu lebih mudah 
dipahami. Bersama berlalunya perang dingin dan demoralisasi sosialisme, tertib 
politik ekonomi dunia hanya menyisakan rel tunggal neoliberal. Para aktor 
utamanya, seperti AS, IMF, dan Bank Dunia, tidak cuma melakukan hegemoni makna, 
tetapi juga kerap berbuat seenak sendiri, seperti kita saksikan di Irak. 

Maka, kegelisahan ini bisa dipahami sebagai ekspresi tak rela atas 
ketakberdayaan sebuah "politik perbedaan" berhadapan dengan sebuah ideologi 
yang hampir-hampir menjadi "universal". 

Kalangan yang percaya perkara seperti ini bisa dilihat clear and distinct dalam 
kacamata "kebenaran" tunggal, seperti tercermin lewat jargon global justice, 
perlu mengingat betapa moralitas adalah perkara sosiohistoris juga. 
Keterlekatan (embeded) sosiokultural dan keterpaduan historisnya 
menyenantiasakan kontekstualitas sehingga tak pernah obyektif dan bebas 
artikulasi. Termasuk tiap bentuk minimalisme moral, karena keterikatannya pada 
moralitas maksimal tertentu sejak kelahirannya. 

Dalam konteks inilah pengakuan akan generasi ketiga HAM, yakni atas hak-hak 
komunitas, atas multikulturalitas sebagai perwujudan politik perbedaan, harus 
dipahami. Sebuah kesadaran akan limit dari globalisme. 

Sebutan "masyarakat manusia" menjelaskan ketegangan dimensional ini. Sebagai 
masyarakat kita partikular, sebagai manusia kita universal. Adalah utopia coba 
membuat kata sifat yang universal itu (manusia) menjadi dominan mengungguli 
kata benda (masyarakat). Bagi Walzer, bak utopia Esperanto-penciptaan bahasa 
persatuan bagi segenap manusia-upaya babilis ini akan gagal. Belum lagi biaya 
koersifnya. 

Pengerucutan tribalistik 

Sejak awal, moralitas cenderung tebal, terintegrasi secara sosiokultural, 
mengandaikan gema sosiohistoris sebuah masyarakat. Betapapun, dalam perspektif 
ini, kesadaran dimensional perlu dipelihara agar tak terperosok menjadi 
tribalisme. 

Penolakan serba bukan nasional mudah memerosokkan pada lokalisme sempit. 
Penyangatnya bisa mengkhawatirkan. Terlepas skala demografisnya, dikotomi 
global versus nasional sejajar dengan nasional versus lokal/domestik. Inilah 
ketegangan derivatif di balik persoalan perda syariat atau penolakan 
Undang-Undang Kekerasan dalam Rumah Tangga. Politik perbedaan menyangat eksesif 
menjadi politik identitas, atas nama kedaulatan identitas, lokalitas, domestik. 

Penerimaan atas moralitas minimal, misalnya deklarasi HAM, amat penting. Tidak 
saja atas nama solidaritas sesama manusia, tetapi juga atas nama kritisisme. 

Moralitas minimal, seperti kemanusiaan dan keadilan, masih butuh 
kontekstualisasi sebuah kedaulatan agar, misalnya, menjadi kerangka kerja 
konsep kesetaraan yang operasional. Namun, utopia aksiologis semacam itu tetap 
dibutuhkan sebagai orientasi nilai tempat praksis artikulasi mengacu, karena 
setiap bentuk kedaulatan berkecenderungan eksklusif. Berkecenderungan 
menyingkirkan para pihak lain kalau kita tidak waspada. 

Jadi, menjaga ketegangan dimensional tebal/tipis dalam argumen moral merupakan 
prinsip kehati-hatian dalam menimbang perkara semacam ini. Tanpa kesadaran akan 
kompleksitas ketegangan dimensional ini, jangan-jangan perkara tebal/tipis kita 
dalam persoalan hukum dan moral tetap sekadar: tebal muka, tipis kuping. 

BUDIARTO DANUJAYA Pengajar Filsafat Politik, Departemen Filsafat FIB-UI 

Kirim email ke